Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
68. Rahasia Pria


__ADS_3

" Terima kasih, Ayah. Terima kasih karena sudah mengerti saya. Sebenarnya saya tidak ingin terlihat begini, tapi ternyata Tuhan malah memperlihatkan keadaan saya. Tapi tidak apa setidaknya saya bisa menambah semangat saya dan belajar menjadi terbuka sama Ayah dan juga Ibu. Terima kasih sekali lagi untuk pengertiannya."


"Iya, Nak. Jangan bersikap terlalu formal, bersikap biasa saja seperti Nino bersikap sama Ayah. Seperti kamu memperlakukan Nino, anggap saja kita ini teman, bukan Ayah mertua dan juga menantu. pasti hubungan kita akan jauh lebih baik dari ini. Ya udah kalau gitu kita kembali ke ruangan, nanti kamu dicari sama anak Ayah," kata ayah Nimas terkekeh.


Meskipun sebenarnya shaka sedikit malu dengan keadaannya, ada rasa lega juga dalam hatinya. Menyembunyikan sesuatu yang nyata itu memang tidak mengenakkan dan tidak menenangkan hatinya. Sekarang tidak ada lagi yang ia sembunyikan, hal itulah yang membuat ada setitik rasa lega.


Saat mereka sampai di dalam ruangan Nimas. Mereka bertiga masih betah menimang dan memperhatikan Bryan yang bahkan bayi itu sedang tertidur dengan pulas.


"Taruh Nimas! Jangan di gendong terus, nanti kebiasaan bau tangan, kamu sendiri yang repot. Angkat pas nangis aja, Ayah tahu kamu lagi seneng-senengnya tapi kamu juga harus peduli sama diri kamu juga. Udah sini, biar Ayah yang taruh." Ayah Nimas merebut Bryan dari sang anak, meletakkan bayi yang lelap itu ke dalam boxnya.


"Bu, kamu ikut Shaka sama Nimas pulang aja. Kamu bantu mereka ngurus Bryan, ini hal baru untuk mereka, mereka pasti butuh bantuan dan arahan. Nanti malah repot kalau nggak ada yang bantu."


Ibu Nimas yang sama sekali tidak keberatan hanya mengangguk dengan senang meskipun sebenarnya beliau tidak tahu apa yang membuat suaminya berkata seperti itu.


Sementara itu Nimas seketika mencolek pinggang suaminya. Wanita itu seakan mengirim telepati kepada suaminya,  menanyakan apa yang harus mereka katakan dan seakan mengerti apa yang dimaksud oleh Nimas, Shaka hanya mengangguk pelan.


"Tapi, Yah, bagaimana dengan Ayah dan Nino? Siapa yang akan mengurus kalian nanti? Aku akan belajar ngurus Bryan sendiri. Aku sebelum melahirkan udah belajar ilmu parenting kok, Ayah sama Ibu tenang aja."


"Kamu lihat doang, enggak prakteknya. Kenapa kamu jadi khawatirin Ayah sama Nino? Kita bisa jaga diri, mentang-mentang kita laki, bukan berarti kita nggak bisa ngerjain pekerjaan rumah. Bukan berarti kita nggak bisa ngurus diri sendiri tanpa kalian. Enak aja, ya, kan Nino? Kita bekerja sama untuk mengurus rumah dan mengurus perut kita sendiri, gimana?" tanya Ayah Nimas yang serupa menaikturunkan alisnya.


"Siapa takut?" Nino seakan menerima tantangan sang Ayah.


"Beneran ngurus diri sendiri, ya. Jangan beli makan di warung. Jangan dijadikan hal ini kesempatan untuk nongkrong di warung, curi-curi pandang sama janda kembang. Dan buat kamu Nino, jangan jadikan ini kesempatan juga buat kamu untuk kelayapan, ya. Jangan pacaran terus, bentar lagi kamu ujian. Nggak dapat nilai bagus kamu nggak bisa kuliah." Ibu Nimas memberikan peringatan tegas pada kedua pria yang menemani hidupnya.

__ADS_1


"Ha? Ayah suka ngelirik-lirik janda, Bu?" pekik Nimas terkejut.


"Iya niatnya bercanda doang, tapi takutnya, kan kalau jandanya baper gimana?"


Ayah Nimas menutup wajahnya dengan salah satu telapak tangannya. Baru saja beberapa menit yang lalu beliau mengatakan bahwa rumah tangganya harmonis. Tapi siapa sangka istrinya justru malah membuka sesuatu yang seharusnya tidak dibuka di depan anak menantunya.


"Ayah tolong katakan, Ayah tadi bilang saya harus melihat hubungan Ayah dan Ibu. Apakah saya harus mengikuti jejak Ayah untuk menggoda janda?" bisik Shaka sepelan mungkin agar tak terdengar telinga lain, selain telinga Ayah mertuanya.


"Ssst. Perempuan memang suka begitu, Ayah cuman nyapa dibilang cari perhatian. Jangan didengarkan! Kalau kamu sudah menikah, itu artinya kamu sudah siap memasuki fase di mana pria selalu salah dan tidak ada benarnya. Ayah yakin kamu sudah merasakannya." Ayah Nimas membalas ucapan menantunya dengan berbisik pula.


"Ayah sendiri yang bilang, bukan aku. Itu sama saja artinya Ayah menyamakan anak Ayah sama perempuan-perempuan lainnya."


"Lah, memang mereka semua sama, Shaka!"


Merasa suasana menjadi hening, kedua pria yang sedang menggibahkan kaum perempuan seketika menyadari bahwa mereka sedang ditatap oleh istri mereka masing-masing. Entah mendapat telepati dari mana Ayah dan menantu itu sama-sama tersenyum menunjukkan gigi rapinya.


"Ngomongin apa? Kok bisik-bisik, rahasia, ya?" terka Nimas menatap ayah dan suaminya bergantian.


"Iyalah rahasia kaum laki-laki. Masa iya dibeberkan sama perempuan." Ayah Nimas yang menjawab.


Nimas lalu menatap suaminya yang hanya diam mengatupkan mulutnya. Ingin sekali rasanya ia belajar ilmu menghilang agar bisa ia gunakan dalam keadaan medesak seperti ini.


"Kmu sejak kapan, Mas jadi slengean kayak Ayah begini?"

__ADS_1


"Siapa yang slengean, sih Dek? Aku dari tadi diam aja cuma nyahutin Ayah ngomong kok, nggak ada rahasia-rahasia."


Ayah Nimas menahan tawanya karena apa yang dilakukan Shaka sama seperti yang beliau lakukan saat menjadi pengantin baru. Masih mode budak cinta dan suami takut istri.


Nino yang tidak mengerti apa-apa akhirnya berusaha mencairkan suasana. Meskipun ia tahu, momen yang barusan terjadi hanya sebuah gurauan bukan masalah yang besar, namun melihat Ayah dan Kakak iparnya tertekan membuat Nino sedikit merasa kasihan.


Dan setelah melewati momen sedikit tegang itu, tidak berselang lama Dokter datang untuk melakukan visit pada Nimas dan anaknya. Dokter wanita itu membawa kabar baik, bahwasanya Nimas malam ini boleh kembali pulang.


"No, gimana kita pulang sekarang apa besok aja?"


"Besok aja dong, Yah. Baru sampai sini masa langsung pulang?" sahut Shaka cepat.


"Iya, besok aja. Lagian nanti ada bola, kalau pulang sekarang, kita nggak bisa lihat, Yah," kata Nino.


Ibu Nimas hanya melirik malas jawaban putranya itu, kalau tidak game kelayapan, ya bola yang selalu ia utamakan, batin Ibu Nimas sedikit kesal.


Beberapa saat kemudian, Ayah Nimas mengkode sang istri untuk ikut dengannya. Beliau bermaksud menjelaskan bagaimana kondisi Shaka dan Nimas sekarang. Agen wanita itu tidak menampilkan wajahnya keterkejutan nantinya.


"Masya Allah, Shaka sampai rela melakukan itu untuk anak kita, Yah?"


"Iya, makanya kita kasih mereka support yang besar. Apalagi Shaka kelihatan apa itu namanya yang nggak percaya sama diri sendiri. In in apa, sih itu yang biasa anak muda bilang!" Ayah Nimas nampak bingung bagaimana beliau menjelaskan.


"In apa, sih, Yah? Yang Ibu tahu chek in. Tapi, kan itu buat tidur di hotel, nggak ada hubungannya."

__ADS_1


"Insecure, Yah, Bu," sela Nino berjalan ke arah mereka.


__ADS_2