Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
74. Shaka. Bimbang


__ADS_3

Shaka menatap sang anak sejenak, lalu beralih pandangan pada Ibu dan juga istrinya. Pria itu memberikan kode pada istrinya untuk membawa Bryan bersamanya.


Seperti biasa, sepasang suami istri itu akan selalu mengerti apa yang dikatakan meski tanpa kata. Nimas lalu berjalan menuju anaknya dan berlutut di depannya agar tinggi mereka sejajar.


"Iya Sayang, oma ini neneknya kamu. Oma adalah Ibu dari Ayah. yuk, salim dulu, habis itu kita mandi, ya!"


Bryan menurut tanpa banyak bertanya. Bu Marissa tetap menyambut ukuran tangan cucunya dengan sedikit setengah hati. Meski anak kecil yang di hadapannya ini benar-benar mirip dengan Bryan tanpa meninggalkan barang sedikit pun yang setidaknya bisa menandakan Bryan adalah anak Nimas, Bu Marisaa masih menutup hati untuk anak kecil lima tahu itu.


Setelah bersalaman, Nimas menarik tangan Bryan untuk ikut dengannya sesuai keinginan sang suami. Setelah kepergian Ibu dan anak itu, barulah Shaka bicara dari hati ke hati dengan ibunya. Ia membawa wanita yang tak lagi muda itu untuk duduk di teras.


"Ini pilihan yang sulit buat aku, Ma. Aku nggak bisa balik ke rumah. Bukan karena aku marah atau masih kesal dengan Papa. Sungguh aku sudah melupakan kejadian bahwa aku sudah tidak diakui anak lagi olehnya. Aku hanya ingin rumah tanggaku baik-baik saja. Aku sudah sangat tenang dengan apa yang sudah aku punya. Aku bahagia dengan rumah tanggaku. Aku cinta sama Nimas, Ma. Cinta aku bukan karena aku merasa dibebani tanggung jawab oleh Kak Bryan. Tapi aku mencintai Nimas dari hatiku. Aku akan sakit kalau aku ingat Nimas diperlakukan tidak baik. Jadi, lebih baik aku putuskan untuk aku akan tetap menemui Papa, tapi tidak untuk kembali ke rumah. Janji, aku akan temui kalian setiap hari. Akan aku sempatkan waktu untuk kalian."


"Shaka, ini bukan masalah kamu mau menemui kami atau tidak. Kamu tahu, kami sudah tua. Di masa-masa seperti kami ini, tidak seharusnya kamu jauh dari kami. Apakah kamu tidak merasa kami ini keterlaluan sama kami, kami juga butuh kamu. Apa kamu tidak akan menyesal jika nantinya kamu akan terus seperti ini sampai orang tua kamu tiada?"


"Mama jangan bicara be..."


"Ya Mama harus bicara bagaimana? Mama udah menyesali semuanya, Mama sadar Mama salah. Mama kali ini tidak akan berjanji apa pun. Mama akan menerima Nimas jadi menantu Mama. Kita mulai semua dari awal lagi, Shaka."


"Apa yang menjamin Mama sidah berubah?"


"Kamu nggak akan tahu kalau kamu nggak pulang."

__ADS_1


"Aku akan bicarakan ini sama Nimas. Mama bisa pulang dulu sekarang."


Lagi dan lagi, Bu Marissa tersinggung dan sakit hati dengan anaknya yang sudah dua kali datang ke rumahnya dan dua kali pula mendapat pengusiran. Tapi beliau tidak menunjukkan sakut hatinya itu, beliau merasa hal itu justru akan mempersulit ajakannya untuk membawa pulang Shaka.


"Ya udah, Mama pulang sekarang. Mama harap kamu bisa segera pulang, setidaknya temui Papa dulu di rumah sakit. Ini, kamu kasihkan ke Bryan." Bu Marisaa menyerahkan sebuah pensil warna khas anak TK yang biasa disebut krayon.


Shaka menatap benda itu sejenak lalu menerimanya dengan ragu.


"Bagaimana Bryan kecil di mata Mama?"


"Dia sangat mirip dengan Bryan kita. Mama tadi sempat terkejut pas lihat dia, dilihat dari sisi mana pun wajah Bryan melekat dengan anaknya."


"Tidak, Mama, kan udah bilang tadi kalau Mama udah ngaku salah, udah menyadari kesalahan Mama. Bawalah mereka juga pulang rumah, pasti akan sedikit ramai jika ada Bryan di sana. Mama pulang, ya. Papa sendirian di rumah sakit."


Shaka masih berada di teras saat Bu Marissa perlahan menjauhkan dirinya dari rumahnya. Pria itu lalu menatap benda yang berada di tangannya. Entah kenapa Shaka merasa belum percaya sepenuhnya dengan ibunya sendiri. Ada beberapa hal yang terlintas di pikirannya.


Kenapa ibunya datang setelah lima tahun dirinya pergi dari rumah? Kenapa beliau baru memohon dengan sangat untuk kembali pulang ketika suaminya sudah sakit-sakitan? Kenapa selama kepergiannya beliau hanya mendatangi dirinya satu kali, lalu tidak lagi ada usaha untuk meminta maaf? Dan berbagai pertanyaan-pertanyaan lain tiba-tiba menyelinap masuk di kepala Shaka. Bukan bermaksud untuk berprasangka buruk, tapi rasanya seperti ada yang mengganjal saja di hatinya.


"Mama udah pulang, Mas?" tanya Nimas datang dengan secangkir teh manis hangat untuk suaminya.


"Udah, Dek. Baru aja pulang, ini tadi Mama juga ngasih ini buat Brian." Shaka menyerahkan satu kotak krayon itu pada istrinya. "Tadi sebelum Mas datang Mama ngomong apa aja?" imbuhnya.

__ADS_1


"Mama tadi sempat minta maaf sama aku. Mama sudah menyesali semua apa yang sudah dilakukan di masa lalu. Tadi Mama juga sempat bilang kalau Mama ingin kita kembali ke rumah. Aku tahu pasti ini berat buat kamu, Mas. Pasti kamu bingung harus bagaimana. Nggak ada salahnya kalau kita turuti Mama. Mama sudah minta maaf sama kita, Mama sudah berkorban mendatangi kita. Mama itu lebih tua dari kita loh, Mas. Mama itu orang tua kita, tapi beliau bersedia untuk datang ke sini, meninggalkan suaminya yang sedang sakit hanya untuk minta maaf sama kita dan meminta kita pulang. Apa Mas tega untuk tidak menuruti apa yang diminta sama Mama? Beliau selama ini nggak pernah minta apa-apa ke kita, kan?"


Nimas mengucapkan kalimat panjang itu dengan sepelan dan serendah mungkin seraya tangannya menggenggam erat dari jemari suaminya. Pertengkaran yang terjadi beberapa tahun lalu cukup membuat Nimas kapok dan tidak ingin mengulangi lagi perbuatannya itu. Perbuatan yang memicu pertengkaran dan tersinggungnya sang suami.


"Mas pikirin ini dulu, ya. Kalau untuk ketemu sama mereka okelah Mas nggak akan pikir panjang. Tapi kalau untuk balik ke rumah, Mas nggak bisa semudah itu mengambil keputusan."


Tak berselang lama, datang Bryan dengan wajah segarnya setelah mandi. Harum semerbak tubuhnya pun berhasil masuk ke dalam hidup hidung kedua orang tuanya.


"Wih, anak Ayah wangi banget."


"Oma mana?" tanya Bryan yang tak mengindahkan kalimat pujian Shaka.


"Pulang, Sayang. Oma buru-buru, Opa lagi sakit."


"Kan aku belum kenalan, kok udah pulang."


"Nanti malam kita ketemu lagi sama Oma, ya. Kita jenguk Opa yang ada di rumah sakit, nanti kamu bisa kenalan di sana," kata Nimas yang seketika mendapat tatapan tajam sekaligus terkejut dari suaminya.


"Mas nggak pernah bilang kalau kita mau jenguk Papa nanti malam, Dek," protes Shaka.


"Ya memang mau kapan lagi sih, Mas?Papa sakit loh. Mau jenguk orang tua sendiri kenapa harus nanti-nanti?"

__ADS_1


__ADS_2