
"Bryan makan malam sama Nenek, Kakek dulu, ya. Ayah mau antar makanan buat Bunda."
Bryan hanya mengangguk patuh. Sudah sejak kemarin ia makan tidak ditemani oleh kedua orang tuanya. Meski nafsu makannya berkurang, ia tetap memakan habis makanan yang sudah diambilkan oleh ayahnya.
Begitu makanan di piringnya sudah habis, Bryan minta izin kepada semua orang untuk kembali ke kamar.
"Nanti Om susul, ya. Om tidur sama kamu aja."
"Om Nino mau tidur sama aku? Tempat tidurku, kan nggak besar. Mana bisa buat dua orang?"
"Bisa. Gampang itu, mah."
***
Shaka yang pikirannya sedang bercabang sedikit tidak fokus menyuapi istrinya, pria itu menyuapi makan malam dengan sedikit melamun. Dan hal itu terbaca oleh Nimas.
"Mikirin apa sih, Mas? Kayak ada yang dipikirin."
"Ha? Nggak ada. Masin hanya merasa kurang tidur aja kok, Dek. Biasa, kan orang tua yang baru menerima bayi pasti akan merasakan ini." Shaka tidak ingin bicara jujur, ia khawatir Nimas juga ikut memikirkan apa yang ia pikirkan hal itu tentu saja tidak baik untuk dirinya yang sedang menyusui buah hati mereka yang baru lahir.
Namun, kekhawatiran yang Shaka rasakan malah diutarakan oleh istrinya. Wanita itu sebenarnya juga merasa kalau ada yang berbeda dari anak sulungnya. Hanya saja belum ada kesempatan dan waktu untuk bicara dari hati ke hati dengannya.
"Mas, kamu merasa ada yang beda dari Bryan nggak? Dari kemarin dia diem aja. Lihat adiknya juga nggak."
"Jangan mikir yang nggak-nggak. Pikiran kamu sekarang sangat berpengaruh dengan produksi asi kamu, jadi tolong jangan memikirkan itu. Kalau kamu memang merasa khawatir dengan hal itu, biar Mas nanti yang bicara sama Bryan. Biar Mas yang cari tahu."
Merasa yang diucapkan suaminya benar adanya, ia hanya mengangguk lemah.
"Si kembar udah tidur nyenyak, udah kenyang, sekarang kamu juga tidur. Mas mau makan dulu, ya."
__ADS_1
Bukan makan tujuan Shaka. Ia ingin menuntaskan rasa penasaran yang sejak tadi sudah bersarang di kepalanya. Beberapa kali mengetuk pintu, tiba-tiba saja pintu terbuka dari dalam.
"Lah, kamu tidur sini? Sempit-sempitan sama Bryan?"
"Biar ada temennya aja, Kak. Lagian nanti kalau Bryan butuh apa-apa biar nggak ganggu istirahat kalian. Kakak mau ketemu Bryan?"
"Iya. Udah tidur dia?"
"Belum. Kayaknya ada yang mengganggu pikirannya. Dari tadi dia murung, diam. Diamnya nggak kayak biasanya."
"Nah ini Kakak juga mau tanya. Keluar dulu, sana. Mana ada anak bujang jam segini udah mengurung diri di kamar." Shaka menarik tangan Nino agar segera keluar kamar. Laki-laki yang baru menginjak usia matang itu hanya menurut saja dengan perlakuan sang Kakak ipar.
"Kak Bryan lagi ngapain?" Shaka berjalan ke arah anak sulungnya dan duduk di dekat anaknya yang sedang menyusun puzzle.
"Nggak ngapa-ngapain. Aku lagi bosen jadi aku mainan ini." Bryan menjawab dengan masih fokus yang masih pada mainannya.
"Kak Bryan seneng nggak, sih punya adik?"
"Udah lihat wajah adiknya belum?"
Bryan hanya menggeleng.
"Kenapa? Kakak boleh kok kalau mau lihat. Mau lihat sekarang juga bisa, tapi adiknya lagi tidur. Jadi nggak bisa diajak main."
"Ya udah besok aja aku lihat. Lagian adik juga udah dilihat semua orang. Udah di sayang sama semua orang." Entah sadar atau tidak Bryan mengatakan itu.
"Kakak lagi marah sama Ayah? Kok dari tadi Ayah ngomong nggak dilihat mukanya. Kakak tahu, kan kalau yang Kakak lakukan tidak sopan?"
Bryan lalu mengemasi mainannya dan menghadap ke arah Shaka.
__ADS_1
"Sekarang Kakak cerita apa yang ada di pikiran Kakak. Kakak lagi berantem sama temennya? Apa ada yang lain? Kakak nggak biasanya kayak gini. Kakak nggak biasa bohong sama Ayah, nggak biasa nangis juga, terus tadi Ayah lihat Kakak lagi nangis. Pasti ada yang melukai hati Kakak, kan."
Bryan diam. Ia ragu hendak bicara jujur. Ia sadar ia bukan anak Shaka yang tidak seharusnya meminta perhatian lebih darinya. Apalagi menanyakan soal nama. Meskipun ia tahu ayahnya bermarga sama, entah kenapa ia merasa ia seperti tidak diharapkan. Pikiran seperti ini sebelumnya tidak pernah terlintas di kepala Bryan. Namun, mendengar nama Narendra yang tersisip di nama kedua adiknya, membuat Bryan mau tak mau memikirkan hal itu.
"Aku cape, Yah."
Setelah sekian lama diam, Shaka berpikir bahwa Bryan akan bicara jujur. Namun nyatanya, ia kembali mengalihkan topik dengan beralasan ia lelah. Sangat sulit bagi Shaka untuk menembus dinding yang diciptakan oleh anak sulungnya itu. Sebelumnya tidak pernah ia melihat anaknya seperti ini. Dan sekarang setelah terjadi perubahan dalam sikapnya, ia sedikit gelagapan dan bingung bagaimana caranya agar anaknya itu terbuka dengannya.
Menjadi orang tua tidak semudah ketika para orang tua membuat mereka hadir di dunia. Menjadi orang tua belajarnya memang seumur hidup, ada saja yang harus dipelajari dan dipahami oleh para orang tua. Entah orang tua lama atau orang tua baru mereka tetap sama-sama belajar memahami anaknya.
Shaka sendiri bukan tipe orang memaksakan kehendaknya pada orang lain atau orang-orang di sekitarnya. Seperti yang sedang dihadapi di dalam kasus Bryan sekarang ini. Bukannya tidak peduli, tapi ia lebih menginginkan Bryan bercerita dengan sendirinya tanpa harus didesak atau dipaksa.
Shaka sudah berusaha memancing anaknya itu, tapi sepertimya usahanya atau caranya masih salah. Sehingga ia memutuskan untuk kembali diam, ia akan mencari cara yang tepat agar Bryan bersedia bicara tanpa dipaksa atau di desak. Ia yakin, jika ia melakukan itu, anaknya itu tidak akan merasa nyaman dan malah semakin tertutup padanya.
"Cape, ya? Ya udah tidur. Ayah temani, Ayah pijitin. Yang cape yang mana?"
"Ayah nggak nemenin adik sama Bunda aja?"
"Mereka udah tidur. Saatnya Ayah sekarang sama Kakak."
"Kenapa Ayah terus memanggilku Kakak?"
"Kan sekarang Kak Bryan udah jadi Kakak. Senang nggak ada temennya di rumah. Sekarang belum bisa diajak main, sih. Nanti tunggu beberapa bulan lagi bisa diajak main. Kakak sayang nggak sama adik?"
Bryan nampak berpikir. Jika dikatakan sayang, ia merasa kehadiran mereka merebut perhatian semua orang dan sedikit melupakannya. Jika dibilang tidak sayang, mereka adalah adiknya.
Dari diamnya Bryan, Shaka sudah mulai mengerti di mana letak kesalahannya. Meskipun masih menduga, ia berpikir bahwa perubahan anak sulungnya berasal dari kedua anaknya yang baru saja lahir.
Apa Bryan merasa cemburu? Apa dia takut kalau orang tuanya hanya memperhatikan adiknya dan lupa sama dia?
__ADS_1
"Sayang," jawab Bryan akhirnya. Ia menjawab dengan menundukkan kepala dan sangat lirih.