
Selesai dari pemakaman beberapa hari yang lalu, nampaknya hati Bryan jauh lebih tenang. Perlahan namun pasti, kepribadian Bryan kembali muncul. Kepribadian yang hanya ia tunjukkan pada orang-orang disekitarnya. Kepribadian yang lebih banyak bicara dan ceria. Jika di depan banyak orang, anak itu cenderung lebih dingin dan acuh. Sama seperti Bryan dewasa saat berada di hadapan orang baru dan keramaian.
Sementara itu, hubungan Shaka dan ibunya ia paksakan untuk baik di depan semua orang. Meski dalam hati masih ada rasa kecewa yang bersarang, bukankah ia harus melakukan apa yang ia pada Bryan? Memafkan seseorang itu penting untuk kedamaian diri sendiri, memaafkan bukan berarti melupakan dan bisa menyembuhkan luka dengan cepat. Yang namanya luka pasti butuh proses untuk penyembuhan.
Sedangkan untuk hubungan Nimas dan Ibu mertuanya tetap sama. Bu Marissa yang masih mengibarkan bendera peperangan tentu saja masih disambut dengan jangan terbuka oleh Nimas. Pak Malik dan anaknya tahu akan peperangan telepati itu, yang membedakan adalah pengetahuan mereka yang menyebabkan kedua wanita itu bersitegang. Pak Malik masih bisa membaca bahwa hubungan Ibu mertua dan menantu itu masih sama-sama terbakar api. Suatu hari nanti pasti salah satu di antara mereka akan terbakar dengan sendirinya, dan di saat itulah mereka sudah hangus entah tersisa raga atau tidak.
Melihat wajah Bu Marissa yang sedikit pucat, membuat hati Nimas tergerak untuk bertanya. Yah, setidaknya kepura-puraan ini bisa membuat semua nampak baik-baik saja.
"Mama terlihat pucat, apakah Mama sedang tidak sehat?"
"Sehat. Saya nggak apa-apa."
"Oh, ya Pa. Hari ini Papa jadi menghadiri undangan sahabat Papa? Kalau, iya. Aku akan hubungi asisten pribadiku menemani Papa saja."
"Jadi, nanti jam sembilan Papa berangkat."
***
Setelah kepergian semua orang, Nimas memilih ke taman untuk menghabisi waktu di sana. Ia sudah membayangkan membaca novel di salah satu kursi yang terpasang di bawah pohon rindang dengan tiupan angin yang semilir seperti dan akan mengenakan dan menyejukkan.
Pergerakan dari Nimas sejak tadi tidak luput dari pengawasan Bu Marissa. Gerak gerik yang beliau tunjukkan seakan beliau ingin melakukan sesuatu yang tidak diketahui oleh Nimas. Hal itu terbukti dari ekor matanya yang mengikuti ke mana saja Nimas melangkahkan kakinya.
__ADS_1
Hingga tibalah saat Nimas meninggalkan rumah dan bejalan menuju taman samping rumah dengan sebuah nampan di tangannya. Nampan yang bersisi jus buah, berbagai camilan serta tak lupa sebuah novel bergenre romantis tergeletak di pinggir nampan. Ada sedikit perbedaan yang dirasakan Nimas akhir-akhir ini, ia meras mulut dan perutnya seakan kompak untuk terus diberi asupan entah itu minuman atau makanan. Rasanya tidak enak jika mulutnya itu diam tak ada pergerakan.
Begitu Nimas sampai di bangku taman, Bu Marissa melangkah dengan cepat ke kamar anak menantunya itu. Beliau menyampingkan rasa pusing yang beberapa hari melanda dirinya. Ada sesuatu yang ingin beliau lakukan di kamar itu. Apalagi jika bukan mencari hasil pemeriksaan Nimas yang beliau lihat beberapa waktu lalu. Meskipun beliau tidak tahu di mana menantunya itu menyimpan hasil itu, beliau akan terus mencari sampai dapat dan harus hari ini beliau dapatkan
Karena ini adalah kesempatan emas dan langka, kesempatan yang tidak datang dua kali. Beliau tidak mau dengan membiarkan momen ini berlalu tanpa menghasilkan sesuatu, malah akan membuat Shaka mengetahui hasil pemeriksaan Nimas dan membuat anaknya menjadi down. Sekali lagi, Bu Marissa terlalu menakutkan hal yang sebenarnya belum tentu itu kebenarannya dan jikalau apa yang beliau pikiran benar adanya. Jalan keluar pun masih bisa dicari dan dijalani. Pikiran beliau yang sempitlah yang membuat Bu Marissa kembali melalukan kesalahan.
Bu Marissa mengobrak-abrik kamar anak menantunya dengan gerakan cepat. Setiap sudut kamar yang beliau datangi sekarang tidak luput dari tangan jahilnya yang bekerja seperti seorang pencuri. Beliau mencari dengan mulut yang terus bergumam karena selain terlalu lama mencari, beliau juga menahan sakit kepala yang beberapa hari terakhir beliau tahan.
"Astaga, di mana wanita itu menyimpan hasil pemeriksaannya? Hampir seluruh sudut ruangan sudah terjamah, tapi kenapa nggak ketemu-ketemu?"
Sedetik setelah gumaman yang entah ke berapa itu, Bu Marissa menemukan sebuah kotak di laci yang baru saja terbuka kuncinya.
Sekali, dua kali mencoba Bu Marissa tak mampu membuka kotak yang ada ditangannya. Beliau mondar-mandir di dekat lemari memikirkan kembali angka yang menurut Nimas spesial.
"Tanggal pernikahan mereka berapa, ya? Ya ampun, bisa-bisanya aku lupa. Tanggal pernikahan aja aku nggak tahu, gimana hari lahir Nimas? Apa tanggal lahir Shaka?" Bu Marissa kembali mencoba mengetikkan angka tanggal lahir Shaka di sana.
Bu Marissa membuka mulutnya lebar-lebar begitu kotak itu berhasil terbuka. Tangan beliau dengan cekatan mengambil satu-satunya kertas yang berada di sama. Kertas yang terlipat cukup kecil, beliau membukanya untuk memastikan bahwa apa yang beliau cari berhasil beliau temukan.
Lalu beliau melipatnya dengan rapi dan mengembalikan kotak tersebut ke tempatnya. Setiap sudut yang berserakannya beliau kembalikan ke tempat semula agar tidak ada kecurigaan di mata Nimas bahwa ada sesuatu yang hilang dari kamarnya.
Dengan gerakan yang tidak kalah cepat pula saat masuk kamar, beliau keluar kamar dengan langkah seribu sama seperti saat dirinya masuk tadi.
__ADS_1
Namun, siapa sangka pergerakan Bu Marissa yang cepat tidak mampu membuat dirinya keluar kamar Nimas dengan mudah. Saat Bu Marissa membuka pintu, di saat yang bersamaan Nimas berada di tengah-tengah pintu dengan wajah yang terkejut.
"Mama ngapain di kamar saya?"
Bu Marissa yang masih memegang kertas di tangannya segera menyembunyikannya di balik punggung. Nimas melihat pergerakan itu.
"Ada yang Mama ambil? Apa yang Mama ambil." Nimas berusaha meraih sesuatu yang berada di punggung Ibu mertuanya. Namun wanita yang tidak lagi muda itu cukup cekatan untuk menghindari serangan tangan dari Nimas.
"Cukup bermain-main, ya Ma! Apa yang Mama ambil? Segera kembalikan!" Nimas menengadahkan tangannya.
"Coba saja kalau kamu bisa!" Bu Marissa berlari keluar kamar.
Nimas tidak mau kalah, jika wanita itu berlari maka ia pun akan berlari.
"Mama berhenti, Ma! Kembalikan apa yang Mama ambil dari saya!" Nimas memperingatkan Ibu mertuanya seraya terus menuruni anak tangga dengan cepat secepat langkah Bu Marissa.
Namun kemalangan tidak bisa dihindari Bu Marissa. Wanita itu berlari dengan keseimbangan tubuh yang kurang sehingga membuat kakinya terkilir dan tubuhnya terguling ke bawah.
Kejadian yang begitu cepat tidak memungkinkan Nimas untuk meraih tangan Bu Marissa untuk menolongnya. Langkahnya terhenti seketika di tengah yang tangga. Darah segar mengalir dari kepala Bu Marissa.
"Mama!"
__ADS_1