Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
35. Ibu Mertua Julid


__ADS_3

Sejak hari itu, hari di mana Bu Marissa menikar obat tanpa sepengetahuan siapa pun, semua berjalan dengan normal. Wanita itu tidak lagi usil untuk melakukan sesuatu terhadap Nimas. Karena yang ada dalam pikiran beliau adalah tinggal menunggu waktu untuk saja untuk luruhnya janin Nimas.


Bahkan hingga hari ini, satu minggu setelah kejadian itu Shaka sudah membuat perubahan di sekitar kamarnya. Tanpa sepengetahuan siapa pun Shaka sudah memeasnh CCTV di setiap sudut rumahnya. Hanya dirinya seorang yang tahu, bahkan Nimas tidak tahu jika pergerakannya diawasi oleh Shaka melalui CCTV yang sudah ia hubungkan dengan ponselnya.


Tidak ada yang mencurigakan setelah kejadian terakhir itu. Shaka tak pernah sekalipun melewatkan hari untuk memantau kamarnya. Hanya sesekali saja saja ibunya datang ke kamar, itu pun hanya untuk sekedar mengucapkan kata-kata yang membuat Nimas berkecil hati. Seperti hari ini,


"Kamu udah satu minggu di tempat tidur terus, tidak bosan. Sesekali hanya jalan ke lantai bawah sepertinya tidak masalah. Kamu juga duduk doang, jangan dimanjain. Biar lahiran normal dan lancar."


"Iya, Ma. Nanti aku akan coba untuk beraktivitas pelan-pelan."


"Ya sudah kalau begitu, saya mau pergi. Jangan kebanyakan makan, nanti bayi kamu kegedean di dalam." Bu Marissa berlalu dari sana seperti tanpa dosa.


Shaka memperhatikan raut wajah Nimas yang berubah menjadi murung. Ia melihat Nimas yang sedikit demi sedikit menggerakkan kakinya entah hendak ke mana.


"Mama sangat keterlaluan, dia dan Nimas sama-sam perempuan. Dia pernah hamil, bagaimana bisa Mama begitu ke sesama kaumnya." Shaka menggerutu seraya menekan-nekan ponselnya untuk menghubungi Nimas.


"Hai. Lagi ngapain?" Shaka masih memperhatikan gerak-gerik Nimas melalui ponselnya yang lain. Ia berusaha untuk menekan emosinya agar Nimas tak curiga bahwa ia sedang di pantau.


"Aku lagi nonton TV aja. Aku bosan, aku bingung mau ngapain?" jawab Nimas seraya menurunkan kakinya.


"Kalau kamu bosan, aku pulang sekarang. Kita jalan-jalan. Aku bisa meninggalkan pekerjaan ku di sini. Mau ke mana?"


"Aku nggak mau jalan keluar, mau ke bawah aja. Ke taman belakang kayaknya enak, ya jam segini."


"Ya udah aku pulang sekarang."

__ADS_1


"Nggak perlu, Mas. Aku bisa ke sana sendiri."


Sepertinya Nimas tanpa sadar berucap seperti itu. Bisa jadi ia terlalu tertekan karena dengan ucapan Ibu mertuanya. Setidak peduli apa pun seseorang terhadap omongan orang lain, lama-lama akan menjadi beban juga untuk orang itu.


"Ya udah turun sendiri aja, kamu memang nggak peduli sama janin kamu sendiri. Terus aja egois. Udah sana turun! Aku mau kerja lagi. Kamu susah di kasih tahunya."


Shaka memutus sambungan telepon setelah menegur istrinya dengan sedikit keras. Lalu fokusnya kembali ia arahkan pada ponsel yang memperlihatkan suasana di kamarnya.


Nampak Nimas yang kembali menggerakkan kakinya ke atas tempat tidur.


"Bagus, wanita kecil yang pintar," gumam Shaka mengulum senyumnya.


Bagi Shaka, Nimas tetaplah anak kecil. Memang wajar, karena harusnya dirinya saat ini masih harus menikmati dunianya sendiri dengan segala keinginannya. Menghabiskan waktu dengan teman dan keluarganya, bukan berkutat pada mual, muntah, dan vitamin sepanjang sembilan bulan ke depan.


Namun, ada satu hal yang kurang disukai oleh Shaka. Nimas yang tidak pernah menceritakan apa pun yang diterima olehnya membuat ia berpikir merasa menjadi suami dan laki-laki yang gagal. Ia merasa kurang bisa membuat Nimas nyaman karena istrinya itu tak terbuka dengannya.


***


Nimas kembali menaikkan kakinya setelah mendapat teguran dari sang suami. Ia selalu lemah jika berhadapan dengan Shaka, kata pria itu pintar membuat Nimas tak berkutik dengan membawa bawa janin yang ada dalam kandungannya.


Nimas tak terbuka soal Ibu mertuanya bukan tanpa alasan. Alasannya hanya satu dan tak akan pernah berubah, ia tak mau membuat hubungan Ibu dan anak itu akan renggang jika ia menadu apa pun yang ia terima di rumah. Ini sudah resiko dan dirinya sendiri yang meminta untuk tinggal dengan mertuanya.


Di lain tempat, Bu Marissa dan Raisa sedang menghabiskan waktu bersama. Apalagi yang mereka bicarakan selain Nimas dan Shaka.


"Tahun juga bingung, kenapa Nimas sampai sekarang baik-baik saja. Padahal sudah seminggu, padahal kata yang jual tiga sampai empat hari sudah bereaksi."

__ADS_1


"Apa jangan-jangan nggak diminum sama Nimas?"


"Mana mungkin? Itu, kan vitamin untuk penguat kandungan. Pasti diminum. Kita tunggu sampai besok, nanti Tante akan cari cara lagi kalau memang sampai besok nggak ada reaksi."


Bu Marissa, seorang Ibu dan wanita yang pernah berada di posisi Nimas, sedang berjuang untuk menjadi seorang pembunuh. Ia tak mau menerima cucu dari seorang Nimas yang beliau rasa hanya ingin uang dan harta benda yang dimiliki keluarganya. Bibit, bebet, bobot yang tidak jelas di mata wanita itu membuatnya hilang akal dan hati nurani.


Dan rencana yang pernah terpikir oleh Bu Marissa benar-benar beliau lakukan dua hari berikutnya. Merasa obat yang beliau tukar tidak bekerja dengan baik, akhirnya beliau memilih cara lain untuk mencapai tujuannya.


"Nimas, kamu sudah mandi? Ini sudah hampir sore. Shaka belum pulang?"


"Belum Ma, mungkin masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Ini aku juga mau mandi, tapi nunggu Bibi. Kayaknya masih melakukan pekerjaan lain."


"Ayo saya bantu ke kamar mandi, saya ambil pakaian gantinya dulu." Bu Marisa lalu berjalan menuju lemari dan membukanya, lalu mengambil satu pakaian untuk Nimas.


Nimas yang dasarnya polos, tidak menarug kecurigaan apa pun tehadap Ibu mertuanya. Ia menurut saja di tuntun oleh Bu Marissa ke kamar mandi.


Begitu Nimas masuk ke kamar, Bu Marissa. Mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Hanya botol kecil yang berisi cairan yang bisa membuat licin lantai.


"Nimas, saya keluar dulu, ya. Ada yang telepon saya. Nanti saya kembali!" teriak Bu Marissa di dekat pintu kamar mandi.


Setelah mendapat jawaban dari Nimas, Bu Marissa meninggalkan kamar dengan senang hati dan senyum yang mengembang sempurna. Beliau yakin rencana kali ini tak akan gagal. Nimas tak bisa menghindari lantai yang licin ini.


Sepuluh menit berada di kamar mandi, Nimas selesai dengan pakaian ganti yang sudah rapi. Ia meneliti sudut kamar begitu membuka pintu kamar mandi.


"Mama mana? Masih ada urusan kali, ya. Ya udahlah jalan sendiri pelan-pelan."

__ADS_1


Nimas berjalan dengan pelan, sudah hampir sampai ranjang dan tiba-tiba


"Aaaa."


__ADS_2