
"Ayah baik sama aku, Ayah sayang sama aku. Nggak mungkin aku nggak mau punya Ayah kayak ayah Shaka."
"Nah, itu kamu ngerti. Yang penting, kan Ayah sayang sama kamu. Terus kenapa masih kesel, kenapa masih ngambek kalau tahu Ayah ini bukan ayah kandung kamu? Ayah sama Bunda itu nggak bohong sama kamu, Nak. Kita tidak cerita itu pasti juga untuk kebaikan kamu. Sekarang gini, loh." Shaka membenarkan ketak duduknya agar nyaman.
"Kamu masih kecil, kamu belum mengerti seratus persen, belum mengerti sepenuhnya kalaupun kita cerita. Jadi, untuk memberitahu sesuatu itu, kita harus tahu dulu, orang itu ngerti nggak sama apa yang kita sampaikan? Bisa memahami atau tidak? Secara mental pun kamu belum siap untuk menerima ini semua. Untuk menerima kenyataan siapa kamu sebenarnya itu kamu belum siap, belum saatnya. Ayah nggak nyalahin kamu kok kalau kamu ngambek, marah, kesel sama Ayah atau Bunda. Tapi marahnya nggak boleh lama-lama, kan Bunda sama Ayah selalu bilang kalau marah lebih dari tiga hari sama orang itu nanti akan jadi...."
"Dosa."
"Nah, kan pinter anak Ayah. Meskipun kamu bukan anak kandung Ayah, ayah itu sayangnya sama kamu sama kok sama Bunda. Kasih Sayang Ayah nggak kepala besar kayak Bunda, kan? Ayah kasih tahu, ya, Nak. Kalau kamu baru saja mengetahui sesuatu yang sudah tersimpan sangat lama. Jangan pikirkan atau jangan difokuskan pikiran kamu kepada, kenapa orang itu bohong? Kenapa orang itu tidak jujur? Kenapa orang itu menyembunyikan sesuatu dari kamu? Tapi alihkan saja pikiran kamu itu dengan apa yang kamu terima. Meskipun kamu bukan anak kandung Ayah, tapi, kan Ayah sayang sama kamu, cinta Ayah sama kamu besar juga kayak cinta Bunda buat kamu."
"Tapi Ayah sama Bunda bilang, kita harus jujur di mana pun, di dalam kondisi apa pun, meskipun itu sangat menyakitkan kita harus tetap jujur."
"Wah, anak Ayah hebat masih ingat pesan Ayah sama Bunda. Iya, Nak, kamu benar sekali, dalam hal apa pun kita harus mengedepankan kejujuran, karena itu mahal harganya. Tapi yang Ayah dan Bunda lakukan ini bukan kebohongan, kami hanya belum bercerita mengenai kenyataan yang sebenarnya. Kami nggak ada niatan untuk bohong. Kenapa kami nggak cerita dari awal? Inilah yang Ayah sama Bunda takutkan. Kamu salah paham, kamu merajuk, marah, hal yang seharusnya tidak perlu kamu lakukan dalam jangka waktu yang lama. Kamu nanti akan mengerti, Nak. Kenapa Ayah sama Bunda melakukan ini. Tapi nanti l, seiring berjalannya waktu, seiring pertumbuhan usia kamu yang akan terus bertambah angkanya, kamu akan mengerti kenapa kami melakukan ini. Kamu sayang nggak sama Ayah dan Bunda?"
"Sayang."
Dari obrolan kedua laki-laki yang panjang lebar itu ada sosok Nimas yang hanya diam saja. Ia nampak terhanyut dalam obrolan mereka, betapa bahagianya dirinya saat ini meskipun banyak ujian yang sedang menimpa. Memiliki suami yang begitu sempurna, cinta yang tidak kalah sempurna membuat Nimas merasa wanita paling beruntung di dunia. Meskipun ia sadar, iaa belum berhasil membuat Ibu mertuanya menerima dirinya dengan sukarela seperti sang ayah.
__ADS_1
"Kalau sayang marahnya jangan lama-lama. Kan kami jadi sedih, semua orang pasti punya kesalahan, kamu nanti juga pasti akan berbuat salah. Karena itu sudah satu kesatuan yang tidak bisa dihindari oleh manusia mana pun. Jadi saling memaafkan adalah satu hal yang sangat penting dalam kehidupan kita. Ayah sama Bunda minta maaf, ya. Maaf karena kami belum menceritakan sebuah kenyataan besar dan kamu malah mendengar kenyataan itu dari orang lain selain kami."
Bryan mengangguk tanda mengerti meskipun dalam pikirannya masih bekerja keras untuk mencerna kalimat ayahnya.
Mereka menikmati makan siang begitu pesanan mereka sudah lengkap. Shaka masih berusaha mengembalikan Bryan yang dulu, meskipun ia sudah menjelaskan panjang lebar, namun nyatanya sikap Bryan masih belum berubah banya. Shaka berusaha mencairkan suasana dengan memberikan sedikit lelucon pada anaknya itu.
"Bryan mau Ayah bawa ke rumah Papa nggak?" Shaka bertanya saat semua makanan sudha habis tak bersisa.
"Orang yang sudah meninggal rumahnya di mana? Bukannya mereka dikubur dalam tanah?"
"Iya itu rumah mereka. Rumah terakhir. Kalau kamu mau, Ayah sama Bunda akan ajak kamu berkunjung ke sana. Ayah juga udah lama nggak mengunjungi rumah Papa."
"Udah maafin Ayah sama Bunda belum, sih?"
"Udah."
"Senyumnya tapi nggak ada. Ya udah Ayah aja yang maksa kamu buat senyum." Shaka melancarkan aksinya menggelitik perut Bryan tanpa ampun.
__ADS_1
Kehebohan sederhana yang mereka buat mampu membuat beberapa customer mengarahkan pandangn ke meja mereka. Semua orang pasti akan ikut melengkungkan bibirnya jika melihat kebersamaan mreka yang hangat.
Setelah di rasa cukup puas istirahat, mereka memutuskan untuk pergi dari sana. Sesuai dengan janji yang baru saja Shaka ujarkan, pria itu langsung mampir ke rumah kakaknya untuk memperkenalkan Bryan kecil.
"Masih jauh, Yah?"
"Kamu cape jalan? Ayah gendong kalau cape. Rumahnya ada di tengah-tengah sana." Shaka memutar tubuhnya dan membawa Bryan ke dalam gendongannya. Hari yang terik tak mengurangi semangat Bryan untuk hanya sekedar mengunjungi makan sang Ayah kandung.
Beberapa langkah berjalan, mereka sampai di rumah abadi Bryan. Dengan pelan Shaka menurunkan anaknya. Pandangan Bryan langsung tertuju pada hati nisan yang tertulis seperti nama dirinya.
"Ayah, namanya sama kayak aku?"
"Iya Sayang, Ayah memang kasih nama kamu seperti nama Papa biar kamu tumbuh seperti Papa. Papa yang baik, pembrani, dan murah hati."
Bryan nampak menundukkan kepala menatap undukan tanah yang masih menggunung. Shaka membiarkan Bryan dengan pikirannya. Matanya beralih pada istrinya yang nampak menatap batu nisan yang berada di dekatnya. Ia tak tahu apakah kesedihan masih ada dalam lubuk hatinya jika mendatangi rumah mantan kekasihnya.
Kak, kau kali ini datang tidak sendirian. Aku datang bersama wanita yang kamu titipkan padaku. Wanita yang sekarang sudah aku jaga seperti yang kamu minta. Bahkan aku sudah mencintainya. Aku pernah bilang padamu, kan? Rasa cintaki ke dia semakin hari semakin tumbuh subur dengan sendirinya. Dan, ya, aku juga bawa jauh hatimu. Lihat, aku pernah mengatakan padamu bahwa dia tumbuh seperti dirimu, kan? Sekarang kamu lihat, dia! Tidak ada bagian tubuh mana pun yang luput dari dirimu. Papa kita yang dulu menentang habis-habisan sekarang menerima anakmu dengan sukarela. Kamu harusnya sidah benar-benar tenang di sana.
__ADS_1
Papa, sayang sekali kita nggak pernah bisa ketemu, ya. Tapi Papa bisa lihat aku dari atas, kan? Maaf aku tidak pernah mendoakan Papa. Aku tidak tahu kalau aku punya Papa yang sudah di atas sama Allah. Mulai sekarang, aku akan berdoa untuk Papa.
Bryan, terima kasih sudah bertanggung mau terbuka dengan keluargamu atas hadirku dan Bryan kecil kita. Aku dan Bryan jadi tidak terlantar dan punya keluarga. Sekali lagi terima kasih untuk hadiah tidak terduga ini.