
"Assalamualaikum," teriak Shaka seraya mengetuk pintu.
Nimas segera menghapus air matanya dengan cepat-cepat. Berusaha untuk menetralkan suasana hatinya lalu mendorong kursi rodanya menuju pintu utama.
"Waalaikumsalam, masuk aja Mas, nggak dikunci."
"Kok tahu yang datang aku?"
"Kita sudah beberapa minggu bersama, tentu saja aku hafal dengan suaramu."
Shaka memperhatikan wajah Nimas dengan teliti seraya meletakkan banyak makanan yang sempat ia beli saat di jalan. Setelah semua makanan berpindah ke meja, Shaka merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan istrinya.
"Kamu habis nangis, kenapa? Ibu sama Ayah mana, Nino juga?"
"Mereka lagi ke rumah saudara, ada nikahan di sana."
Shaka manggut-manggut, "Terus kenapa kamu nangis?" Shaka mengulang pertanyaan karena belum mendapat jawaban untuk pertanyaannya yang itu.
"Enggak kok, aku nggak habis nangis. Kelilipan aja."
"Kelilipan apa sampai mata merah gitu? Mata kamu nggak bisa bohong, kamu itu kentara kalau habis nangis. Bilang sama aku ada apa?"
"Aku bilang nggak apa-apa, ya nggak apa-apa, Mas. Aku ke kamar mandi dulu, ya."
"Ayo aku antar." Saka bangkit dari duduknya dan hendak mendorong kursi roda Nimas, namun wanita itu mencegahnya.
"Aku bisa ke kamar mandi sendiri kok, Mas nggak apa-apa kamu istirahat aja."
Shaka kembali duduk dengan perasaan bingung. Ia merasa ada yang berbeda dengan Nimas. Lalu ingatannya berputar pada beberapa hari belakangan. Mengingat obrolan-obrolan apa yang sekiranya membuat Nimas seperti marah padanya. Barangkali ia tidak sengaja dengan kata-katanya itu menyinggung atau menyakiti hati Nimas.
Namun sayangnya, setelah mengingat beberapa saat, ia merasa bahwa hubungannya dengan Nimas baik-baik saja. Tidak ada pertengkaran, tidak ada salah paham, mereka ketika terpisah hanya membicarakan hal yang ringan-ringan saja seperti biasanya. Bahkan Shaka ingat mereka sering tertawa bersama.
Ah mungkin pengaruh hormon kali, ya? Orang hamil, kan selalu berubah-ubah moodnya. Jangankan hamil, lagi datang bulan aja mereka juga berubah-ubah moodnya. Ya, mungkin pengaruh hormon.
__ADS_1
Shaka meyakinkan dirinya, bahwa sikap Nimas bukan karena ia marah. Tapi karena perubahan hormon, lalu bagaimana dengan matanya yang yang merah dan wajahnya sedikit sembab?
Ah mungkin saja Nimas baru saja menonton film atau apapun yang membuatnya nangis. Ayo Shaka berpikir yang baik-baik.
Shaka lalu mengambil buah-buahan yang berada di dalam kantong kresek dan memindahkannya ke kulkas. D8 saat bersamaan Nimas keluar dari kamar mandi. Ia menatap Shaka sesaat lalu meneruskan langkahnya ke kamar.
Shaka terus meyakinkan dirinya untuk berpikir positif, meskipun dari sisi lain ia sudah merasa bahwa Nimas seperti sedang marah padanya. Selesai dengan kegiatannya, Shaka menyusul istrinya ke kamar.
"Nimas, temani aku makan, aku lapar."
"Ibu tadi masak sayuran, biar aku pesankan makanan di online saja. Mau makan apa?" Nimas menjawab seraya menatap Shaka sesaat lalu mengambil ponselnya.
"Aku beli ayam bakar tadi. Nino dan Ayah pernah bilang kalau mereka menyukai ayam bakar, jadi aku beli banyak."
Nimas tak bergeming, ia masih menatap layar ponselnya entah melihat apa. Shaka menghela nafas berat. Tangannya lalu mengambil ponsel yang ada di tangan Nimas dengan pelan lalu ia letakkan di ranjang.
"Kalau suaminya ngomong didengerin, jangan fokus sama hp-nya!" Shaka mengingatkan istrinya dengan lembut. Tangannya pun ia gunakan untuk mendorong kursi roda istrinya menuju meja makan.
"Kamu makan, ya."
"Nanti aja, ini masih sore."
"Ya udah kalau gitu makannya sepiring sama aku aja, biar nanti malam bisa makan lagi. Aku suapin. Aaaa." Shaka membuka mulutnya lebar-lebar persis seperti sedang menyuapi seorang anak balita.
Mulut Nimas sama sekali tidak bergerak, ia justru menatap Shaka dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Di dalam hati, Nimas merasa terharu karena sejak tadi ia sadar bahwa ia memperlakukan Shaka dengan tidak baik, tetapi suaminya itu tetap sabar dan masih bicara dengan lemah lembut seperti biasanya. Tidak ada perubahan sama sekali dalam nada bicaranya.
Di saat perasaan Nimas sudah mulai merasa bersalah dan luluh dengan perlakuan Shaka, tiba-tiba logikanya mengingatkan kembali bahwa ia baru saja menerima foto yang menggambarkan bahwa suaminya itu masih dekat dengan Raisa.
"Buka mulutnya, Nimas."
"Aku masih kenyang, nanti aja aku makannya."
Shaka yang tidak bisa memaksakan kehendaknya akhirnya membiarkan istrinya itu hanya melihat dirinya makan. Ia menghabiskan makanan itu dengan cepat-cepat. Shaka mengunyah seraya sesekali melirik ke arah istrinya yang nampak murung.
__ADS_1
Sepertinya memang sudah ada yang disembunyikan Nimas. Kenapa wajahnya begitu murung ketika tidak ada alasan yang membuatnya murung.
Baru saja Shaka selesai dengan makanannya. Kedua orang tua Nimas dan juga adiknya pulang dari rumah saudaranya dengan membawa beberapa buah tangan khas pernikahan.
"Nak Shaka udah di sini? Udah dari tadi?" Ibu Nimas yang bertanya.
"Enggak kok Bu, baru. Baru aja sampai." Shaka mencium punggung tangan kedua orang tua Nimas.
"Wah Kak Shaka bawa ayam bakar, ya? Enak, nih. Makan ah!" kata Nino girang.
"Mandi dulu Nino, bersih-bersih baru boleh makan."
Setelah perbincangan singkat itu, kedua orang tua Nimas beranjak ke belakang. Bersiap membersihkan diri dan mengistirahatkan tubuhnya yang mungkin saja lelah. Tinggallah Shaka dan Nimas yang masih berada di meja makan.
"Kamu nggak lupa, kan kalau aku suami kamu? Ada apa sih kok kamu kayak marah sama aku?"
"Perasaan kamu aja Mas, aku nggak apa-apa kok. Aku nggak marah."
Shaka hendak berucap kembali, namun dering ponsel membuatnya urung untuk membuka mulutnya.
"Aku angkat telepon sebentar, ya. Urusan kantor." Shaka bangkit dari duduknya dan berjalan sedikit menjauh dari tempat duduk Nimas.
Wanita itu hanya mampu menatap punggung suaminya dengan perasaan kesal yang semakin berkecamuk. Ia menebak bahwa telepon yang baru saja masuk di ponselnya adalah panggilan dari Raisa.
Urusan kantor? Sekarang sudah sangat sore dan malah hampir menjelang petang. Kantor mana yang masih beroperasi di jam seperti ini?
Tak ingin berlama-lama menatap punggung suaminya, ia pun akhirnya beranjak ke kamar saja. Dan tidak berselang lama dari Nimas masuk kamar, Shaka selesai dengan obrolannya.
Pria itu sedikit celingukan karena tidak mendapati istrinya di tempat semula. Langkahnya pun akhirnya ia bawa ke kamar.
"Kamu di sini ternyata, aku cari juga."
Sekali lagi Nimas tidak merespon ucapan Shaka. Dan hal itu berhasil membuat emosi Shaka tiba-tiba datang.
__ADS_1