
Pukul sepuluh malam, Shaka dan Nino rela repot untuk mendekorasi ruang tamu. Keduanya rela mengurangi waktu istirahatnya untuk menyulap ruang tamu menjadi taman bermain dan juga ruangan yang dipenuhi dengan balon seperti yang Bryan inginkan.
Shaka ingat, anaknya itu pernah mengatakan ingin ulang tahunnya suatu hari nanti dirayakan dengan teman-temanya dan juga dekorasi karakter tokoh superhero kesukaannya.
Keluarga Shaka memang jarang merayakan hari spesial dengan acara atau mengundang orang untuk merayakan kebahagiaannya. Mereka lebih kepada menghabiskan waktu bersama dengan berlibur ke suatu tempat atau hanya sekedar makan bersama dengan keluarga. Bisa dibilang ulang tahun Bryan kali ini adalah acara ulang yang pertama kalinya di gelar di kediaman Narendra.
Entah sudah berapa lama kedua pria itu berkutat dengan balon dan juga dekorasi lainnya. Belum lagi dengan berbagai wahana yang kini juga sedang dikerjakan oleh tiga anak buah Pak Malik. Untuk wahana bermain ini adalah ide dari Shaka. Ia merasa anak-anak akan betah berlama-lama di rumahnya jika tersedia wahana bermain yang lengkap.
"Kuenya nanti datang jam berapa, Kak?"
"Besok jam lima pagi udah datang. Tugas kamu nanti, buat Bryan untuk tetap di lantai atas sampai jam tujuh pagi. Kakak udah undang temannya untuk datang sebelum jam tujuh." Shaka menjawab dengan tangan yang sibuk memompa balon.
"Ide siapa sih Kak merayakan ulang tahun sepagi ini?" Nino sudah sedikit mengantuk dengan aktivitasnya.
"Kakak. Sengaja biar beda aja, biar dia ketika bangun tidur pas turun dia terkejut. Kalau dirayakan sore hari, malam hari, udah biasa. Kan niatnya Kakak bikin surprise."
"Jadi Bryan sama sekali nggak tahu ini?"
"Bukan kejutan kalau tahu. Kamu kalau ngantuk, istirahat aja dulu nggak apa-apa. Ini biar Kakak selesaikan sama teman-teman yang lain. Lagian kamu baru sampai sini sore, belum istirahat sama sekali."
"Iya nanti aja kalau aku udah benar-benar cape dan ngantuk aku akan tidur di sini."
Mereka kembali berkutat pada tugas masing-masing. Shaka sama sekali tidak merasakan ngantuk atau pun lelah. Justru ia ingin pekerjaan ini cepat selesai dan tidak sabar menunggu esok hari ketika Bryan bangun tidur ia mendapatkan hadiah yang begitu ia inginkan selama ini. Ia tidak bisa membayangkan betapa bahagianya anaknya itu nanti. Belum lagi hadiah kecil yang sudah ia siapkan untuk Bryan. Pasti anak itu tidak menyangka bahwa selama ini ia mengerti perasaan dan juga pikiran yang akhir-akhir ini menggangunya.
Akhirnya pukul tiga pagi, mereka selesai dengan keriwehan untuk acara nanti yang akan di gelar jam tujuh pagi. Masih ada waktu untuk beristirahat meski hanya sejenak. Setidaknya bisa melepas penat walau sekejap.
"Udah selesai, Mas?"
"Udah. Dari kapan kamu terjaga?"
__ADS_1
"Baru satu jam yang lalu."
Shaka duduk di samping istrinya yang menunggu salah satu bagi mereka yang terjaga.
"Anak Ayah kenapa pinter banget, sih?Kenapa begadangnya mesti gantian? Barengan aja dong biar sekalian jaganya, biar Bunda juga bisa tidur. Kalau kalian gantian begini, kan Bunda nanti lama dong aku nungguin kalian. Bunda nggak tidur-tidur." Shaka menoel-noel pipi Nisa yang semakin terasa gemuk.
"Udah kamu tidur sana! Biar Mas yang jagain."
"Yang seharusnya tidur itu kamu Mas, kamu dari tadi sore nggak tidur. Udah kamu aja sana yang tidur, lumayan masih ada beberapa jam."
Alih-alih menuruti ucapan istrinya, Shaka malah meletakkan kepalanya dipangkuan Nimas. Dengan wajah menghadap perut sang istri dan tangan yang melingkar di sepanjang pinggangnya. Entah sudah berapa lama ia tak melakukan ini, batin Shaka tersenyum geli.
"Dek, terima kasih untuk semuanya, ya. Tiga orang anak, waktu, diri kamu, dan semuanya. Terkadang Mas sampai sekarang masih berasa nggak percaya kalau Mas bisa jatuh cinta dengan wanita yang sudah dititipkan Kakak untuk Mas. Mas nggak tahu dengan jalur apa Mas mencintaimu, tapi...."
"Udah jangan banyak gombal, tidur! Aku nggak mau kamu sakit."
Nimas hanya menjawab dengan sebuah gerakan mengelus kepala suaminya. Hal itu ia akukan agar suaminya tidak lagi banyak bicara dan segera memejamkan matanya untuk istirahat.
***
Semesta seakan mendukung Shaka dan yang lain untuk memberikan kejutan di hari bahagia Bryan ini. Anak yang biasanya bangun pagi buta itu kini masih terlelap di saat jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Sangat diluar kebiasaan Bryan.
Nino yang juga masih terlelap dan tenggelam dalam mimpinya gelagapan ketika mendengar alarm di ponselnya. Ia teringat dengan pesan Shaka agar tidak membiarkan Bryan turun dari lantai dua sebelum jam tujuh pagi.
Hembusan nafas lega terdengar seketika saat Nino menoleh ke samping dan masih ada Bryan yang sedang tertidur pulas.
"Aku turun ke bawah dulu aja kali, ya. Barangkali ada yang mesti diperbaiki di sana."
Suara riuh terdengar begitu dirinya keluar kamar. Ia melongokkan penglihatannya ke lantai bawah yang ternyata sudah ada beberapa teman Bryan yang sudah hadir.
__ADS_1
"No, Bryan udah siap? Suruh turun sekarang aja nggak apa-apa."
"Apanya yang siap? Bangun aja belum. Ya udahlah lima belas menit lagi aku sama Bryan akan turun. Masih setengah tujuh ini. Lagian ngasih surprise kenapa mesti pagi buta sih? Jam segini itu masa keemasan untuk tidur." Nino bergumam pelan seraya meninggalkan Shaka yang menatapnya heran.
Ternyata tidak sulit bagi Nino untuk membangunkan keponakannya. Hanya dua kali panggilan nama saja anak laki-laki itu sudah membuka mata dengan sempurna.
Bryan terburu-buru lari ke kamar mandi begitu Nino mengatakan sudah pukul tujuh dan semua orang sudah bersiap akan melaksanakan sarapan.
Rasanya baru beberapa detik yang ka lalu Bryan masuk ke kamar mandi. Tapi ia kini sudah keluar dengan rambut basah dan handuk yang melingkar di pinggang.
"Pakai ini, Yan. Ini tadi dikasih sama Ayah untuk kamu pakai. Katanya kamu mau merayakan ulang tahun sama superhero kesayangan kamu. Nih pake."
"Merayakan ulang tahun?" Bryan mengernyitkan kening.
"Iya. Lihat aja sendiri nanti di bawah. Buruan pakai, temen-temen kamu udah nunggu di bawah. Nanti kamu sampai sana pura-pura kaget, ya. Tapi jangan turun dulu, nunggu Om. Om mau mandi sebentar, oke."
Bryan masih dengan kebingungannya memakai pakaian warna merah yang bergambar spider-man. Tokoh superhero kesukaannya dan memang ini yang ia nantikan. Perayaan ulang tahun bersama dengan teman dan pahlawannya.
Setelah menunggu Nino mandi beberapa saat, turunlah mereka berdua dengan pelan.
Ditengah tangga, Nino kembali mengingatkan Bryan untuk terkejut jika ia sampai di lantai bawah. "Jangan lupa, nanti pura-pura kaget, ya." Bryan hanya mengangguk.
"Surprise."
Begitu kaki Bryan menapak tangga paling bawah, teriakan dari semua orang terdengar menggema. Ia seketika berlari seraya menganga lihat apa yang ia lihat. Bukan pura-pura, tapi Bryan sungguh terkejut dengan pengalihanan ruang tamu yang begitu sempurna. Ia bingung hendak mengagumi yang mana. Dekorasi yang sempurna, wahana permainan yang lengkap, makanan yang banyak dan juga puluhan tas yang terdapat fotonya di sana.
"Kakak seneng?" Shaka yang bertanya.
__ADS_1