
"Malam ini tidur di sini dulu, ya. Mungkin akan sampai weekend. Jadwal aku padat banget soalnya. Jadi nggak bisa kalau cari rumah dalam waktu dekat." Shaka mengatakan itu saat sang istri membenarkan dasi di lehernya.
"Tinggal di mana pun asal sama kamu aku."
"Masih pagi jangan gombal," ujar Shaka mencubit pelan pipi istrinya.
"Nggak gombal, aku serius. Bagiku nggak ada alasan untuk nggak bahagia kalau ada di samping kamu."
Shaka dan Nimas kini saling tatap. Memperdalam pandangan mereka seakan sedang mencari sesuatu di sana. Shaka mendapatkan kepalanya ke wajah istrinya. Sudah lama rasanya mereka tidak bersilaturahmi dengan menggunakan bibir.
Hanya sesaat mereka sarapan pagi itu, sarapan nikmat yang sudah terasa lama tidak mereka lakukan berakhir dengan kembali saling tatap dalam jarak yang dekat.
"Boleh aku katakan sesuatu, Nimas?"
"Katakan!"
"Aku mencintaimu."
"Aku sudah tahu," balas Nimas dengan tersenyum malu.
"Tahu dari mana?"
"Caramu memperlakukan aku. Jika seluruh dunia tahu bagaimana manisnya kamu memperlakukan aku, pasti mereka akan berpikir sama sepertiku. Aku juga mencintaimu, Mas. Terima kasih sudah mencintai wanita yang hina ini." Nimas lalu memeluk suaminya erat. Menenggelamkan kepalanya di dada bidang sang suami. Rasanya ia begitu terharu pagi ini.
"Tidak ada wanita yang hina, kamu tetap istimewa bagiku. Sekarang kita lepas dulu pelukannya, aku harus kembali bekerja untuk makan kita, kan? Apalagi anak kita akan segera lahir."
Setelah mengucapkan itu mereka berpisah sementara untuk melanjutkan aktivitas masing-masing. Nimas yang sebelumnya tidak punya kesibukan apa pun, akhirnya ia hanya bisa berdiam diri di kamar hotel. Ingin berjalan-jalan pun ia bingung harus jalan-jalan ke mana. Ia kurang mengerti jalan ataupun tempat hiburan-hiburan yang mungkin bisa dijangkau oleh jalan kaki. Keberadaannya di kota besar yang belum lama ini membuat ia susah sendiri.
__ADS_1
***
"Maaf Pak Shaka, dengan berat hati saya harus mengatakan, Anda dilarang untuk kembali menginjakkan kaki di kantor ini. Ini perintah dari Pak Malik." Shaka baru saja menginjakkan kakinya di dalam kantor, namun ia sudah dihadang oleh sekretaris dari ayahnya sendiri.
"Ini perusahaan saya, kenapa jadi Pak Malik yang punya kuasa?"
"Jangan lupa perusahaan ini berdiri karena saya," sahut Pak Malik yang entah kapan datangnya.
Ayah dan anak itu kini saling melempar tatapan tajam. Sorot mata yang keluar seperti mengedarkan bendera peperangan.
"Jangan lupa yang membuat perusahaan ini maju adalah saya."
Situasi semakin memanas ketika mereka berdiri berhadapan dalam jarak yang dekat. Baru kemarin Shaka memutuskan untuk keluar rumah dan menghapus nama Narendra di dalam namanya. Dan sekarang hubungan Ayah dan anak itu seperti orang lain, bahkan terlihat seperti musuh.
"Kau kemarin mengatakan sudah menghapus nama Narendra di dalam namamu. Lalu kenapa sekarang kau datang ke perusahaan Narendra? Apalagi datang sebagai seorang pimpinan. Orang asing tidak punya hak apa pun atas perusahaan atau apa pun yang berhubungan dengan Narendra. Kalau kau berani dan bisa menentangku sebagai ayahmu, seharusnya kau juga bisa melepas semua fasilitas yang sudah pernah dia berikan padamu. Berusahalah di atas kakimu sendiri jika kau mampu."
"Anda berpikir saya tidak mampu melakukannya? Kita lihat saja siapa nanti yang akan datang membutuhkan bantuan."
"Jangan belagak kau, Shaka. Belum punya apa-apa saja kau sudah menyombongkan dirimu. Pergi sekarang dari perusahaanku! Atau satpam yang akan menyeretmu."
"Tidak perlu, aku bisa membawa kakiku sendiri untuk melangkah pergi dari sini."
Shaka segera berbalik badan dan bergegas meninggalkan bangunan yang pernah ia besarkan namanya. Ia menitikkan air matanya untuk amarah yang ia tahan. Ia mengeluarkan air mata bukan karena keadaan, tapi yang begitu besar sedang berdesakan di dalam dada. Ia trasa sesak karenanya.
Shaka melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia butuh tempat untuk melampiaskan amarah yang ia tahan. Apakah salah jika ia marah? Memang benar, perusahaan yang ia besarkan namanya itu hadiah dari sang Ayah, namun karena usaha dan kegigihannya lah nama perusahaan menjadi besar.
Shak membanting pintu mobil saat ia sampai di sebuah danau. Ia melempar apa pun yang ada di sekitarnya. Meluapkan emosi yang ada. Setelah lelah dengan aktivitas melempar, ia berteriak sekencang-kencangnya.
__ADS_1
Shaka yang mengerti jalan pikiran ayahnya sudah menduga hal apa yang akan terjadi nanti. Ia sudah berpikir, kalau sudah begini, ia pasti akan kesulitan mencari pekerjaan. Pasti semua perusahaan yang berada di seluruh kota akan menutup akses lowongan untuk Shaka. Itu adalah dugaan terburuknya.
Lama Shaak berasa di sana. Ia merenung dan bertanya pada dirinya sendiri, apakah langkah yang ia ambil ini salah? Kenapa ada saja yang menguji dirinya. Rumah tangga yang benar-benar penuh dengan ujian.
Setelah di rasa dirinya cukup tenang, perasaan dan jiwanya sudah cukup stabil. Shaka bangkit dan memutuskan untuk kembali ke hotel.
*
"Pa, apa tindakan Papa ini tidak keterlaluan? Shaka anak kita. Bagaimana bisa, Papa membiarkan Shaka kesulitan diluaran sana?" protes Bu Marissa yang datang ke kantor suaminya.
"Mama mau Shaka balik rumah apa nggak? Kalau mau balik, ya ikuti cara Papa. Ini terlihat di jahat, tapi dia tidak akan sadar kalau dia salah kalau kita tidak tega seperti ini. Satu atau dua bulan juga Shaka udah balik ke rumah. Udahlah, tenang aja Mama itu!"
Bu Marissa sangat kesal pada suaminya karena sudah tega benar-benar membuang Shaka dari perusahaan. Meskipun beliau sedang kecewa pada anaknya itu,beliau tetap memikirkan bagaimana nasib anaknya yang kehilangan fasilitas dari ayahnya itu. Apalagi seluruh akses perusahaan sudah bekerja sama dengan suaminya untuk tidak menerima Shaka di perusahaan mana pun, bahkan pabrik juga sudah memiliki blacklist Shaka.
Kembali lagi pada Shaka yang sedang menyusuri lorong hotel untuk menuju kamarnya.
"Aku pulang," kata Shaka membuka pintu.
Nimas yang sedang melihat-lihat peralatan bayi, sedikit terlonjak dari tempatnya karena jam masih menunjukkan pukul sepuluh pagi dan suaminya sudah pulang. Padahal tadi ia mengatakan akan banyak meeting hari ini.
"Kamu sudah pulang, Mas? Katanya banyak meeting."
"Papa tidak mengizinkan aku untuk kembali ke perusahaan dengan alasan perusahaan itu adalah perusahaan yang dibangun sama dia. Tapi nggak apa-apa, aku bisa cari pekerjaan lain. Aku akan membuktikan pada mereka, kalau aku bisa hidup tanpa fasilitas dari mereka."
"Sekarang bagaimana kalau kita pergi dari sini?" ajak Shaka yang sebenarnya belum menyelesaikan kalimatnya. Tiba-tiba Shaka ragu hendak berucap. Ia tiba-tiba merasa tidak tega jika harus mengajak Nimas untuk tinggal di rumah yang sederhana.
"Kenapa Mas? Kamu belum selesai ngomongnya? Mau ngomong apa?"
__ADS_1
Shaka tidak langsung menjawab, ia menghirup udara dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan. Shaka ingin mengajak Nimas tinggal di rumah sederhana bukan tanpa alasan. Berbagai rincian keuangan secara kasar sudah ia bayangkan. Bukannya ia tidak punya uang atau tidak punya tabungan, tapi mulai detik ini bukankah harus benar-benar pandai mengelola keuangan agar kemudian hari mereka tidak sampai kehabisan uang. Kandungan Nimas yang sudah semakin besar membutuhkan uang yang tidak sedikit. Untuk melahirkan dan juga merawat seorang bayi perlu biaya yang terperinci bukan?