
"Gimana Shaka? Udah kamu tegur istrimu itu? Kamu harus tegas biar dia juga bisa menghargai Mama, biar nggak kurang ajar juga sama orang tua." Bh Marissa langsung menyambut Shaka dari anak tangga paling bawah dengan sebuah petuah.
"Udah, Ma. Udah aku kasih tah kok. Mama juga harus bisa menghargai kehadiran dan posisi Nimas kalau Mama mau dihargai dan dihormati istriku. Mama jga keterlaluan, untuk apa Mama melarang Nimas membeli sesuatu yang udah jadi hak dia?"
"Melarang? Apa maksudnya, sih Shaka. Mama bukan bahas yang masalah itu. Yang Mama maksud, kamu udah tegur dia soal dia yang meng...."
Ucapan Bu Marissa terhenti karena bunyi ponsel Shaka. Pria itu mengernyit ketika ponselnya berbunyi karena panggilan dari istrinya.
Bu Marissa yang menunggu dengan sebal tak sngaja menatap lantai atas yang rupanya berdiri sosok Nimas dengan ponsel didekat telinga.
"Mas, kamu ternyata masih ada di sini? Aku kira kamu sudah di jalan, kamu melupakan sesuatu," kata Nimas berjalan menuruni anak tangga satu persatu dengan pelan.
"Apa? Mas tidak membawa apa-apa saat pulang," jawab Shaka bingung.
"Kamu melupakan ini. Kedua pipiku akan iri jika kamu hanya mengecup keningku saja." Nimas berhenti di anak tangga terakhir dan menyodorkan pipinya ke wajah Shaka. Lirikan matanyanua arahkan pada Bu Marissa yang namoak menatapnya dengan muak.
"Ada-ada aja kamu, ini," ujar Shaka terkekeh lalu melakukan apa yang diminta istrinya. "Dah, Mas berangkat. Jangan lupa istirahat," imbuhnya lalu pergi dari hadapan kedua wanita yang menghiasi hidupnya.
"Eh ada Mama. Gimana? Udah menyerah belum mau buat kepercayaan anaknya hilang? Apa masih mau coba? Begini, ya Ma. Cinta saya sama Mas Shaka udah diuji bahkan sebelum kita sadar kalau kita saling mencintai. Mama seharusnya tidak lupa kalau Mas Shaka pernah meninggalkan kalian demi saya. Bukan saya bermaksud untuk menyombongkan diri, tapi saya hanya bicara soal fakta. Mama mau melihat kekuatan cinta kami yang bagaimana lagi? Kurang bagi Mama lima tahun sebelumnya yang sudah jelas membentuk cinta kamu lebih kuat?"
"Jangan kurang ajar kamu, Nimas. Kalau kamu tidak dinikahi anak saya, sudah hancur masa depan dan kehidupan kamu."
"Meskipun saya dinikahi anak Mama, masa depan saya sudah dihancurkan oleh anak Mama yang lain. Saya nggak bermaksud kurang ajar. Orang lain nggak akan kurang ajar, kalau Mama juga bisa jaga sikap. Saya minta maaf jika saya terkesan melawan, saya hanya ingin Mama sadar, apa yang Mama lakukan ini salah."
"Tidak ada yang salah dengan apa yang saya lakukan." Bu Marissa menatap tajam Nimas lalu pergi dari sana.
__ADS_1
Nimas memejamkan mata untuk menetralisir amarahnya. Sejak ia mengetahui bahwa Ibu mertuanya tidak berubah, kesabarannya semakin menipis saja.
Sejak saat itu, perselisihan antara menantu dan Ibu mertua itu semakin sengit saja. Meskipun tidak terlihat oleh mata Pak Maalik dan Shaka, dalam kepura-puraan mereka seakan sama-sama mengobarkan api peperangan.
Tidak ada kebencian di hati Nimas untuk Ibu mertuanya. Ia terpaksa bersikap seperti itu, tidak ada manusia yang akan diam saja jika terus menerus diinjak. Namun, dalam hati Nimas tidak ada dendam dan rasa jahat lainnya, ia hanya menujukkan bahwa ia berani dan ia akan mempertahankan rumah tangga yang sempat ia ragukan kekuatannya.
"Pa, Mama ada kepentingan sebentar. Mau ke rumah teman Mama. Anaknya baru saja melahirkan. Dia menerima cucu di saat menjadi Ibu mertua baru satu tahun." Kalimat yang terdengar seperti sindiran untuk Nimas. Wanita itu hanya memirik Ibu mertuanya lalu kembali melanjutkan makan paginya.
Entah keyakinan dari mana, Bu Marissa selalu berpikir jika menantunya itu tidak akan bisa hamil. Sudah berapa la Nimas mengonsumsi makanan atau minuman yang bisa dijadikan untuk program kehamilan, namun wanita itu tidak kunjung berbadan dua.
Bu Marissa berpikir jika beliau terus mengompori Shaka, lama kelamaan anaknya itu pasti akan sadar jika istrinya itu tidak se subur yang ia kira. Dan jika sudah seperti itu, maka perpisahan pasti akan terjadi.
"Shaka, jangan lupa untuk memikirkan apa yang Mama sarankan!" ujar Bu Marissa meninggalkan meja makan.
Nimas lansung melirik suaminya setelah kepergian Bu Marissa. Tak berselang lama, Pak Malik juga ikut pergi meninggalkan meja makan dengan Bryan. Sabtu pagi, kesempatan mereka untuk menghabiskan waktu bersama lebih lama.
"Mama Minta kita periksa ke dokter. Biar kita tahu apa yang perlu kita perbaiki."
"Mas mau nurutin?"
"Sebenarnya pengen, tapi nanti lah. Aku terlalu malas untuk memikirkan itu."
Nimas semakin khawatir, bagaimana jika suatu hari nanti Shaka benar-benar melalukan pemeriksaan itu, ia takut jika yang bermasalah justru suaminya. Hasil pemeriksaan dirinya yang baik-baik saja bahkan ia termasuk subur, malah menjadi beban pikiran tersendiri baginya.
"Kamu nggak keberatan, kan kalau suatu hari nanti kita melakukan itu?"
__ADS_1
"Bukannya keberatan, tapi aku ini sudah menjalani berbagai cara, Mas. Apa pun yang kamu kasih aku makan, aku minum, bahkan jamu yang rasanya pahit pun aku minum. Ya sudah kita tunggu saja, Mas."
"Sampai kapan, Dek? Sampai aku ubanan?"
Belum sempat Nimas berucap, Bu Marissa yang melintasi meja makan terdengar menyahut.
"Dia takut kali. Takut kalau ketahuan dia nggak bisa hamil lagi." Bu Marissa berucap seraya berjalan keluar rumah.
Sabar Nimas, jangan dibalas sekarang. Balas saja dengan kertas yang sudah kau simpan dengan rapat.
Shaka seketika menoleh pada ibunya. Ia berpikir dalam hati apakah, ibunya selama ini tidak pernah berubah? Bukankah ibunya itu selama ini sudah menunjukkan kepeduliannya pada Nimas?
Shaka menatap istrinya yang seketika mengubah raut wajahnya. Ia menatap setiap inci wajah sang istri yang seperti sedang menanggung beban berat. Kata-kata Nimas yang tadi tiba-tiba saja kembali berjejak di telinga dan pikiran Shaka.
"Apa pun yang kamu kasih selalu aku makan, aku minum, jamu yang pahit pun aku minum." Kalimat tersebut memenuhi telinga Shaka.
Pria itu kembali berpikir, bahwa akhir-akhir ini apa yang Nimas bicarakan adalah sebuah kebenaran. Ia terlalu sering memberikan ini dan itu yang disarankan oleh ibunya. Bagaimana bisa ia se ceroboh itu? Secara tidak lamgsung pun rupanya ia memberikan tekanan pada istrinya sendiri. Rasa bersalah tiba-tiba menjalar di seujur tubuhnya.
"Dek, apa selama ini Mas terlalu menekan kamu dengan konsumsi yang selalu Mas berikan?"
"Nggak, Mas. Aku nggak keberatan atau tertekan. Aku hanya merasa semakin kita tidak ikhlas dengan takdir Tuhan, maka semakin kita akan merasa kecewa. Kita wajib berusaha, tapi jangan memaksa. Aku merasa apa yang aku lakukan ini bukan karena keinginan atau harapan semata. Tapi obesesi yang terlalu besar." Mata Nimas mulai berkaca-kaca.
"Kenapa kita nggak coba untuk ikhlas, kita serahkan semua sama Tuhan. Aku akan tetap usaha dengan program yang kamu kasih ke aku. Tapi aku hanya akan mengonsumsi satu macam saja, Mas. Rasanya nggak enak di badan aku kalau...." Nimas sedikit terisak.
Shaka seketika membawa istrinya ke dalam dekapan nyamannya.
__ADS_1
"Maaf, Sayang, maaf. Mas salah, maaf."