Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
93. Perhatian Kecil


__ADS_3

Sudah beberapa sejak masalah kertas terjadi. Peningkatan hubungan Shaka dan Nimas sudah mulai kembali membaik. Seperti yang sudah dikatakan oleh Shaka, ia tak pernah bisa marah pada istrinya. Kalaupun ia marah, rasa itu tidak pernah bertahan lama.


Shaka selalu menekankan bahwa ia bisa punya anak. Ia bisa menjadi sosok ayah untuk anak lebih dari satu, Bryan pasti akan memiliki adik. Hal itu terus ia tanamkan dalam hati dan pikirannya.


"Mas, ada yang kamu pikirkan?" Nimas bertanya saat mereka duduk berdua dia atas ranjang yang sama di suatu malam.


"Nggak ada. Kamu kelihatan pucat? Ada yang sakit?" Shaka menyentuh kening Nimas dengan punggung tangannya.


"Nggak, Mas. Pegel-pegel aja badannya."


"Ya udah sini, Mas pijit."


Nimas menggeleng cepat. Beberapa hari ini mulai timbul pertanyaan ke mana perginya Shaka beberapa hari lalu saat ia pergi dalam keadaan marah. Tapi entah kenapa ia terlalu takut untuk menanyakan hal itu. Ia khawatir jika pertanyaannya nanti membuat ingatan soal kertas akan kembali mencuat.


Akhir-akhir ini pun ia merasa aneh pada tumbuhnya, ia ering lemas dan merasakan pusing di waktu tertentu. Jika sudah begitu, ia akak kesulitan untuk melakukan rutinitasnya.


"Gimana perkembangan hubungan kamu sama Mama? Apa dia masih masih menjadi toxic buat kamu?" Tanpa Nimas sadari tangan Shaka sudah memijat tangannya.


"Perubahan banyak sih, nggak Mas. Cuman sekarang julidnya berkurang aja. Lebih nurut aja sama aku, bisanya kalau makan sama minum obat harus debat dulu. Sekarang udah nggak, Mama jauh lebih diam. Kenapa?"


"Nggak apa-apa, nanya aja. Dek, gimana kalau sampai kita tua nanti Mas nggak bisa kasih anak buat kamu?" Akhirnya pertanyaan itu muncul juga. Tak bisa dipungkiri, meskipun ia menanamkan pikiran baik dan kemungkinan terbaik, masih saja ada hal yang mengganjal hatinya. Itu sangat manusiawi bukan?


"Nggak masalah. Kita sudah punya Bryan. Kalaupun nggak ada Bryan, kita bisa menua berdua. Atau kalau khawatir nggak ada yang urus kita di masa tua, kita bisa adopsi anak. Mas, hidup berumah tangga itu bukan hanya perkara memberikan anak atau nggak. Tapi bagaimana kita mempertahankan rasa yang saat ini singgah agar bertahan hingga akhir. Itu aja, gimana kalau mulai sekarang kita ikhlaskan dan serahkan semuanya sama Tuhan."


***


Sementara di kamar lain, seorang wanita yang akhir-akhir ini mendapat perawatan dari orang yang tak disukainya sedang menatap langit-langit kamar. Matanya seakan susah untuk beliau pejamkan. Rasanya sangat sulit menerima kenyataan bahwa anaknya lah yang memiliki sedikit masalah soal kesuburan.


Ya, setelah Shaka melihat pertengkaran antara Ibu dan istrinya itu, Shaka membeberkan hasil pemeriksaan dirinya yang memang ada sedikit kendala. Hal ini ia lakukan agar sang Ibu tidak lagi melakukan apa pun pada istrinya. Itulah sebabnya kenapa Shaka tadi bertanya soal perubahan ibunya pada Nimas.


Apakah Bu Marissa merasa bersalah karena selama ini sudah mendzolimi menantunya? Lebih tepatnya bukan merasa bersalah, tapi lebih kepada malu pada menantunya karena selama ini beliau salah sangka. Apalagi yang terjadi akhir-akhir ini membuat ddirinya semakin merasa dibuat berhutang budi pada istri dari anaknya itu.

__ADS_1


"Kamu belum tidur, Ma?"


"Udah, tadi udah tidur cuman kebangun aja." Entah untuk alasan apa Bu Marissa berbohong pada suaminya.


"Kalau memang kamu merasa tidak tenang karena merasa bersalah pada seseorang, minta maaf tidak akan membuat kamu menjadi rendah. Lebih baik menurunkan sedikit ego, daripada selamanya hidup tidak tenang."


Ucapan Pak Malik seakan-akan menunjukkan bahwa beliau mengerti apa yang dipikirkan oleh istrinya. Sejauh ini Bu Marissa tidak terpikir untuk meminta maaf pada Nimas, karena rasa malu yang mendominasi seakan-akan membuatnya ingin jauh saja dari menantunya itu, agar tidak menerima ataupun melihat kebaikan-kebaikannya selanjutnya.


***


Waktu terus berjalan membawa semua mahluk ke hari yang baru. Beberapa setelah insiden jatuhnya Bu Marissa, tangan yang semula di balut perban dan digendong ke mana-mana akhirnya hari ini bisa sedikit leluasa karena tangan beliau sudah bisa diturunkan dari gendongan.


"Jangan dibuat gerak terlalu banyak juga, Ma. Tangan Mama baru turun, nanti bisa cedera lagi kalau langsung dibuat aktivitas banyak. Pasti kamu juga buat gerak, kan? Jadi pelan-pelan aja."


"Iya."


Hingga saat ini Bu Marisaa masih belum banyak berubah. Perubahan dari hari ke hari tidak mengalami perkembangan yang berarti meskipun Nimas sudah menunjukkan sisi malaikatnya. Hanya mulutnya saja yang berubah menjadi lebih banyk diam jika bersama Nimas. Tidak ada lagi kata-kata yang menyinggung soal kehamilan.


"Iya, Pa. Badan aku sedikit nggak enak."


"Mau periksa?"


"Nggak usah, Mas. Aku mau istirahat aja habis sarapan."


Dan benar, selesai sarapan Nimas langsung kembali ke kamarnya. Tidak biasanya Nimas seperti ini. Sesakit apa pun Nimas, ia masih bisa beraktivitas seperti biasa meskipun dengan gerakan lebih pelan dari biasanya. Hal itulah yang diketahui Shaka selama menjadi suami Nimas tujuh tahun ini.


Shaka uang masih duduk di meja makan hanya memperhatikan Nimas yang menaiki tangga satu persatu. Disaat hampir di anak tangga paling atas, Nimas berhenti sesaat entah karena apa. Namun, dari pergerakan yang Shaka lihat, istrinya seperti sedang memegang kepala sama menggenggam pegangan tangga dengan kuat.


Tak mau terjadi apa-apa, Shaka segera berlari ke tangga dan memegang bahu sang istri. Untunglah tubuh yang hampir limbung itu dengan tepat dan cepat di tangkap oleh Shaka.


"Mas." Nimas berkata lirih.

__ADS_1


Tak banyak bicara, Shaka segera membawa tubuh Nimas ke dalam gendongannya dan ia bawa ke kamar. Ia merogoh gawai yang berada di saku celana begitu Nimas sudah ia letakkan di atas tempat tidur.


"Mau apa, Mas?"


"Panggil dokter."


"Nggak usah Mas, aku mau istirahat aja. Aku mau tidur, aku marah kalau kamu panggil dokter."


Shaka memutuskan sambungan telepon sebelum dokter yang ia panggil menerima teleponnya.


"Kamu butuh dokter, nggak cuman tidur. Badan kamu lemes banget ini."


"Mungkin aku kurang tidur, Mas Mlmakanya aku lemes. Kalau aku udah tidur, udah istirahat cukup, pasti balik lagi kok badannya, pasti sehat."


"Ya udah untuk saat ini Mas kasih kesempatan kamu untuk istirahat seharian. Harus istirahat dan tidak boleh melakukan apa pun. Jangan turun dari ranjang kalau perlu. Tapi kalau sampai besok nggak ada perubahan, mau nggak mau kamu harus ikut Mas ke dokter."


"Iya, Mas iya."


Sementara di lantai bawah, Bu Marissa yang tadi sempat melihat Nimas hampir limbung di lantai atas sedang berusaha membuat sesuatu di dapur. Hanya butuh beberapa menit saja, wanita itu sudah selesai dengan kegiatannya dengan menghasilkan satu gelas jus sledri berukuran sedang.


"Ma aku berangkat dulu. Itu apa?" Mata Shaka tak sengaja menatap gelas yang berada di tangan ibunya.


"Jus sledri. Jus ini bagus untuk meningkatkan energi. Kasih dulu ke istrimu sebelum berangkat." Bu Marissa menyodorkan gelasnya agar lebih dekat dengan Shaka.


Untuk Nimas?


Perhatikan kecil itu tentu saja membuat Shaka berbunga. Setidaknya kepedulian ibunya kepada istrinya sudah nampak.


"Aku udah telat, Ma. Mama kasih sendiri aja, ya."


Shaka seketika melipir pergi setelah mengatakan itu. Ia berharap dengan caranya yang sedikit kurang ajar tidak membantu ibunya itu, bisa mendekatkan ibunya dengan Nimas.

__ADS_1


__ADS_2