
Diam-diam Bryan bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar. Ia merasa kehadirannya tdak dianggap setelah kedatangan kedua adiknya. Ia merasa semua orang di sekelilingnya sudah direbut oleh kedua adiknya itu.
"Bryan mau ke mana, Sayang?" Nimas sedikit berteriak karena Bryan sudah berjalan sedikit jauh dari ruang tamu. Mendengar teriakan dari Nimas, semua orang berhenti melakukan kegiatannya dan refleks menoleh ke arah Bryan.
"Aku mau mengerjakan PR dulu, Bun. Nanti aku balik lagi kalau pr-nya udah selesai."
"Besok hari Sabtu, Sayang. Kita bisa mengerjakannya bersama-sama nanti malam atau hari minggu."
"Aku takut lupa, Yah. Nggak apa-apa aku kerjakan sekarang aja. Biar nanti aku main sama adik bisa puas, nggak mikirin pr." Bryan beralasan agar dirinya bisa segera pergi dari tempat itu.
"Ya sudah kalau begitu kamu kerjakan yang bisa aja, ya. Nanti yang nggak bisa kamu tinggal. Kita kerjakan sama-sama besok atau nanti malam."
Bryan hanya mengangguk lalu melanjutkan langkahnya. Bersamaan dengan langkahnya yang semakin menjauh akhirnya air matanya menetes.
Setelah kepergian Bryan, seluruh keluarga kembali fokus dengan dua bayi mungil yang memang saat ini masih menjadi pusat perhatian keluarga besar. Kedua pasang orang tua yang mendapatkan gelar nenek dan kakek itu nampak heboh sendiri karena mencari perbedaan dari keduanya yang belum terlihat. Di momen itulah kedua orang tua Nimas terasa dibuat lupa dengan kesalahan besannya di masa lalu.
"Ayah sama Ibu lama, kan nginep sini?" Shaka bertanya di tengah huru hara keributan yang para orang tua ciptakan.
"Hanya seminggu saja, Nak. Ayah, kan juga harus kerja."
"Ayah masih bekerja? Bukannya waktu saya dan Nimas berkunjung ke sana sudah kami larang. Kenapa masih bekerja, Ayah? Nino, kan sudah dapat pekerjaan."
__ADS_1
"Mau Nino sudah bekerja atau belum, Ayah ini masih sehat. Ayah masih bisa cari uang, nggak enak kalau nggak ngapa-ngapain di rumah sementara badan masih bisa dibuat gerak, masih bisa dibuat kerja, jalan juga masih cepat. Masa mau ongkang kaki di rumah. Ayah belum mau menjadi beban Nino."
"Sudahlah Kak, jangankan Kakak yang hanya menantunya. Aku yang anaknya aja nih, udah larang berkali-kali tetep aja ngeyel, tetep nggak mau disuruh istirahat. Jangan lupa Kak, istri Kakak juga sama ngeyelnya, sama batunya, itu memang karena ada bibitnya."
"Lah kok kamu jadi bawa-bawa Mbak, sih, No?"
***
Jika di lantai bawah sedang menebar kebahagiaan, berbeda halnya dengan Bryan yang seorang diri di kamar. Anak kecil itu terduduk dengan bersandar pada kepala ranjang dan menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya yang sudah ditekuk. Terdengar sedikit isakan yang menemani suara dentingan jam yang berada di dalam ruangan itu.
Entah sudah berapa lama Bryan berada di posisi itu. Dari senja yang sudah mulai menampakkan dirinya hingga terbit bintang dan bulan masih belum ada yang mendatangi anak itu. Masih belum ada yang menyadari bahwa anak itu sedang terluka hatinya.
"Ayah Bryan. Kenapa ayah ninggalin aku? Kalau aja Ayah nggak meninggal pasti aku tidak akan merasa sendirian. Ayah sama Bunda lupa sama aku karena ada dua adikku yang baru lahir. Aku tahu mereka sangat menunggu kehadiran adikku itu sangat lama. Jadi ketika dia lahir pasti akan menjadi kesayangan semua orang dan tidak ada yang sayang sama aku." Bryan kecil mengungkapkan kesedihannya di tengah isakan.
"Bryan, Nak, Ayah boleh masuk?"
"Boleh, yah."
Pintu mengayun ke dalam dan menampakkan sosok pria yang ketampanannya tidak diragukan oleh anak dan istrinya sendiri.
"Pr-nya udah selesai? Sini coba ayah lihat ada yang susah nggak?" Shaka memperhatikan anak itu dengan seksama, ia melihat matanya sedikit sembab dan merah. "Anak ayah habis nangis, ya. Kenapa?"
__ADS_1
"Nggak apa-apa kok, Yah. Ini tadi aku kelilipan terus aku kucek terus jadinya merah." Shaka tahu anaknya berbohong, tapi ia memilih untuk diam, tidak mendesaknya untuk bicara jujur, karena semakin ia melakukan itu, maka Bryan akan semakin menutup diri kepadanya.
"Ya udah nanti dikasih tetes mata, ya. Biar nggak merah lagi matanya, biar nggak perih juga. Terus mana pr-nya?"
Bryan sedikit gelagapan, karena pasalnya dirinya sejak tadi tidak mengerjakan apa pun selain menangis.
"Udah selesai kok, Yah. Nggak ada yang susah, semuanya aku bisa."
"Bagus kalau begitu. Tapi Ayah mau lihat, kamu ngerjainnya bener apa nggak. Kamu bisa menjawab semuanya bukan berarti jawaban kamu benar semua. Biar Ayah bantu betulkan kalau nanti ada yang salah. Coba mana lihat!" Shaka menengadahkan tangannya.
Bryan menampakan wajah yang gugup dan bingung. Di dalam kegugupannya itu, ia mengingat-ingat mata pelajaran apa yang ada PR dan sudah ia kerjakan. Air muka yang ditunjukkan Bryan tentu saja dengan mudah di baca oleh sang Ayah.
"Berhenti bohong sama Ayah, Nak."
"Bohong apa? Aku nggak bohong kok. Sebentar aku ambilkan bukunya." Bryan sudah menurunkan kakinya ke lantai, namun tangannya digenggam oleh Shaka.
"Kebohongan kamu adalah, yang pertama kamu nggak kelilipan, tapi kamu habis nangis. Yang kedua kamu nggak mengerjakan PR. Kenapa Ayah bisa bilang kalau itu bohong? Mata kelilipan nggak akan semerah itu meskipun dikucek. Dan masalah PR, Ayah nggak pernah minta berkali-kali untuk melihat PR kamu. Sekali Ayah minta PR kamu, dengan sigap kamu ambil bukunya. Sekarang saatnya kamu bilang sama Ayah, kamu cerita sama Ayah. Ada apa? Masih percaya sama Ayah, kan?"
Bryan tak bergeming, ia tak punya keberanian untuk mengatakan apa yang menjadi beban pikirannya. Ia berpikir bahwa ia merasa ia tidak pantas untuk protes soal kasih sayang dan nama Narendra yang tersemat di kedua adiknya, sedangkan dirinya tidak. Bukankan dirinya dan Shaka sebenarnya hanya berstatus keponakan dan Om nya? Sama seperti dirinya dengan Nino.
"Nggak ada apa-apa kok Ayah. Aku baik-baik saja. Ayah ke sini mau ngajak aku makan malam, kan? Ayo makan malam sekarang. Aku sudah lapar, pasti orang-orang juga sudah menunggu dari tadi, kan?" Brian berdiri dan menggeret ayahnya untuk keluar kamar.
__ADS_1
Untuk sementara, Shaka harus bersabar dan mengunci mulutnya dengan rapat-rapat dari rasa penasaran yang sudah menyeruak di kepala dan dadanya.