Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
16. Dipertemukan


__ADS_3

Sore harinya di hari yang sama Nimas dan Shaka sedang membelah jalanan menuju rumah orang tua Shaka. Menikmati sore hari yang sedikit mendung membuat udara di sekitar menjadi lebih dingin dari biasanya.


Cuaca saja mengerti kondisi hati mereka yang sama-sama mendung. Semua kejadian akhir-akhir ini begitu mendadak. Hal itu membuat mereka sedikit memaksakan hati dan dirinya untuk siap melakukan perubahan besar dalam hidup mereka.


Setelah sepuluh menit mereka hening dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah mewah kedua orang tua Shaka. Hati Nimas sejak berangkat tadi tidak tenang, begitu sampai di rumah Shaka menjadi lebih tidak tenang lagi. Ingin sekali rasanya ia kabur dari dunia ini. Seandainya saja ia mempunyai ilmu menghilang, maka ia sudah melakukannya sejak kemarin-kemarin.


"Ayo turun, deg deg an, ya? Nggak apa-apa, Nimas. Mama kemarin udah bilang kalau udah merestui kita, nggak perlu memikirkan hal lain. Ada aku, ayo turun!" ajak Shaka yang mengerti kegundahan hati Nimas. Gadis itu nampak sedikit pucat meski lipstik merah jambu sedang mewarnai bibir tipisnya.


Dengan detak jantung yang masih berdetak tidak tenang, Nimas menurunkan kakinya ke halaman rumah Shaka. Tangannya mencengkram erat tali tas selempang yang bergantung di pundaknya.


Sedang asyik dengan kegugupannya, tiba-tiba saja tangan Shaka menarik tangan kanan Nimas dan menggenggamnya. Nimas yang terkejut dengan tindakan Shaka hanya menatap pria itu yang terus menariknya ke dalam rumah. Shaka seperti tidak ada beban saat membawa gadis itu untuk lebih masuk ke dalam rumahnya.


"Mama aku pulang," teriak Shaka dari ruang tamu.


"Iya Mama di depan TV," jawab Bu Marissa dengan teriakan pula.


Tanpa berkata apapun lagi, Shaka kembali menggeret Nimas untuk ke ruang tengah. Ternyata tidak hanya ibunya yang berada di sana, ayahnya juga sedang duduk di sofa ruang tengah dengan memangku laptop entah apa yang beliau kerjakan.


"Ma, Pa. Coba lihat siapa yang aku bawa."


Kedua manusia yang dipanggil Shaka itu refleks menoleh ke samping, wajah mereka yang tadinya santai tiba-tiba saja mendadak menjadi tegang dan kaku. Nimas yang merasakan perubahan itu seketika mengatupkan mulutnya dan mencengkeram erat tangan Shaka tanpa sadar.


Pria yang sedang digenggam erat tangannya oleh Nimas hanya memberikan sedikit elusan sebagai penanda agar ia bisa lebih tenang. Seakan sentuhan lembut itu memberitahu Nimas bahwa ia akan selalu ada untuknya.


"Siapa?" tanya Bu Marissa seraya berdiri.

__ADS_1


"Nimas, Ma. Siapa lagi?" jawab Shaka seraya menatap Nimas dan merenggangkan genggaman yang sejak tadi terpaut sejak di halaman rumah.


Seakan mengerti dengan renggangnya genggaman itu, Nimas menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan kedua orang tua Shaka.


Mereka nampak terpaksa, namun tetap melayani ajakan Nimas dengan senyuman yang hanya sedikit saja.


"Jadi ini perempuan yang dihamili oleh anak saya? Mari kita ngobrol di ruang tamu saja. Suami saya sedang menyelesaikan pekerjaannya, nanti akan menyusul ketika sudah selesai." Bu Marissa bicara dengan nada datar saja. Saking datarnya, Nimas yang peka terhadap sesuatu itu tak bisa merasakan apakah kebenciannya atau penerimaan yang beliau perlihatkan.


Mereka berjalan beriringan dengan Bu Marissa berjalan di depan. Di susul Nimas dan Shaka yang saling tatap memberikan tatapan yang memenangkan Nimas.


"Sudah berapa lama pacaran sama anak saya?" tanya Bu Marissa tanpa basa basi bahkan Nimas baru saja meletakkan pantatnya di sofa.


"Baru satu tahun yang lalu, Tante," jawab Nimas dengan menundukkan kepala. Tatapan menusuk dari Bu Marissa membuat nyalinya sedikit ciut.


"Mama, kenapa menanyakan hal yang tidak penting. Lebih baik bicara yang ringan-ringan saja. Obrolkan hal-hal yang membuat kalian akrab. Baju pengantin misalnya."


"Iya, tapi harus ada kesiapan juga, dong Ma. Oh, ya besok aku ada rencana untuk jemput kedua orang tua Nimas di kampung. Jadi Mama siapkan baju juga untuk mereka."


"Kampung? Orang tua Nimas di kampung?" ulang Bu Marissa sedikit terkejut.


Shaka hanya mengangguk.


Astaga, tidak pernah aku bermimpi untuk mendapatkan besan dan menantu orang kampung.


Tapi tunggu, aku bisa melakukan sesuatu untuk dijadikan kenang-kenangan sepanjang hidup mereka.

__ADS_1


"Kalau begitu, kita buat pesta yang besar saja. Mama kira Nimas udah nggak punya orang tua, makanya gaya pacaran yang tidak sehat dijalaninya hingga hamil."


"Mama," tegur Shaka. "Yang buat hamil anak Mama. Bukan orang lain. Kenapa bicara begitu?"


"Ya memang benar, kan? Gaya pacaran yang dilakukan tidak sehat, kan?"


"Iya, tapi jangan menyalahkan Nimas aja. Kata-kata Mama tadi seakan Nimas membuat dirinya sendiri hamil lalu meminta pertanggungjawaban Kak Bryan."


Gadis yang sedang dibela oleh Shaka itu semakin menundukkan kepala menahan sakit hatinya.


"Ya udah, iya. Bryan juga bersalah dalam hal ini. Kalau gitu apa yang bisa Mama bantu untuk menyelesaikan persiapan pernikahan kalian? Kalau orang tuanya Nimas bersedia untuk datang ke sini, ya sudah, kita harus buat pesta. Apa kata orang nanti kalau anak Mama satu-satunya menikah tanpa pesta. Apalagi Papa adalah kalangan pebisnis besar, akan sangat memalukan jika menikah hanya pesta biasa saja."


Shaka menghela nafas panjang, berusaha untuk tidak berdebat dengan ibunya di depan Nimas. Kata-kata yang di keluarkan ibunya sangat tidak mengenakkan hatinya. Kenapa harus membawa kekayaan dalam mempertanggung jawabkan kesalahan anaknya.


"Aku akan membicarakan ini dulu sama Nimas. Kan, yang menikah aku sama dia, jadi harus ada pendapat kita juga di dalamnya."


"Kamu menikah seakan-akan sama orang yang kamu cintai saja, Shaka."


Astaghfirullahaladzim, Mama kenapa bicaranya sejak tadi mancing emosiku?


"Bagiku menikah adalah menyatukan dua kepala, dicintai atau tidak, disukai atau tidak menikah tetaplah ikatan janji yang paling besar terhadap Tuhan. Jika sudah memutuskan untuk menikah, itu artinya pendapatku dan juga pendapat Nimas nantinya harus menemui keputusan di mana tidak condong pada salah satu di antara kita. Dan hal itu dimulai dari pesta pernikahan."


"Kamu mulai banyak bicara, Shaka. Kalau begitu uruslah pernikahan kamu sendiri. Kenapa juga kamu ajak-ajak dia ke sini?" sahut Pak Malik yang tiba-tiba bergabung bersama mereka di ruang tamu.


Tatapannya sangat kejam dan wajahnya terlihat mengerikan. Nimas sempat mendongak saat Pak Malik bicara, namun hanya beberapa detik saja. Ia terlalu takut melihat wajahnya yang menakutkan.

__ADS_1


Shaka berdiri hendak bicara, namun kalah cepat dengan mulut ibunya.


"Papa, Shaka anak kita, wajar kalau dia ke sini membicarakan pesta pernikahan. Mau terima atau tidak, memang Nimas harus menjadi menantu kita. Biarkan saja mereka menikah, Mama nggak mau kalau mereka malah kawin lari hanya karena amanah dari Bryan."


__ADS_2