Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
81. Melawan


__ADS_3

"Jawab, Dek! Habis dari mana? Kan nggak mungkin kalau habis beli camilan doang berjam-jam."


"Iya, aku habis ketemu sama teman sekampung. Kebetulan dia baru aja kerja di sini. Maaf kalau bikin kamu khawatir, ya. Lain kali aku akan izin. Udah makan? Ayo makan kalau belum." Numad berusaha untuk mengalihkan topik.


"Kamu urusin Bryan dulu. Kamu, kan tahu kalau dia nggak akan tidur siang kalau nggak kamu yang turun tangan. Habis itu kita makan."


Nimas mengangguk dan berjalan ke dapur terlebih dahulu. Ia meletakkan belanjaan yang untungnya sempat ia beli di supermarket untuk dijadikan alasan jika ada pertnyaan ini dari Ibu atau Ayah mertuanya. Tak ia sangka yang bertanya malah suaminya sendiri.


"Harus curiga, Shaka. Dia bertemu sama siapa. Nanti malah kejadian yang nggak-nggak." Bu Marissa datang dengan membawa hasutannya.


"Nggak perlu, Ma. Aku percaya dia nggak akan aneh-aneh." Shaka berjalan meninggalkan ibunya ke kamar.


"Shaka, jangan lupa kamu tanyain itu Nimas udah minum jus apa belum? Buah zuriatnya juga!" Bu Marissa sedikit berteriak karena jarak mereka yang agak jauh.


"Iya!" balas Shaka tanpa menghentikan perjalanannya yang sudah sampai di tengah tangga.


***


Pukul satu siang, Shaka kembali ke kantor. Rumah kembali sepi, karena Bryan dan Pak Malik yang sedang istirahat siang. Tinggalah Bu Marissa dan Nimas yang masih menegakkan tubuhnya dengan sadar.


"Habis dari mana kamu? Suami kerja, bukannya duduk diam di rumah, malah kelayapan. Habisin uang lagi. Beli makanan yang nggak bermutu."


"Kelayapan? Bahkan selama saya tinggal di sini. Baru kali ini saya keluar rumah setengah hari. Kalau soal untuk menghabiskan uang, uang yang diberi okeh Mas Shaka itu hak saya. Lagi pula yang sering keluar rumah dan menghabiskan uang itu Mama. Saya yang istrinya..."


"Tapi saya ibunya," potong Bu Marissa cepat.

__ADS_1


"Iya, tahu. Bryan juga tahu kalau Mama adalah Ibu dari Mas Shaka. Surga memang ada di telapak kaki Mama. Surga Mas Shaka nggak akan pernah pindah ke kaki saya, saya tahu, Ma. Tolonglah, saya, kan sudah kembalikan anak Mama ke Mama, apalagi yang kurang? Tidak bisakah, Mama hidup dengan tenang dengan tidak menggangguku?"


"Sudah mulai berani kamu sama saya, ya. Memang kamu itu tidak punya sopan santun Nimas. Saya akan pastikan kamu kehilangan kepercayaan dari Shaka. Saya tidak akan menyerah, saya akan terus mengganggu dan membuat hubungan kalian retak."


"Coba saja kalau Mama bisa!" Nimas berbalik badan dan meninggalkan meja makan, tak ingin berlama-lama berdebat dengan wanita yang sudah melahirkan suaminya.


"Tentu saja saya bisa, kamu tidak lebih dari seorang wanita yang tidak berguna. Memberikan Shaka anak saja kamu tidak bisa," olok Bu Marisa dengan jahatnya.


"Kata siapa saya tidak bisa memberikan anak? Saya bisa kok kasih anak, tapi coba Mama Pikirkan apakah ada di keturunan Mama atau Papa yang sulit memiliki anak. Entah itu dari pihak laki-laki atau perempuan. Mama pikirkan dan terka sendiri jawabannya," balas Nimas dengan percaya diri seraya berbalik badan.


Bu Marissa tidak terima dengan kalimat yang dengan mudahnya meluncur begitu saja. Kalimat yang beliau dengar seakan menghina anak dan keturunannya bahwa mereka yak memiliki kesuburan yang bagus.


Wajah Bu Marissa berubah menjadi lebih marah. Dengan Nimas sudah miali berani menjawab ucapannya dengan tanpa takut saja, beliau sudah merasa ada bara api yang berkobar di tubunnya. Dan sekarang malah Nimas mengatakan hal yang tidak mengenakkan, tentu itu sama saja menyiram api tersebut dengan bahan bakar.


"Kalimat mana yang menghina? Mana ada saya menghina keluarga suami saya. Saya, kan hanya ingin Mama mengingat-ingat. Ada atau tidak? Bukan siapa? Benar, kan? Saya rasa kita sudah kebanyakan energi dan waktu untuk berdebat. Jadi lebih baik kita akhiri saja sampai di sini."


Nimas kembali melanjutkan langkah. Namun, siapa sangka saat badannya berbalik arah, ia melihat Shaka berdiri tidak jauh darinya. Ia menatap Nimas dengan wajah yang datar. Tidak menunjukkan ekspresi apa pun.


"Mas, kamu kembali? Apa ada yang tertinggal?" tanya Nimas santai, padahal dadanya sedang bergemuruh menahan cemas, khawatir, dan gugup.


"HP Mas tertinggal di kamar. Bisa kita bicara sebentar?" Shaka tanpa menunggu jawaban dari Nimas melangkah menuju kamarnya yang diikuti oleh Nimas dengan tetap berjalan elegan. Ia tidak mau menunjukkan pada Bu Marissa bahwa dirinya sedang merasa tidak baik-baik saja.


Rasain kamu, Nimas. Setelah ini pasti kamu di introgasi habis-habisan. Nikmatilah hasil ucapanmu sendiri.


"Ada apa, Mas? Kenapa kamu terlihat sangat serius? Kamu membuat aku takut."

__ADS_1


"Kenapa takut? Kamu sedang tidak berbuat sesuatu, kan?"


"Maksudnya?"


"Ada apa? Kenapa kamu debat sama Mama? Nggak biasanya istri Mas galak, hm?" Shaka bertanya dengan nada lembut dan membenarkan letak anak rambut istrinya yang ia selipkan di belakang telinga.


Nimas sedikit menundukkan kepala, ia sangat takut jika suaminya salah paham dan itu malah menunjukkan kekalahannya dan kemenangan atas Bu Marissa, hanya itu yang Nimas khawatirkan.


"Apa kamu dengar semuanya, Mas?" Nimas menjawab pertanyaan Shaka dengan kembali bertanya.


"Nggak. Makanya, Mas tanya ada apa? Apa Mama melakukan sesuatu?"


"Nggak, hanya salah paham kecil saja. Mama negur aku karena katanya aku harus duduk diam di rumah dan tidak terlalu menghabiskan uang. Mas, baru kali ini aku keluar rumah selama kamu kasih izin aku buat ke mana pun aku pergi. Aku juga nggak pernah menghamburkan uang untuk membeli sesuatu yang tidak kita butuhkan. Aku beli camilan untuk semua orang, bahkan Papa juga bisa makan."


"Iya, Mas nggak akan pernah larang kamu beli apa pun yang kamu mau. Mas kerja, kan memang buat kamu sama anak kita, buat keluarga Mas juga. Terus kenapa tadi ada kata-kata menghina?" Shaka masih mempertahankan nada bicaranya yang lemah lembut. Kali ibunya bicara seraya mengelus jari jemari istrinya. Hal itu ia lakukan agar Nimas merasa nyaman saat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Agar tak ada yang ia tutupi.


"Ya aku tadi nggak sengaja bilang kalau aku sama Mama nggak jauh beda. Bahkan yang lebih sering keluar rumah dan menghabiskan uang, kan Mama. Maaf, Mas aku bersikap kurang ajar. Aku minta maaf." Nimas menunjukkan rasa bersalah dan memohon.


Shaka terlihat menghembuskan nafas panjang. "Ya udah, nggak apa-apa. Lain kali diperhatikan lagi ucapannya, ya. Dijaga emosinya, belajar untuk tidak menyakiti hati orang. Meskipun kita tersakiti, jangan dibalas. Percaya sama, Mas. Balasan Tuhan lebih baik dari apa yang kita lakukan. Mas nggak bermaksud untuk ngebela Mama. Mama juga salah kalau bicara begitu ke kamu. Tapi, tindakan kamu juga tidak bisa Mas benarkan. Ngerti, kan?"


Nimas hanya mengangguk.


Shak bicara seakan dirinya tidak pernah menyakiti ibunya. Jusru karena ia pernah menyakiti ibunya dan menyesal, ia tidak mau Nimas juga mengalami hal yang sama.


"Ya udah, Mas balik, ya. Jangan lupa istirahat, kamu bisa minum jus dulu sebelum tidur siang." Shaka mengecup kening istrinya lalu pergi dari kamar.

__ADS_1


__ADS_2