Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
48. Bu Marissa Beraksi


__ADS_3

Nimas kembali mengecek bawaan suaminya selamat ia pergi untuk beberapa hari ke luar kota. Ini adalah pertama kalinya Nimas ditinggal Shaka dalam waktu yang lama. Entah kenapa hatinya terasa berat, terbiasa bersama setelah menikah, membuat Nimas tidak terbiasa jika harus berjauhan dengan suaminya itu. Ia nampak bersusah hati hari ini.


"Udah? Semuanya udah lengkap?" tanya Shaka duduk di samping kopernya.


"Udah, Mas. Semua udah lengkap. Kamu bisa pergi sekarang."


Shaka sadar, dari tadi pagi Nimas hanya diam, tak banyak bicara. Pria itu lalu menarik tangan istrinya dengan lembut. Ia biarkan Nimas berdiri di depannya. Ia mendongak menatap istrinya dengan lekat. Tangannya masih menggenggam erat jari jemari mungil Nimas.


"Aku, kan perginya nggak lama. Nggak akan sampai seminggu kok. Jangan begini, aku berat perginya nanti. Sini duduk!" kata Shaka menepuk kasur di sebelahnya.


"Aku hanya merasa sendirian saat nggak ada kamu di sini." Nimas berucap dengan sedikit bergetar.


Shaka tak menjawab, ia lebih memilih untuk membawa Nimas ke dalam dekapannya saja. Mengelus pelan kepala wanita itu dan memeluknya dengan erat.


Shaka sadar ada perasaan lain yang ia rasakan akhir-akhir ini. Pria itu tak ingat dan tak tahu kapan datangnya. Namun yang pasti, ia menyadari bahwa perasaan cinta itu hadir belakangan ini.


"Shaka, ayo kita berangkat!" ajak Pak Malik dari depan pintu.


Mereka akhirnya merenggangkan pelukan. Tangan Shaka menghapus air mata yang rupanya sudah membuat pipi istrinya basah kuyup.


"Aku berangkat, ya. Kalau ada apa-apa jangan lupa kasih tahu aku. Aku nggak pergi untuk selamanya, jangan sesedih ini. Aku akan kembali cepat untuk kalian. Aku janji, hm?" Shaka lalu mengecup singkat kemungkinan istrinya lalu turun ke perut buncit yang berisi bayi itu.


"Jagain Bunda dulu beberapa hari ke depan, ya. Jangan bandel bandel selama Ayah nggak ada di dekat Bunda." Shaka juga memberikan kecupan di perut Nimas. Setelah itu menggeret kopernya dan melabgkah keluar kamar dengan hati dan langkah yang sangat.


Ternyata begini meninggalkan istri saat hamil besar? Apalagi aku sudah mulai ada rasa sama Nimas. Tunggulah sebentar, aku ingin memberikan kejutan untukmu di saat aku pulang nanti.


Dengan menahan air mata dan kesedihan di balik senyuman, Nimas mengantar suaminya hingga teras. Bu Marissa pun melalukan hal yang sama.

__ADS_1


"Jangan sedih dan jangan terlalu di pikirkan. Satu Minggu nggak akan lama." Bu Marissa lalu pergi ke rumah setelah itu.


Nimas ikut masuk ke dalam rumah, ia merasa kesepian, bahkan di saat Shaka belum ada lima menit pergi dari rumah. Dan ternyata kesepian itu berlangsung hingga hari ke tiga berada di luar kota. Selama tidak ada suaminya di, rumah. Ia lebih banyak murung dan melamun di rumah. Padahal dalam dua puluh empat jam, Shaka menelepon Nimas berkali-kali.


"Nimas mau ikut Mama nggak? Kita jalan-jalan ke mall, yuk! Kamu nggak mau beli keperluan bayi memang?"


"Aku beli keperluan bayi nunggu Mas Shaka aja Ma. Mas Shaka udah nitip pesan itu sebelum berangkat ke luar kota."


"Oh ya sudah, kalau begitu kita jalan-jalan beli baju, beli makanan, atau beli apa pun yang kamu mau. Kamu gak bosan di rumah terus?"


Jika dipikir-pikir dengan jalan-jalan nampaknya bisa sedikit melupakan kesendiriannya. Nimas mengangguk pelan setelah berpikir beberapa saat.


Akhirnya di hari itu, pukul sepuluh pagi, mereka berdua berangkat ke pusat perbelanjaan. Ini adalah pertama kalinya mereka keluar bersama. Tidak ada percakapan di dalam mobil. Hanya sesekali Bu Marissa melirik Nimas dengan lirikan malas.


Kita lihat, setelah ini aku pastikan tidak akan ada Shaka di hidup kamu begitu pula juga sebaliknya.


Bu Marissa sedikit cemas, karena ponselnya tak kunjung berdering. Ia sedikit kesal, anak buahnya bekerja dengan lelet. Di saat mereka baru saja turun dari mobil, akhirnya yang ditunggu Bu Marissa terjadi juga.


"Nimas, tunggu sebentar di sini, ya. Mama angkat telepon dulu. Jangan ke mana-mana," kata Bu Marissa yang pergi menjauhkan diri dari Nimas.


Setelah wanita itu sedikit menjauh dari Nimas, datang dua orang secara diam-diam dan mengendap-endap. Langkah kakinya sangat pelan dan nampak tak bersuara.


Grap.


Dengan secepat kilat, salah satu di antara pria itu mendekap Nimas dengan sapu tangan. Tak butuh waktu lama bagi Nimas untuk tidak sadarkan diri. Di detik-detik berikutnya, Bu Marissa kembali dan meminta antek-anteknya untuk memasukkan Nimas ke dalam mobil.


Dan rupanya yang terjadi pada Nimas sampai di perasaan Shaka. Entah sudah berapa lama ia merasa perasaannya tidak enak dan terus kepikiran dengan istrinya. Perasaan yang ia rasakan kali ini sangat berbeda dari biasanya. Ia sedikit tidak tenang, cemas, dan panik tanpa sebab. Merasa perasaan itu semakin melebar ke mana-mana, ia memilih untuk menghubungi istrinya saja.

__ADS_1


Panggilan pertama tidak ada jawaban, panggilan kedua pun sama dan hingga akhirnya panggilan ke lima, nomornya tidak bisa dihubungi, tiba-tiba nomor sudah tidak aktif. Hal itu menambah kegusaran di hati dan pikiran Shaka. Ingin sekali ia melarikan diri dari tempat ini, namun pekerjaan yang masih harus diselesaikan tidak bisa membuatnya kemana-mana.


Ayo Shaka fokus, besok atau lusa kamu bisa pulang kalau pekerjaanmu selesai. Cepat selesaikan dan pulang!


Shaka memfokuskan dirinya pada kertas dan juga laptop di depannya. Kegundahan yang dialaminya membuatnya tidak fokus bekerja. Sedikit-sedikit ia menghubungi istrinya, namun nomornya masih tetap tidak aktif. Tidak seperti biasanya istrinya seperti ini. Selama menjadi istrinya, nomor Nimas tidak pernah mati.


Karena tidak sabar dengan hal ini Shaka akhirnya memutuskan untuk menelepon rumah.


"Non Nimas sama Bu Marisa tadi pergi berdua, Mas. Bibi juga nggak tahu ke mana. Soalnya nggak ada yang kasih tahu Bibi mau pergi ke mana."


Jawaban dari asisten rumah tangga yang sudah bekerja lama pada keluarga Saka itu, membuat pria itu menjadi berpikir yang tidak-tidak. Pasalnya, sebelum ia menghubungi rumah, ia sudah lebih dulu menghubungi Bu Marissa. Namun, nomor wanita itu juga sama tidak bisa dihubungi.


Ya Tuhan, lindungi istri dan anak yang berada dalam kandungannya. Aku mohon lindungi mereka saat aku sedang jauh seperti ini.


Kembali lagi pada Nimas yang masih tak sadarkan diri dengan dua preman yang kini membawanya ke dalam sebuah bangunan yang bernama hotel. Mereka menidurkan Nimas dengan rapi di sana. Mereka lalu pergi setelah mendapat perintah dari Bu Marissa.


Tak berselang lama, datanglah satu orang pria tampan. Tampilannya begitu fashionable, mempunyai kulit putih, rambut rapi dan wajah yang mulus. Jika dilihat dari wajahnya, pria itu masih nampak muda.


"Lakukan pekerjaan kamu sekarang!"


Bu Marissa dengan liciknya kembali mengaktifkan ponsel Nimas, namun mode silent di ponsel itu beliau aktifkan. Setelah itu, beliau merogoh tasnya untuk menyuntik Nimas dengan obat tidur.


"Selesai!" ujar Bu Marissa tersenyum jahat.


"Ingat, jangan lakukan apa pun, setelah kamu melakukan tugasmu. Tinggalkan dia!"


"Iya, Bu. Lagian mau saya apain? Orang lagi nggak sadar, mana hamil besar."

__ADS_1


__ADS_2