
Setelah pulang dari liburannya, sepasang suami istri yang tengah bahagia itu kini sedang melakukan syukuran atas kehamilan Nimas yang sudah berusia delapan minggu. Dan kabar yang lebih membahagiakan lagi adalah janin yang dikandung Nimas berjumlah dua alias kembar. Sungguh kebahagiaan yang berlipat ganda bagi sepasang suami istri itu.
Hamil anak kedua ini tidak jauh berbeda dengan saat hamil Bryan. Bahkan Nums sama sekali tidak mual, justru yang merasakan mual dan muntah adalah Shaka. Wanita itu hanya ada perubahan dalam tingkahnya. Jika biasanya ia sangat manja kini setelah hamil justru kemanjaan yang membuat Shaka geleng kepala hilang seketika.
"Jangan peluk, Mas. Aku nggak mau." Nimas mengembalikan tangan Shaka yang sempat mampir di sepanjang pinggangnya.
"Kenapa? Biasanya juga kamu sendiri yang minta dipeluk."
"Aku nggak mau." Nims bangkit dari berbaringnya dan mengambil guling yang sejak awal mereka menempati kamar itu telah tersimpan rapi di lemari. "Pembatas," ujar Nimas singkat.
Shaka garuk-garuk kepala yang tidak gatal bagaimana bisa istrinya itu berubah secepat ini? Bahkan kemarin perubahan Nimas tidak signifikan seperti ini.
"Sejak kapan ada pembatas di antara kita?"
"Sekarang!" Nimas berbaring kembali dan memejamkan mata.
Shaka menghembuskan nafas kasar, ia lalu menghempaskan tubuhnya keranjang. Ia seakan tidak bahwa perubahan Nimas setelah hamil benar-benar terlihat. Bahkan kini saat tidur saja wanita itu membelakanginya. Sementara dirinya justru ingin memanjakan Nimas seperti biasa.
***
Dihari yang masih sangat pagi, bahkan matahari saja belum memperlihatkan sinarnya, Shaka sudah berada di kamar mandi dengan suaraku khas orang hamil. Nimas yang masih tertidur nyenyak menjdi terbangun karenanya.
"Kenapa? Mual lagi? Yang hamil kamu atau aku, sih Mas?"
"Pijitin, Dek. Bukan diomelin." Shaka protes dengan lemah tak berdaya.
"Ya udah aku buat teh hangat dulu." Alih-alih mengindahkan permintaan suaminya, Numas justru melipir pergi ke luar kamar.
__ADS_1
"Dek, Mas minta pijit bukan teh. Astaghfirullah."
Nimas tak menghiraukan teriakan Shaka yang terdengar dipaksa karena ia kehabisan tenaga. Ia terus berjalan dengan santai ke arah dapur.
"Nimas,ngapain kamu ke sini? Kamu jangan cape-cape, kandungan kamu masih sangat muda. Udah jangan bantu di dapur biar Mama sama Bibi aja."
"Aku mau buat teh buat Mas Shaka, Ma. Dia mual-mual lagi."
"Mual lagi? Kamunya menter dianya yang loyo. Ya udah Kamu duduk di meja makan biar Mama yang buatkan."
Bu Marissa benar-benar memanjakan Nimas, wanita itu tidak mengizinkan Nimas melakukan apa pun sejak Nimas hamil.
Dan sikap Bu Marissa itu tetap bertahan hingga kehamilan Nimas yang memasuki usia tujuh bulan. Hamil kembar membuat ukuran perut Nimas terlihat lebih dua kali lipat lebih besar dari usia kandungan pada umumnya.
Seperti wanita hamil pada umumnya, merasa tak nyaman melakukan apa pun saat perut membuncit adalah hal yang pasti dialami oleh semua wanita. Tak terkecuali Nimas yang juga tak bisa bergerak bebas karena perutnya yang terasa berat, apalagi tubuhnya yang mungil dan tidak tinggi membuat dirinya nampak lebih pendek. Jika sudah bercermin, ia pasti akan uring-uringan karena merasa dirinya sangat pendek dan gemuk.
Entah apa yang salah dengan kehamilan kedua ini? Nimas sama sekali tidak ingin didekati oleh suaminya. Bahkan hanya untuk sekedar mengobrol atau mengelus perutnya saja tidak Nimas izinkan. Jadi mau tidak mau Shaka melakukan interaksi dengan si kembar di saat Nimas sudah benar tertidur pulas.
Hingga kini pun Shaka tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu. Jika memang ini pengaruh hormon atau pengaruh kehamilannya, kenapa ia bisa setidaknyaman itu dan sebenci itu pada dirinya. Pria yang notabenenya membuat dirinya hamil. Ia sampai detik ini masih berpikir apakah yang di rasakan Nimas ini adalah hal yang wajar?
"Dek, kapan belanja keperluan si kembar? Kamu jangan ngemil mulu, pas lagi cerminan suka ngamuk gara-gara badan, tapi ngemil terus." Mode julid Shaka sedang on.
Beberapa bulan terakhir Shaka sering berkata julid jika Nimas tidak bisa diberitahu atau kesabarannya sudah mulai kendor. Meskipun berusaha untuk menambah level sabarnya, Shaka juga hanya manusia biasa yang memiliki amarah dan lelah. Namun, sejauh ini ia tidak pernah marah besar pada istrinya itu. Karena ia tahu jika perubahan Nimas ini hanyalah sementara.
"Aku hamil dua anak. Apa pun yang aku makan akan di makan dua anak. Jadi aku harus makan dua kali lipat. Kamu nggak suka aku gemuk?"
"Siapa yang nggak suka? Kan kamu yang marah, ngambek, ngamuk kalau lagi bercermin. Ngeluh yang badan melebar lah, yang gendutan lah, pendek, jelek. Itu yang selalu kamu bilang, kan?"
__ADS_1
"Kok kamu jadi ikutan ngatain aku?"
"Lah, kamu yang bilang, Dek. Mas cuman ikutin kamu ngomong pas bercermin. Serius nggak bermaksud ngatain."
Nimas cemberut, namun mulutnya masih sibuk mengunyah. Meskipun sering mengeluh mengenai bentuk tubuhnya, ia tidak pernah berhenti mengunyah.
"Ya udah tapi, ya nggak usah diikuiti juga. Kan bisa kamu hibur aku, bilang kamu tetep cantik, kek apa, kek gitu."
"Astaghfirullah, memang selama ini Mas selalu bilang apa pas kamu ngatain diri sendiri begitu?"
"Kamu selalu bilang, nggak kok kamu nggak gemuk di mata Mas. Kan kamu lagi hamil, semua orang akan berubah badannya pas hamil. Nanti balik lagi. Kamu nggak pernah bilang aku cantik."
Shaka hanya memperpanjang istighfar dalam hati. Jika ia kembali menjawab atau menyanggah ucapan istrinya, maka perdebatan ini hingga beberapa hari tidak akan pernah ada selesainya.
"Ya udah kapan mau belanjanya? Kamu Mas suruh belanja di online aja nggak mau, katanya mau lihat langsung barangnya. Sekarang Mas tanya nggak dijawab."
"Harus sekarang banget?"
"Ya mau gimana? Bentar lagi kandungan kamu udah delapan bulan. Mas takut kalau nanti lahirannya lebih cepat dan kita nggak ada persiapan apa-apa."
"Ya udah deh, ayo berangkat sekarang!" Nimas lalu bangkit dari duduknya dan merogoh laci uang berasa di laci TV rumah tengah. Mengambil kantong tas belanja di sana dan memasukkan cemilannya ke dalam tas. Shaka hanya menghela nafas berat.
Sebenarnya tidak masalah bagi Shaka, Nimas ingin memakan apa pun dan sebanyak apa pun. Hanya saja dirinya tak mau jika anak Nimas terlalu besar di dalam dan itu akan menyulitkannya. Apalagi mengingat Nimas kekeh ingin melahirkan normal dengan kondisi yang hamil dua bayi sekaligus. Shaka yang teringat dengan momen melahirkan Bryan saja ia barengi dengan tangisan, bagimana nanti jika istrinya itu melahirkan dua bayi?
"Dek, berhenti nyemilnya, yuk. Nanti ajak kalau merasa lapar kamu makan lagi. Ingat kata Mama, jangan besarkan anak di dalam perut. Besarkan di luar saja. Nanti kamu melahirkannya berat, katanya mau normal. Kata dokter berat badan mereka juga normal, Dek. Apa mau operasi aja? Bayangin kamu lahiran normal dengan dua bayi gendut. Pasti nggak bisa. Ini boleh di bawa, tapi di makan pas perjalanan pulang. Nanti kalau di mall lapar, kita bisa makan di sana."
Untuk pertama kalinya selama hamil, Nimas menuruti apa yang dikatakan oleh suaminya itu.
__ADS_1