
Begitu Nimas tertidur dan dokter kembali keluar ruangan tangis Shaka pecah saat itu juga. Benteng kekuatan yang sejak tadi ia tebalkan dan ia tinggikan dengan susah payah, seketika runtuh ketika melihat istrinya yang tertidur pulas.
Betapa berat ujian yang mereka alami hingga detik ini. Semua ujian yang sudah terlewati mereka lewati dengan baik dan Shaka juga punya keyakinan bahwa ujian kali ini juga bisa mereka yang lewati dengan baik.
Shaka yang nampak kelelahan baik batin maupun fisiknya merebahkan kepalanya di dekat tangan sang istri. Meletakkan tangan itu di atas kepalanya dan menggengamnya dengan erat.
"Kita pasti bisa melewati ini, Dek. Sebelum ini, kita pernah melewati ujian-ujian yang cukup berat dan kita bisa melaluinya, meskipun harus berdarah-darah. Dan untuk hari ini kita juga pasti bisa melewatinya. Mas mau tetap sehat buat Mas, Dek. Tolong jangan seperti tadi saat kamu bangun nanti. Kamu nggak tahu betapa hancurnya dan remuknya hati Mas saat melihat kamu sehancur itu." Saka terus bergumam seakan hal itu bisa menguatkan dirinya sendiri dan juga istrinya. Hingga lama-kelamaan mata pria itu menjadi berat dan tidak lama kemudian ia tertidur saking lelah batin dan fisiknya.
***
Sementara itu, Bu Marissa sejak tadi hanya memutar-mutar tubuhnya di atas ranjang, karena beliau tidak bisa tidur memikirkan nasib Nimas yang pendarahan begitu banyak. Beliau juga tidak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri karena seandainya saja beliau tidak ceroboh, seandainya saja beliau tidak terjatuh maka tidak akan mencelakai menantunya sendiri.
Beberapa kali juga beliau mengecek ponsel, barangkali ada kabar dari Shaka, namun sebanyak apa pun Bu Marissa mengecek gawainya, sebanyak itu pula rasa khawatir yang semakin menjadi karena tidak terobati. Berniat ingin menghubungi anaknya lebih dulu, namun beliau takut jika hal itu membuat Shaka merasa terganggu. Anaknya itu juga pasti tidak kalah panik dan khawatir, beliau tidak mau menambah kekhawatiran dan kecemasan itu menjadi lebih menggunung dengan meneleponnya.
***
"Bunda mana, Oma? Kenapa oma yang menyiapkan seragamku?" Anak tujuh tahun itu baru saja menyelesaikan mandinya dan mendapati Bu Marissa yang sedang menyiapkan keperluan sekolahnya. Hal yang sebelumnya tidak pernah belia lakukan.
__ADS_1
"Bunda lagi nggak enak badan, Bunda semalam jatuh karena nolongin Oma. Jadi setelah kamu dibawa ke kamar sama Ayah, Bunda dibawa ke rumah sakit. Nanti kalau Bunda belum pulang sampai kamu pulang sekolah, kita ke sana, ya."
"Bunda jatuh? Aku nggak mau sekolah, aku mau ke rumah sakit aja."
"Sayang, dengerin Oma, ya. Bunda nggak apa-apa, Nak. Kita harus tetap berdoa untuk Bunda, kita harus yakin kalau Bunda nggak apa-apa. Oma janji setelah pulang sekolah nanti, kita akan ke rumah sakit menmui Bunda, ya. Tapi kamu harus sekolah dulu, nanti Ayah marah sama kamu gimana?"
Meskipun dengan berat hati, akhirnya Bryan setuju untuk sekolah lebih dulu, baru setelah itu menemui ibunya.
Sementara di lain tempat, Shaka baru saja terbangun saat tangan Nimas yang masih berada di atas kepalanya dari semalam menggerak-gerakkan jarinya.
"Dek,kamu udah bangun?" Mereka berdua sama-sama kompak mengumpulkan nyawa.
"Dek, kehadiran Mas masih berarti nggak buat kamu? Kalau Mas masih kamu anggap ada, dengerin Mas, ya." Shaka berucap seraya mengelap pipi istrinya yang kembali basah karena air mata.
"Lihat Mas, Dek!"
Nimas menurut, perlahan ia memutar sedikit kepalanya untuk meliha wajah suaminya yang nampak lelah dengan mata sembabnya. Hal itu membuat air mata Nimas semakin tak bisa dikendalikan.
__ADS_1
"Anak kita, Mas."
"Iya, nggak apa-apa kalau kamu mau nangis, tapi Mas mohon jangan seperti kemarin, ya."
Shaka menggeser kursinya untuk ia posisikan di dekat kepala istrinya agar ia bisa melihat wajah istrinya dari dekat. Tangan pria itu mulai mengelus pelan kepala istrinya dengan lembut, berharap dengan sentuhan itu ia bisa memberikan kenyamanan dan ketenangan untuk wanitanya yang sedang tidak baik-baik saja.
"Dek, bukankah kita pernah melewati ujian-ujian yang cukup berat sebelum ini? Kita kuat, kan? Kita bisa, kan? Jadi untuk kali ini kita juga pasti bisa. Nggak apa-apa kalau untuk kali ini kita kehilangan kesempatan untuk menjadi orang tua dari anak kedua. Suatu hari nanti pasti kesempatan ini akan datang lagi, kok. Jangan berkecil hati. Bukankah kita harus kuat untuk buah hati kita. Biarkan yang pergi, pergi dengan tenang. Kita doakan saja untuk kebaikan janin yang sempat hadir di dalam perut kamu. Kamu boleh hancur, Mas pun hancur, sangat hancur, tapi Mas ingat kalau kita masih punya Bryan. Dia juga butuh kasih sayang kita, kalau kita fokus sama yang sudah pergi, bagaimana dengan nasibnya nanti? Jadi Mas mohon, kuat, ya. Kuat buat Mas, kuat buat Bryan juga." Dengan suara bergetar, Shaka bersusah payah untuk membuat air matanya tidak jatuh di depan istrinya.
"Iya, Mas aku tahu, tapi untuk kali ini aku benar-benar merasa tidak berguna. Bagaimana bisa aku tidak menyadari kalau aku hamil? Apalagi momen ini yang kita tunggu."
"Sssstt. Itu artinya Tuhan belum kasih izin. Kalau memang sudah waktunya, dengan cara apa pun dan bagaimanapun jalannya, pasti suatu saat nanti akan ada janin lagi di sini." Shaka memgelus lembut perut istrinya. Sungguh ngilu, saat ia melakukan itu. Namun, nampak tegar di hadapan istrinya sangatlah penting. Jadi sebisa mungkin, ia sangat berusaha untuk menunjukkan bahwa ia tidak apa-apa.
"Percaya sama Mas, Tuhan sedang menguji kekuatan cinta kita lagi, biar cinta kita lebih kuat, biar kita pribadi juga lebih kuat lagi. Mas mohon sedihnya jangan berlarut-larut, ya. Mas tahu ini berat ini, nggak mudah buat kamu. Mas pun merasa begitu, tapi kita ada untuk saling menguatkan." Shaka mengecup kening istrinya lama, ia yakin dengan cara ini pasti istrinya akan jauh lebih tenang. Sentuhan kecil dan sederhana seperti ini adalah momen kesukaan Nimas.
Tak berselang lama, ponsel Shaka yang berada di meja dekatnya bergetar-getar. Ia segera menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan video dari sang Ibu. Ia baru ingat kalau semalam dirimu tidak memberi kabar ibunya.
"Bryan, kamu belum berangkat sekolah, Nak? Hari ini kamu barangkat sama Oma dulu, ya. Ayah mau jagain Bunda dulu." Shaka mengarahkan kamera pada Nimas begitu melihat wajah sang anak yang di pangku Bu Marissa.
__ADS_1
Sembab sekali, apa yang terjadi sama Nimas? Kenapa wajah mereka terlihat sangat berbeda dan matanya mengatakan kalau mereka seperti habis menangis? Ya Tuhan, jangan sampai apa yang sempat aku pikirkan semalam adalah hal benar.