
"Kenapa kamu lari ke sini Nimas?" tanya Seakan menyusul sang istri.
"Kamu tahu kita nggak boleh melakukan itu, kamu mancing terus. Padahal aku cuman mancing sekali, kami balesnya berkali-kali."
"Iya, maaf. Kadang aku suka lupa soal itu. Maaf, ya, janji nggak ulangi lagi. Oh, ya aku mau cerita ke kamu soal aku cari kerja barusan. Temani aku makan." Shaka menggeret tangan istrinya untuk keluar kamar.
Wajah Nimas masih di tekuk, bibirnya masih ia kerucutkan beberapa centi. Ia kesal jika Shaka menggodanua seperti itu. Itu adalah hal sensitif yang Nimas tak suka dijadikan bahan candaaan. Ia terasa di hantui oleh rasa berdosa besar yang ia akibatkan dari masa lalunya. Ia selalu teringat setiap saat jika dirinya ini bersuami, tapi ia tak bisa disentuh oleh suaminya. Dan hal itu selalu membuat ia teringat dosa yang ia lakukan.
"Udah dong, Dek. Jangan cemberut terus. Maafin aku, ya. Janji aku nggak akan melakukan itu lagi. Aku nggak akan makan kalau kamu nggak mau ngomong sama aku."
"Iya, Mas. Aku maafin. Katanya mau cerita soal cari kerjaan tadi. Jadi gimana? Kamu dapat kerjaan?" tanya Nimas seraya melayani suaminya mengambilkan makanannya.
"Belum, tapi aku tadi ketemu sama temen lama aku. Dia mau bantu aku masuk di tempat dia kerja. Kerjanya di restoran. Mudah-mudahan, sih akun bisa diterima di sana."
"Iya aamiin. Kenapa kita nggak buat usaha aja, sih Mas? Apa kek gitu."
"Modalnya, Dek. Aku mungkin bisa pakai uang yang sekarang untuk modal, tapi takutnya kalau nggak balik cepat malah kita kehabisan uang. Kamu akhir bulan depan udah melahirkan, kan kalau sesuai jadwal."
__ADS_1
"Iya. Mudah-mudahan segera dapat jalan buat kita, ya, Mas. Aku tau ini nggak mudah buat kamu. Tapi aku yakin kamu dan aku bisa melewati ini semua. Kamu harus percaya, apa pun yang terjadi, aku akan selalu ada di samping kamu."
"Makasih, ya. Kamu harus terus sehat demi aku."
Shaka merasa hidupnya kini bergantung pada Nimas. Apa-apa jika tidak tanpa nulis rasanya tidak enak. Dari awal pernikahan semua kebutuhan istrinya yang menyiapkan, mulai dari makanan, ganti pakaian dan hal-hal yang kecil lainnya. Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan jika Nimas terjadi apa-apa atau meninggalkannya lebih dulu.
Obrolan siang yang dilakukan oleh sepasang suami istri itu membuat mereka tak yeasa melewati siang dengan cepat. Saat sore, mereka menghabiskan waktu denahm berbelanja keperluan bayi yang belum terbeli.
Setelah dirasa cukup, mereka pulang ke rumah. Jam menujukkan pukul tujuh malam saat dering telepon Shaka berbunyi. Rupanya dari teman Shaka yang tadi siang tak sengaja bertemu dengannya. Pria itu mengabarkan bahwa sang pemilik restoran tidak berani menerima dirinya bekerja di restoran miliknya, karena sang pemilik tahu bahwa Shaka adalah anak dari Pak Malik Narendra.
"Ya udah nggak apa-apa. Makasih, ya udah mau bantu gue."
"Ada apa Mas? Siapa yang telepon, kok kamu kelihatannya kamu kayak marah?"
"Teman aku yang aku ceritakan tadi siang. Dia kasih tahu aku, kalau Bosnya itu tidak bisa menerima aku hanya karena aku anaknya Pak Malik. Aku nggak tahu lagi Papa ini menggunakan kuasanya untuk apa saja. Jangankan perusahaan besar, pabrik saja tidak merespon surat lamaran dariku dan sekarang restoran juga harus du bawah kendali Papa."
"Ya udah Mas cari kerjaan lain aja."
__ADS_1
"Rasanya ijazahku tidak berguna kalau Papa berkuasa seperti ini," keluh Shaka frustasi.
Entah pikiran dari mana, tiba-tiba di kepala Nimas terlintas untuk kenapa tidak tinggal di rumah orangtuanya. Shaka bisa bekerja di toko atau swalayan di sana.
"Mas, kenapa kita nggak pulang kampung aja. Kita tinggal di rumah orang tua aku sementara. Kamu bisa cari kerjaan di toko atau di Swalayan di sana. Kita jual saja rumah yang kita tempati sekarang beserta isinya."
Mendengar ucapan istrinya Shaka seketika menepikan mobilnya. Tindakan yang dilakukan pria itu membuat Nimas balik menatap suaminya dengan bertanya-tanya.
"Nimas, kok ngomongnya gitu, sih? Kamu itu sekarang tanggung jawab aku. Hanya aku yang bertanggung jawab atas dirimu. Dan kamu menyuruhku untuk pulang ke rumah orang tuamu, menambah beban mereka begitu? Aku ini seharusnya membantu, bukan malah memberi dan menambah beban mereka dengan kedatangan kita. Itu sama saja kayak menunjukkan aku nggak bisa ngurus kamu. Aku nggak mau, kalaupun aku melakukan itu, aku sudah mengajakmu ke sana tanpa membeli rumah yang di sini. Aku akan hadapi ini, kita akan hadapi ini bersama-sama. Tidak perlu kita menambah beban pikiran mereka dengan apa yang sudah terjadi dalam kehidupan kita. Mereka harus tahu bahagianya kita aja."
Satu jawaban panjang dari Shaka mampu membuat Nimas ketika bungkam. Ia menyadari bahwa ucapannya tadi itu pasti melukai hati dan juga harga diri Shaka.
"Maaf jika saranku malah membuat kamu merasa menjadi suami yang tidak bertanggung jawab. Sungguh aku nggak bermaksud untuk begitu."
"Nggak apa-apa. Terkadang kita perlu salah dulu untuk tahu bagaimana benarnya. Kita lanjut pulang, ya. Istirahat, udah malam."
Shaka kembali melanjutkan mobilnya, ia berhasil memajukan mobilnya namun tidak dengan kehidupannya. Pria itu nyatanya sudah lelah dengan keadaan yang menghimpitnya. Ia lelah, pikirannya terus memikirkan bahan nasibnha ke depan jika ia tak kunjung ada pemasukan.
__ADS_1
Aku minta maaf untuk kesalahan aku di bab sebelumnya. Di bab ini sebenarnya aku mau ceritakan kalau Shaka dan Nimas melakukan hubungan badan. Tapi ada readers yang mengingatkan aku. Terima kasih untuk yang sudah ngasih tahu aku bahwa mereka belum boleh melakukan hubungan badan. Jangaan bosan ingatkan aku jika aku salah, ya. Sayang kalian banyak-banyak 😘