Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
117. Pembicaraan Pria


__ADS_3

"Ya nggak apa-apa. Ayo kita pulang sekarang!" Dinda menggeret pria yang baru datang tadi.


Nino tak mampu berucap, bibir dan lidahnya terasa kompak untuk kaku dan terkunci rapat. Bahkan, matanya saja juga seakan terkunci untuk terus menatap mereka yang pergi semakin jauh. Hilang sudah semua hasrat yang tertahan untuk ke kamar mandi. Dengan hati yang patah, semangat yang hilang, dan juga tubuh yang mendadak lemas ia kembali berjalan menuju tempat di mana semua anggota keluarganya berkumpul.


"Mau pesan apa?" Shaka menyodorkan menu.


Raga Nino berasa di tempat yang sama dengan keluarganya, namun tidak dengan jiwanya, entah ke mana perginya jiwa Nino. Ia hanya memandang buku menurut itu dengan tatapan kosong.


Cinta dan kekasih pertama, tidak ada yang tidak merasakan sakit jika mereka ditinggalkan begitu saja. Semua orang pasti akan merasakan sakit yang sama seperti Nino jika cinta tulus mereka disepelekan seperti itu.


Dinda tidak salah sepenuhnya, kamu yang kelamaan. Kamu kurang jantan sebagai laki-laki.


Nggak, kamu nggak salah. Jangan salahkan diri sendiri hanya karena takdir Tuhan yang tidak sesuai ekspetasi. Dia bukan jodohmu, simple.


Tapi kalau kamu melangkah lebih cepat sedikit, kamu nggak akan kehilangan cinta pertama mu. Kamu yang jaga dia dan membuat Dinda seperti sekarang. Orang lain yang dapat.


Nino tenggelam dalam pertengkaran batin dirinya sendiri. Dadanya terasa bergemuruh hebat merasakan sakit hati yang tertahan dan tak bisa ia perlihatkan.

__ADS_1


"Nino, kamu pesan apa?" Shaka mengulangi pertanyaannya seraya menepuk pelan lengan pria itu.


"Ha? Iya, kenapa?"


Semua orang hanya saling pandang.


"Pesan apa?"


"Oh, samain kayak Ayah atau Ibu aja, Kak. Aku makan apa aja bisa. Minumnya juga samain aja." Nino sedikit canggung dan salah tingkah.


Bukan Shaka namanya jika ia tidak membaca mimik yang dicetak oleh Nino. Pria yang dikenal memiliki kepekaan tinggi itu tentu melihat ada yang ganjal dengan adik iparnya, seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.


***


Puas dengan tamasya hari ini, mereka semua pulang tepat pukul tujuh. Pulang dengan hati senang dan perut kenyang. Ada banyak barang yang ia beli untuk seluruh anggota keluarga, termasuk semua pekerjanya yang bekerja di rumah besar Narendra.


Sampai rumah semuanya masuk ke peristirahatan paling nyaman, di mana lagi kalau bukan kamar mereka masing-masing. Shaka yang teringat dengan sikap Nino tadi berencana untuk mengajaknya ngobrol dari hati ke hati sebagai sesama pria.

__ADS_1


"Ada masalah apa, No? Kalau kamu nggak ada tempat untuk cerita, kamu bisa cerita ke Kakak. Kakak lihat dari tadi kamu kayak nggak ada selera untuk bersenang-senang seperti yang lain." Seperti biasa, Shaka tidak suka basa-basi, ia lebih senang jika membicarakan sesuatu yang serius langsung pada intinya.


"Aku tadi ketemu sama seseorang yang selama empat tahun terakhir mengisi hati aku. Jadi aku tuh, punya pacar kak di kampung. Udah lebih dari sebulan dia ngilang tanpa kabar. Aku cari ke rumahnya juga nggak pernah ada orang, nomornya nggak aktif, nggak bisa aku hubungi, dan tiba-tiba tadi aku ketemu dia sama laki-laki lain. Aku nggak tahu pasti gimana ceritanya dia bisa ke sini dan bisa di sini. Apakah dia pindah ke sini atau gimana, aku nggak paham. Dia cuman bilang kalau aku terlalu lama untuk menikahinya. Jadi dia dijodohin sama orang tuanya."


"Jadi ini yang buat kamu sedih, yang buat kamu sama sekali nggak fokus pas makan tadi? Kamu patah hati? Gimana, ya ngomongnya? Kakak tahu sih rasanya jadi kamu itu kayak gimana, pasti sakit, pasti sedih, dan terluka. Tapi kalau bisa kamu harus secepatnya untuk bangkit. Kamu masih muda, masa depan kamu masih panjang, kamu masih punya kesempatan banyak untuk mencari istri, asal kamu memberikan yang terbaik untuk dirimu sendiri. Love yourself. Ini nggak akan mudah, ini sudah pasti sangat sulit, karena empat tahun itu bukan waktu yang sebentar. Seseorang melupakan orang yang dicintainya tidak semudah ketika dia jatuh cinta. Sulit bukan berarti tidak mungkin, kamu harus percaya pada dirimu kalau kamu bisa melewati ini semua dengan baik. Kakak yakin kamu bisa melupakannya ketika kamu fokus pada orang-orang yang berada di sekelilingmu." Shaka terdiam sejenak meneliti raut wajah yang tercetak di wajah Nino.


"Percaya nggak percaya, Kakak jatuh cinta sama mbakmu hanya membutuhkan waktu beberapa bulan saja. Bahkan mungkin Kakak jatuh cinta dengan mbakmu setelah menikah dengannya. Mungkin Kakak nggak menyadarinya. Padahal Kakak sama mbakmu nggak kenal sama sekali. Jangankan kenal, ketemu aja nggak pernah. Tapi lihat sekarang, Makak bahagia sama wanita yang bahkan bukan pilihan Kakak. Jangan terus-terusan sedih begitu, kamu harus tunjukkan ke dia kalau kamu bisa tanpa dia. Kamu bisa mencari ganti yang lebih baik. Kalau dia bisa menerima perjodohannya dengan laki-laki lain, itu artinya cinta dia buat kamu nggak sebesar cinta kamu buat dia. Mungkin sekarang dia juga merasakan sakit yang sama seperti kamu, karena dipaksakan menikah dengan laki-laki yang tidak dicintainya. Tapi kalau cinta dia ke kamu sama besarnya, dia pasti akan berusaha untuk menolak secara halus atau tidaknya mengulur waktu sampai kamu siap menikahinya. Simple, kan?"


"Ayolah Nino, kita ini pria-pria tampan. Tolong jangan merasa duniamu hancur hanya karena sebuah wanita."


Jika dipikir menggunakan logika benar juga banyak dikatakan Shaka. Bukankah masih banyak wanita di luar sana yang jauh lebih baik dari Dinda?


"Aku akan berusaha, Kak. Akan aku tunjukkan pada semuanya kalau aku dan duniaku sedang baik-baik saja."


"Nah gitu dong, itu baru namanya jantan. Ngomong-ngomong sampai sekarang kamu belum berhasil bujuk Ayah untuk pindah ke sini?"


"Ayah masih tetap ada pendiriannya, Kak."

__ADS_1


"Sebenarnya Kakak ini hanya sedikit kepikiran sama Nimas. Sejak hamil dia katanya pengen deket terus sama Ibu, dia juga memikirkan orang tuanya. Kakak paham lah soal itu, jarak rumah kita jauh, nggak setiap bulan ketemu. Sedangkan usia mereka semakin hari semakin bertambah angkanya dan itu pasti membuat kesehatan mereka semakin lama semakin turun. Bukan berpikir apa-apa, tapi Nimas juga pengen kalau dia itu dekat dengan orang tuanya juga di hari tua mereka. Nggak ada anak yang ingin jauh dari orang tuanya terus-menerus, No. Setidaknya kalau kita tinggal di satu kota yang sama, kan kita enak kalau saling mengunjungi."


"Akan aku coba lagi, Kak nanti. Akan aku jadikan alasan patah hatiku ini untuk dapat iba dari Ayah."


__ADS_2