
"Mama baik. Shaka, apa kamu nggak punya keinginan untuk pulang?" Bu Marissa tidak bisa basa-basi lagi.
"Maaf Ma, Mama bisa menemui aku kapan pun Mama mau, tapi tidak untuk kembali."
"Mama janji nggak akan ngulangi perbuatan Mama lagi, Nak. Kamu nggak kangen sama Mama? Kamu nggak kasihan sama Mama?" Bu Marissa mulai terisak.
"Hargai aku sebagai anakmu, Ma. Aku sudah sangat nyaman dengan kesendirianku ini. Mama kalau mau ketemu aku, Nimas atau Bryan nggak apa-apa kok, tapi aku tekankan sekali lagi, jangan paksa aku untuk pulang, karena aku tidak akan pernah ke sana lagi. Dan kalau Mama mau ketemu sama kita, pastikan aku di rumah. Kalau aku sedang tidak di rumah, jangan memaksa untuk ketemu sama Nimas atau anaknya. Bukannya aku tega atau jahat, ya Ma. Apa yang sudah terjadi tidak membuat aku bisa percaya lagi sama Mama."
Bagaikan ribuan panah yang menancap pas di ulu hatinya. Rasa sakit yang ditimbulkan oleh kata-kata Shaka membuat hati Bu Marissa lebih sakit daripada saat beliau melahirkannya.
Tidak berselang lama Nimas datang ke teras. Wanita yang baru saja menjadi ibu itu sedikit tersentak karena kehadiran sang Ibu mertua.
"Mama di sini? Kenapa nggak disuruh masuk, Mas?" Nimas menatap kedua manusia di depannya bergantian.
"Nggak usah, Mama sebentar aja kok, Dek. Lagian Mas mau kerja juga. Ini juga Mama mau pamit pulang."
Entah bagaimana cara menjelaskan perasaan Bu Marissa saat ini. Hati beberapa saat lalu dihujam oleh ribuan panah kini kembali dilempar ribuan peluru secara bersamaan. Hanya dengan sebuah kalimat sederhana, tapi mampu membuat Bu Marissa merasa tercabut nyawanya.
"Nimas, Mama mau...."
"Iya, Ma. Mama mau pamit pulang, kan sama Nimas? Sudah Mama pulang aja nggak apa-apa. Ini mumpung Bryan juga lagi tidur, biar Nimas juga bisa istirahat. Nih, Dek bawa Bryan masuk."
Shaka memotong ucapan ibunya dengan cepat karena ia merasa ibunya akan membujuk Nimas agar bersedia pulang dengannya. Shaka yang mulai memahami karakter Nimas berusaha untuk tidak membiarkan ibunya memohon padanya.
"Tapi, Mas..."
__ADS_1
"Mas bilang masuk, Dek!" Shaka bicara dengan nada rendah, namun penuh penekanan.
Jika sudah seperti itu, Nimas tidak bisa lagi membantah, ia segera mengambil alih Bryan dan membawanya ke dalam rumah. Sekarang tinggal Shaka dan ibunya.
"Aku mau kerja Ma, Mama bisa kembali lagi besok pagi. Aku kerja pulang malam soalnya."
"Kamu usir Mama?"
"Nggak ngusir, Ma, tapi gimana lagi? Aku harus kerja, kan? Kalau aku membiarkan Mama sama Nimas berdua di sini, pasti nanti Nimas ngajak aku ke rumah lagi setelah mendengar cerita sedih Mama."
"Ya udah kalau gitu, Mama pulang. Mungkin besok Mama balik lagi."
"Silakan."
Shaka hanya melihat punggung ibunya yang perlahan menjauh. Tidak ada yang tega memperlakukan ibunya seperti itu, ini terpaksa Shaka lakukan untuk melindungi istrinya. Ia tidak mau jika rumah tangganya dihancurkan lagi oleh ibunya sendiri. Meskipun Shaka juga sebenarnya merasakan sakit memperlakukan ibunya seperti ini, tapi bukankah melindungi istrinya juga menjadi kewajiban untuknya?
"Mama mana, Mas?" tanya Nimas yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah.
"Pulang, kan udah Mas bilang dia mau pulang, Dek. Kenapa?"
"Ya nggak apa-apa, Mas. Aku, kan cuman nanya."
"Ya udah, Mas berangkat kerja dulu, ya. Kalau Mama kapan-kapan ke sini nggak ada Mas, jangan dibuka pintunya, jangan ditemui."
"Mas, kamu kok gitu, sih. Mama orang yang ngelahirin kamu, loh. Kita boleh marah, boleh kecewa, tapi jangan keterusan nggak baik juga."
__ADS_1
"Iya Mas tahu Mama yang lahirin, Mas. Tapi bukan berarti Mama nggak pernah punya salah. Mama punya salah sama kita, kesalahan itu besar, Mas nggak akan percaya begitu saja setelah semua rentetan kejadian yang terjadi itu. Mama bisa melakukan kejahatan di balik kebaikannya di depan Mas. Tidak ada yang menjamin hal ini tidak akan terulang kembali."
"Ya, tapi kita harus kasih kesempatan kedua buat Mama,kan? Semua orang punya salah, Mas. Bahkan aku pun orang yang kamu belain mati-matian ini kesalahannya besar."
"Kesempatan kedua memang ada, tapi tidak semua orang dapat."
"Ya terus kamu nggak kasih kesempatan kedua Mama kamu gitu?"
Di sini Nimas mulai kesal, entah apa yang membuatnya kesal. Ia hanya merasa bahwa tindakan Shaka terhadap ibunya keterlaluan. Mungkin karena ia juga sekarang ini menjadi Ibu. Jadi perasaan Nimas lebih sensitif soal anak.
Shaka dibuat sedikit terkejut dengan nada bicara Nimas yang sedikit meninggi. Hal ini adalah pertama kalinya dalam pernikahan mereka mereka bertengkar sehebat ini. Shaka yang sejak kedatangan ibunya tadi mood-nya sudah tidak enak dan sekarang ditambah lagi Nimas yang sudah mulai berani bicara meninggi padanlnya membuat ia tersulut emosi.
"Kamu sadar, Dek, kamu bicara sama siapa?" tanya Shaka masih benar-benar berusaha menekan emosinya yang sudah di puncak kepala.
"Iya, Mas aku sadar aku bicara sama suami aku. Ayo dong, Mas kita buka sedikit demi sedikit maaf kita untuk orang tua kita. Kita ini sudah jadi orang tua, suatu saat nanti kita juga akan punya kesalahan. Kamu mau Bryan memperlakukan kita seperti kamu memperlakukan orang tua kamu?"
"Memang Mas memperlakukan orang tua Mas kayak gimana, sih? Mas berontak sama mereka karena mereka salah Nimas. Dan lebih parahnya mereka tidak sadar dengan kesalahan mereka. Lain halnya kalau mereka menasehati Mas dan Mas malah berontak, itu salah namanya. Kamu boleh bicara seperti itu ketika Mas bersikap durhaka sama mereka."
"Tapi cara kamu ini bukan berarti cara yang benar, kan Mas? Masih banyak cara untuk menyadarkan mereka bahwa mereka salah."
"Ya udah kasih tahu Mas bagaimana caranya?" Nada bicara Shaka mulai sedikit meninggi.
Nimas memberikan respon yang sama seperti Shaka tadi. Ia sedikit terkejut hingga tidak bisa berkata-kata lagi.
"Nggak bisa jawab, kan? Nggak tahu, kan caranya bagaimana untuk menyadarkan mereka selain cara ini? Mas begini juga karena ada alasan yang kuat, Dek. Mas emang marah dan kecewa sama mereka, tapi bukan berarti Mas udah nggak sayang, Mas melakukan ini justru karena Mas sayang sama mereka. Mas juga sayang sama kamu, kamu tahu nggak? Kamu sekarang itu hidup Mas, Dek. Kamu dunianya Mas. Gimana bisa Mas biarin dunia Mas dibuat hancur? Mas nggak tahu jalan pikiran kamu, Mas begini juga buat kebaikan kamu. Udah cukup! Mas berangkat."
__ADS_1
Shaka pergi dari hadapan Nimas tanpa melakukan rutinitas mesranya.