Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
92. Kepedulian Dalam Amarah


__ADS_3

"Sudah cukup sudah, kita ini keluarga. Jangan seperti ini. Kamu Ma, mulai saat ini stop mengekang, menekan, dan menuntut anak menantumu ini itu sesuai seperti yang kamu mau. Mereka punya kehidupan sendiri, yang melanjutkan kehidupan nantinya mereka, kamu nggak ada hak untuk mencampuri dan masuk ke dalam rumah tangga mereka. Shaka memang anakmu, tapi dia punya kehidupan sendiri, tidak selamanya dia harus bersembunyi dalam ketiakmu. Dan kamu Nimas, jadikan kejadian ini kejadian terakhir. Jangan melakukan sesuatu yang kamu sendiri sebenarnya sudah tahu resiko apa yang akan kamu terima. Jangan peduli dengan tekanan dan himpitan yang kamu terima. Ini ujian, dalam kehidupan ujian tidak akan ada habisnya."


Keduanya hanya diam, Pak Malik yang sekarang benar-benar membuat Shaka terpana. Ya, Shaka. Pria itu sejak tadi sudah berdiri di dekat dinding, tidak ada yang menyadari kehadirannya.


Sosok pria yang dahulu ia kenal egois, memandang orang lain sebelah mata, dan sombong, kini sudah benar-benar berubah. Betapa bangganya saat ini ia pada siang Ayah.


Setelah merasa lama bersembunyi di balik dinding, Shaka beranjak dari sana. Dengan santai dan seakan tak mendengar apa-apa, ia berjalan langsung menuju kamar tanpa berkata apa pun.


"Mas, kamu udah pulang? Makan dulu, Mas. Kamu belum makan dari tadi siang." Nimas menghadang jalan sang suami dan menatap wajahnya yang terlihat lelah.


"Udah, aku udah makan. Aku mau istirahat aja." Shaka kembali melangkah.


Lagi-lagi Nimas hanya mampu menatap punggung Shaka. Betapa hancurnya hatinya saat ini.


"Nimas, lebih baik kamu yang makan. Kamu belum makan juga dari tadi. Kamu urus kami berdua dengan baik, tapi kamu sendiri kurang peduli sama diri kamu." Ucapan Pak Malik membuat Shaka menghentikan langkah di tengah-tengah tangga.


Shaka memang masih marah pada istrinya itu. Apalagi ia baru saja mendengar bahwa dirinya juga dikekang oleh sang Ibu ketika dirinya tidak berada di rumah. Shaka sendiri tidak menyangka bahwa ibunya bisa berbuat seperti itu pada menantunya sendiri. Apa yang ia dengar tadi menambah luka hatinya dan Nimas merahasiakan ini darinya. Sungguh ia merasa tidak berguna sebagai suami.


Shaka kembali turun dari tangga, "Kamu belum makan? Makan sekarang! Akh temani." Shaka meraih pergelangan tangan Nimas dan membawanya ke meja makan.


Nimas hanya menurut saja, ia bertanya-tanya dalam hati apakah suaminya ini sudah memberi maaf padanya? Tapi bukankah semarah apa pun Shaka padanya, pria itu tetap peduli dengan dirinya? Jadi ia sudah memberi maaf atau memang hanya menunjukkan kepeduliannya?  Begitulah kira-kira yang ada di kepala Nimas.


"Kamu juga makan, Mas. Aku tahu kamu bohong. Kamu belum makan."

__ADS_1


Nimas mengambil piring dan mengisinya dengan nasi, tak lupa ia letakkan lauk pauk beserta teman-temannya dan menyodorkannya pada suaminya. Namun, Shaka tak bereaksi apa-apa.


"Kamu minta aku makan, kamu juga harus makan, Mas. Aku nggak akan makan kalau kamu juga nggak makan."


Mendapat kalimat seperti itu membuat Shaka tidak punya pilihan lain. Meskipun kini perutnya sedang lapar, ia tidak ada nafsu untuk makan atau memasukkan apa pun ke dalam mulutnya. Akhirnya mereka makan malam berdua dalam keheningan.


Selesai makan malam yang terasa lama itu, mereka sama-sama masuk kamar dalam keheningan juga. Suasana nampak canggung saat mereka sama-sama duduk di tempat tidur.


"Mas, aku minta maaf. Jangan diamkan aku seperti ini. Katakan apa yang harus aku lakukan supaya kamu maafin aku!"  Nimas merebahkan kepalanya di dada budang sangat suami.


"Memaafkan itu mudah, Dek. Yang susah itu ngilangin lukanya dan meredakan amarahnya. Nggak ada yang harus kamu lakukan untuk mendapatkan maaf dari Mas. Kamu udah Mas maafin, sekarang kita tidur, ya. Harus istirahat."


Shaka kembali dengan kebiasaannya, nada bicara yang sudah mulai kembali seperti biasa mambuat Nimas sedikit lega meskipun ia harus menerima bahwa suaminya masih sangat kentara masih dalam perubahan dalam sikap.


Ayolah Shaka, jangan pikirkan ini terus. Kamu masih bisa punya anak. Kemungkinan itu masih ada, kamu nggak mandul Shaka. Please berhenti berpikir yang tidak-tidak kalau kamu ingin punya anak.


Dibalik sikapnya yang dingin itu, Shaka menyimpan kesedihan yang dalam untuk dirinya sendiri. Sejak tadi ia kesulitan untuk menenangkan dan meyakinkan dirinya sendiri untuk lebih tenang.


***


Nimas terbangun saat alarm di gawainya berbunyi nyaring. Nimas mengerjap dan mendapati Shaka yang sudah tidak ada di ranjang. Wanita itu seketika terduduk mencari keberadaan sang suami. Tidak biasanya suaminya itu terbangun lebih dulu dari dirinya.


Tak berselang lama muncul lah orang yang ia cari itu dari balik kamar mandi.

__ADS_1


"Mas, tumben kamu udah bangun udah mandi lagi."


"Iya ada meeting pagi di kantor, Mas harus berangkat pagi."


"Tapi ini masih jam enam, Mas. Masa kamu berangkat sekarang?"


"Nggak. Cuma siap-siap aja. Nanti Bryan berangkat kamu antar aja, ya. Mas khawatir kalau kejebak macet."


Entah perasaannya saja atau memang Shaka menghindarinya, yang jelas itu yang Nimas rasakan, ia merasa Shaka sedang berusaha untuk menghindarinya.


Nimas tak mau larut dalam pikirannya itu, ia berusaha untuk berpikir positif dan memulai kegiatan yang biasa ia lakukan.


***


Di meja makan, Nimas tak pernah lupa untuk melayani seluruh anggota keluarga. Jika biasanya Nimas hanya melayani suaminya saja, kini ia harus melayani kedua mertuanya. Meskipun kemarin ia dan Bu Marissa sempat bersitegang, ia tetap melayani seperti biasa.


"Nimas, Maka biar Papa aja yang suapin, kamu makan. Kamu akhir-akhir ini makan terlambat karena tangan Mama yang sedang cedera." Pak Malik yang merasa sungkan berusaha untuk mengambil alih apa yang biasa di lakukan menantunya.


"Nggak apa-apa, Pa. Aku yang sehat di sini, aku yang akan rawat kalian."


Shaka memperhatikan Nimas. Wanita itu menampakkan wajahnya yang biasa saja, seakan ia tidak pernah bertengkar dengan ibunya kemarin. Shaka salut dengan wanitanya itu, meski diperlakukan tidak manusiawi oleh ibunya sendiri, ia nampak sama sekali tidak menyimpan dendam.


"Dek, apa yang dibilang Papa benar. Kamu harus peduli juga sama kesehatan kamu. Nggak apa-apa kalau pas sarapan begini Papa yang suapin, nanti pas makan siang kamu, gantian aja nggak apa-apa. Papa, kan tangannya nggak apa-apa. Nggak akan jadi masalah kalau Papa sesekali bantu Mama, biar romantis juga."

__ADS_1


Mendengar kalimat terakhir Shaka membuat Bu Marissa dan Pak Malik sontak tersedak bersamaan.


__ADS_2