
"Percayakan semua padaku, Nimas. Aku adalah laki-laki yang akn menjadi calon suamimu. Jadi kamu harus nurut sama aku. Sekarang, aku harus ke kantor. Nanti sore aku antar ke dikter. Kamu nggak apa-apa, kan sendirian? Ini ada nomor aku, kamu bisa hubungi aku kalau ada apa-apa." Shaka menyerahkan sebuah kartu nama yang tertera nomor pribadinya.
"Iya. Terima kasih."
Shaka berlalu dari sana. Ia cepat-cepat ke kantor tanpa menurunkan tas milik Nimas, nampaknya pria itu melupakan tas yang masih ada dalam bagasi mobilnya.
Beberapa meter meninggalkan pekarangan rumah Bryan, dering ponsel Shaka kembali berdering.
Raisa. Itulah nama yang tertulis di layar benda pipihnya. Membaca deretan huruf yang berjejer membuat Shaka ingat bahwa urusannya dengan gadisnya itu belum usai. Semalam gadis itu pergi dengan amarah dan air mata yang datang bersamaan.
"Iya, Raisa?"
"Kamu ke mana aja, sih? Dari tadi aku telepon nggak diangkat," seru Raisa marah.
"Iya maaf. Aku tadi nggak dengar. Ada apa?"
"Ada apa? Kamu lupa hari ini mau antar aku ngampus? Kamu udah janji beberapa hari yang lalu."
"Ya ampun, aku lupa. Maaf, ya udah aku ke sana sekarang. Sekalian ada yang mau aku omongin."
Ya, Shaka berencana akan memutuskan hubungannya dengan Raisa. Keputusan yang sudah pasti akan menyakiti dirinya sendiri. Ia sudah berkorban banyak hal di sini, namun semua orang menyudutkan dirinya. Tidak ada yang mau di posisi Shaka, tapi semua orang-orang seolah menggampangkan sakit hati yang sebenarnya juga ia rasakan.
"Mau ngomong apa? Jangan bilang kamu mau bahas yang kemarin, ya." Perasaan Raisa sudah merasa tak enak rupanya.
"Iya, mau bicara apa lagi? Maafkan aku Raisa, bukannya aku nggak sayang sama kamu. Tapi aku nggak bisa... "
__ADS_1
"Sudah cukup, Shaka! Kalau kamu mau nikah sama dia, nikah aja. Tapi kamu harus menjaga diri kamu buat aku. Jangan sentuh dia, jangan biarkan dia sentuh kamu. Setelah dia melahirkan, kamu harus ceraikan dia. Keputusan aku tetap sama seperti kemarin, Shaka. Dan selalu akan begitu, aku nggak mau hubungan kita berakhir begitu saja. Hubungan kita baik-baik saja dan nggak ada masalah. Kita harmonis selama ini, hubungan kita nggak di dapat oleh semua orang. Dan kamu mau mengakhirinya begitu saja? Nggak bisa, Shaka. Hubungan kita akan tetap berlanjut. Titik."
Sambungan telepon terputus setelah itu. Shaka melempar ponsel ke kursi penumpang yang berada di samping kirinya. Lagi-lagi ia menghembuskan nafas panjang. Raisa yang keras kepala itu malah menyakiti dirinya sendiri dengan melakukan ini.
Shaka di ujung kebimbangan. Apa yang dikatakan Raisa memanglah benar. Hubungan yang mereka jalani selama ini baik-baik saja dan tak ada masalah besar. Shaka tidak menyalahkan Raisa sepenuhnya, ia sadar tidak ada yang bisa menerima dengan ikhlas jika hubungan selesai begitu saja karena masalah yang ditimbulkan oleh orang lain.
"Aku harus gimana, Tuhan."
Shaka! Kamu tidak mencintai Nimas begitu pula sebaliknya. Nggak akan menyakiti siapapun jika kamu masih meneruskan hubunganmu sebelumnya.
Jangan Shaka! Mau bagaimanapun keadaan perasaanmu dan juga Nimas, kalian nantinya akan menjadi sepasang suami istri. Hubungan suci yang tidak bisa dipermainkan. Dosa tidak peduli kamu mencintai istrimu atau tidak. Dosa juga tidak peduli dengan perasaanmu. Kamu akan tetap berdosa jika menjalin hubungan dengan wanita lain di saat kamu sudah menikah.
Nimas bukan tanggung jawabmu, dengan kamu menikahinya saja itu sudah lebih dari cukup. Tindakan kamu ini menyakiti banyak orang hanya untuk mengabulkan permintaan satu orang.
Amanah tetap amanah. Jangan biarkan Bryan dan keluargamu menanggung dosa berkepanjangan dengan menelantarkan bayi yang ada dalam kandungan Nimas.
Argghh
Shaka memukul setir yang berada di depannya. Hati dan logikanya kini sedang bergaduh. Ketidaksinkronan ini membuat Shaka benar-benar ingin menggali lubang untuk dirinya sendiri.
***
"Tas aku mana? Jangan-jangan tertinggal di mobil Shaka." Nimas mengedarkan pandangan ke ruangan di sekitarnya mencari tas yang ia bawa dari rumah kosnya.
Entah sudah berapa lama Nimas berdiri memikirkan apa yang harus ia lakukan. Membiarkan Shaka menikahinya atau harus menanggung aib ini sendirian. Sudah terlintas di kepalanya, ia ingin melarikan diri dari sini. Ia tidak mau menjadi beban Shaka ataupun keluarganya. Ia juga tidak mau menikah dengan seseorang yang tidak mencintainya ataupun ia cintai. Menurut Nimas, hal ini tidak adil bagi Shaka. Anak ini bukan tanggung jawab dirinya, itulah yang memenuhi ruang kepala Nimas.
__ADS_1
Nimas bertekad bulat meninggalkan rumah itu. Tanpa tahu ingin ke mana, ia tak tahu sekarang ada di mana, dan akan pergi ke mana? Sungguh Nimas sama sekali tidak tahu akan berjalan ke arah mana.
Mengikuti kata hati, hanya itu yang bisa Nimas lakukan sekarang. Ia berjalan menyusuri jalanan yang sama sekali tidak familiar di pandangannya. Ia hanya mengikuti langkah kaki yang akan entah ia bawa ke mana.
"Ah." Entah berapa lama Nimas berjalan di trotoar, tiba-tiba saja ia merasakan perutnya yang sedikit kram. Akhirnya ia putuskan untuk beristirahat di sebuah kedai yang menjual ayam bakar.
Nimas ingin makan, tapi melihat ayam yang dibakar saja ia sudah merasa mual. Belum lagi aroma yang menyeruak dan masuk dengan bebas ke dalam hidungnya.
"Mbak bisa saya minta teh hangat satu?" pinta Nimas.
Bukannya tidak punya uang, tapi saat ini ia hanya ingin menghangatkan perutnya. Untunglah tas kecil yang terselempang di pundaknya masih berada dalam dekapannya saat ia pingsan.
"Terima kasih." Nimas segera menyeruput teh hangat itu agar badannya bisa lebih segar.
Dalam diamnya, ia sedang mulai berpikir kembali ingin ke mana. Sempat terlintas di kepalanya bahwa ia ingin pulang kampung saja. Tapi di detik berikutnya, ia tidak siap dengan amukan kedua orang tuanya dan juga rasa malu yang akan mereka tanggung seumur hidup.
Apakah aku harus benar-benar menghadapinya sendirian?
Nimas segera menghabiskan teh hangat itu dan membayarnya lalu meninggalkan kedai. Ia harus melakukan perjalanan yang entah akan berpetualangan ke mana.
Pilihan satu-satunya saat ini adalah ia harus mencari tempat untuk istirahat. Seakan tanpa lelah dan tanpa beban, Nimas terus berjalan di sepanjang trotoar menantang panas matahari yang mulai menyengat. Bahkan peluh-peluh di dahinya sudah mulai terlihat.
Lelah? Jangan ditanya. Siapapun akan lelah berjalan jika perjalanan itu jauh apalagi dalam keadaan yang hamil muda seperti ini. Berkali-kali gadis dua puluh dua tahun itu menyeka dahinya yang penuh dengan peluh.
"Udah siang banget, aku lapar. Tapi aku nggak nafsu makan banget. Beli apa, ya?" gumam Nimas melihat sekeliling barangkali ada sesuatu yang bisa masuk ke dalam perutnya.
__ADS_1
"Ah itu dia. Mudah-mudahan dengan sup buah aku bisa menghilangkan rasa laparku." Nimas berjalan lebih cepat untuk menggapai sup buah yang ramai pengunjung itu.