Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
77. Curhat


__ADS_3

Sejak hari pertemuan di rumah sakit itu. Semua perlahan berubah, mulai dari Shaka yang sudah kembali aktif di perusahaan, Pak Malik yang sudah benar-benar merubah sikapnya sehingga menciptakan kedekatan antara dirinya dan sang cucu, bahkan pria yang sudah mulai banyak uban itu juga sudah ada kedekatan dengan sang menantu. Hanya Bu Marissa saja belum merubah sikapnya, beliau masih menutup hati untuk sang menantu dan cucu meskipun tidak terlihat oleh mata.


Namun sayangnya, setelah satu tahun dinyatakan sembuh dari darah tingginya, Pak Malik yang merubah sikap menjadi lebih baik itu justru diuji dengan lumpuhnya pada kedua kakinya. Usia yang perlahan menua membuat otot kaki Pak Malik semakin melemah dan menyebabkan beliau kesusahan untuk berjalan dengan kedua kakinya.


Dan apa yang terjadi pada Pak Malik, membuat anak dan menantunya lebih cepat pindah ke rumahnya sebelum Bryan masuk SD, sesuai rencana awal Shaka.


"Bryan ayo buruan, makannya. Hari ini kita berangkat ke sekolah baru, jangan sampai terlambat," ujar Nimas mengambil makanan untuk anak dan suaminya.


"Katanya aku pindah sekolah pas SD, aku masih TK, kenapa pindah sekarang?" protes Bryan. Ia tak suka lingkungan baru, karena jiwa introvert dan pendiamnya pada dunia luar membuat ia kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru.


"Katanya pengen dekat sama Opa. Kan kalau serumah dekat tiap hari, jadi ya pindahnya ke sini dan sekolahnya juga harus pindah. Kalau sekolah di sekolah yang lama kejauhan, Sayang. Udah ayo makan, nanti ditinggal Ayah." Tak sabar dengan rengekan Bryan, Nimas akhirnya memutuskan untuk menyuapi anaknya.


"Ish, aku bisa makan sendiri." Bryan menolak denga kesal.


Drama yang terjadi di meja makan itu membuat Pak Malik dan Bu Marissa teringat masa kecil mendiang anaknya. Sama persis seperti Bryan kecil. Tak suka lingkungan baru dan tak mau diperlakukan seperti anak kecil meski mareka masih kecil.


Bu Marissa sedikit melamun karena teringat Bryan, anaknya. Seandainya saja Bryan dewasa masih ada, ia pasti akan tertawa melihat foto kopian sang anaknya. Dari wajah hingga karakter ditiru oleh sang Anak. Tanpa sadar Bu Marissa sedikit melengkungkan bibirnya membentuk senyuman. Namun, sedetik kemudian beliau sadar dan membuang pikirannya jauh-jauh. Bisa-bisanya dirinya tersenyum untuk anak ini, bagun Bu Marissa menyadari kebodohannya.


Untuk hari pertama, Nimas mengantar dan menunggu Bryan di depan kelas. Banyak para ibu yang juga melakukan hal yang sama seperti Nimas. Ada juga di antara mereka yang membawa anak mereka yang masih balita. Hal itu membuat Nimas kembali teringat dengan keinginannya untuk memiliki anak dengan Shaka.


Entah sudah berapa kali, Nimas terpikir untuk memeriksakan diri ke dokter. Namun, saat itu juga ia teringat bahwa ia dengan Bryan hanya melakukan sekali tapi langsung hamil, bukankah itu artinya dirinya tidak ada masalah?

__ADS_1


Namun di sisi lain, jika Nimas meyakini bahwa dirinya tidak ada masalah, itu sama saja seperti menganggap Shaka yang bermasalah. Serba bimbang di posisi Nimas. Jika memeriksakan diri, ia takut dengan hasilnya, namun jika dibiarkan dengan tanpa ada usaha rasanya sangat mengecewakan. Ia hanya takut jika hal ini membuat beban pikiran Shaka bertambah.


Selesai dengan sekolahnya, Bryan dan Nimas langsung pulang. Anak kecil itu tak mau diajak ke mana-mana. Ia ingin segera pulang, ia senang jika berada di rumah sang nenek karena besar dan terdapat kolam renang di sana.


"Opa, Oma aku pulang. Ayo kita lanjutkan nyusun puzzlenya," teriak Bryan berlari ke dalam rumah.


"Bryan!" tegur Nimas seraya memberikan sedikit pelototan pada anaknya.


Anak itu seketika berjalan dengan tenang dan tanpa teriakan. Ia langsung menuju ruang tengah, di mana nenek dan kakeknya berada di sana. Bersalaman dengan tenang dan mengatakan ingin melanjutkan menyusun mainan yang semalam sempat tertunda.


"Iya, nanti kita lanjutkan. Ganti baju dulu," jawab Pak Malik.


Kedua laki-laki itu tidak membutuhkan waktu lama untuk tenggelam dalam dunia anak-anak. Sementara Bu Marissa acuh, memfokuskan diri melihat tontonan di televisi.


"Ini di mana, ya? Bukan-bukan, ah payah, kita tidak bisa menyelesaikannya dengaan cepat Opa."


"Serlahkan sama Opa. Biarkan Opa berpikir di mana ini tempatnya."


Mendengar kedua manusia di sampingnya meributkan hal sepele membuat Bu Marissa mau tidak mau mengalihkan perhatiannya pada mereka. Beliau memperhatikan sejenak mainan yang berceceran di meja.


"Kenapa tidak mengerjakan yang mudah dulu? Dikerjakan yang lain dulu, kan bisa," ucapnya kemudahan.

__ADS_1


"Nggak bisa, Oma. Ini harus terpasang dulu biar bisa mengerjakan yang lain."


Entah sadar atau tidak, Bu Marissa menurunkan tubuhnya dan ikut menuntaskan permainan yang sejak tadi diributkan suami dan cucunya. Dan momen itu tertangkap oleh mata Nimas. Ia segera mengambil ponselnya dan mengambil gambar mereka bertiga yang sedang menundukkan kepala fokus pada mainan. Senyum mengembang sempurna di bibir Nimas.


[Kekhawatiran kamu nggak terbukti, Mas. Coba lihat ini, kamu nggak akan lagi khawatir kalau Mama akan melakukan sesuatu yang merugikan kita. Menggemaskan bukan?]


Nimas mengirim foto kebersamaan mereka dengan disertai kalimat di atas. Betapa senangnya ia hari ini melihat kehangatan yang baru saja tercipta.


Sementara yang dikirimi pesan juga melakukan hal yang sama. Senyuman juga mengembang di bibirnya. Shaka merasa sedikit lega hanya karena sebuah gambar yang dikirim oleh istrinya.


[Jangan lupa suruh Bryan makan siang terlebih dahulu sebelum kalian. Dia harus tidur siang. Papa sama Mama belum terbiasa dengan kebiasaan Bryan. Mereka akan hanyut dan lupa waktu jika kamu biarkan. Mas meeting dulu, ya.] tak lupa Shaka menyisipkan emoticon peluk cium untuk sang istri.


Shaka kembali dihanyutkan dengan pekerjaannya. Hingga tak terasa sore hari sudah menyapa, ia pulang lebih awal karena ingin mampr ke rumah Bryan. Rasanya sudah sangat lama ia tak menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah Kakak satu-satunya itu.


Shaka berjalan dengan membawa sekantong bunga dan sebotol air kecil ditangannya. Rasanya ia ingin segera sampai dan menceritakan semua yang ia alami setelah menikah dengan Nimas. Meskipun ia tahu kakaknya tidak akan mendengar, setidaknya ia bisa sedikit lega dengan menumpahkan keluh kesahnya.


"Assalamu'alaikum, Kak. Maaf aku lama banget nggak ke sini. Aku sangat sibuk. Kau tahu? Aku yakin kau tahu, jika aku direpotkan oleh kekasih mu itu. Maafkan aku, karena mencintainya. Tapi tenanglah, aku mencintainya dan dia mencintaiku tanpa menggeser namamu. Kau akan tetap ada dihatinya. Meskipun tempatnya berbeda. Kau tahu, kak? Anakmu tumbuh seperti dirimu meski aku yang merawatnya, aku yang membentuk karakternya untuk menjadi seperti yang aku mau. Tapi rupanya karaktermu tetap memenangkannya." Shaka tertawa kecil namun matanya berkaca-kaca.


"Dia sudah besar, sudah mau masuk SD. Aku pernah punya rencana dengan Nimas, jika aku ingin memiliki anak lagi di saat Bryan kecil sudah lepas asi. Tapi, rencana kami hingga saat ini masih menjadi bayangan. Kadang aku berpikir ini adalah ujian untukku dan Nimas. Tapi kadang juga aku berpikir kalau ada masalah dengan diriku. Kau tahu, kak? Aku sangat takut membawa diriku ke dokter. Aku takut jika aku tidak bisa memiliki anak." Shaka sedikit mengeluarkan air matanya yang selama ini ia tahan di depan sang istri.


"Ah aku dari dulu nggak pernah berubah, aku selalu menangis di depanmu. Tolong jangan tertawakan aku seperti yang sudah-sudah." Shaka menghapus air matanya lalu menaburkan bunga yang tadi ia bawa.

__ADS_1


__ADS_2