
"Orang tua ayah, ya?" Shaka kembali diam memikirkan jawaban yang tepat.
"Nanti kalau ada waktu kita main ke rumah Oma sama Opa, ya. Tapi nggak dalam waktu dekat nanti aja," putus Shaka.
"Kenapa harus nunggu nanti?"
"Soalnya orang tuanya Ayah sibuk, mereka jarang ada di rumah."
"Kalau Pakde?"
"Kapan-kapan Ayah akan bawa kamu ke rumah Pakde juga. Sekarang kita ke kamar waktunya untuk tidur. Ayah sama Bunda juga mau istirahat."
Akhirnya Nimas dan Shaka bisa bernafas dengan lega karena percakapan itu selesai sampai di sana. Kedua orang tua itu selalu menemani Bryan hingga tertidur. Setelah anak itu pulas, baru mereka akan meninggalkan Bryan seorang diri di kamar. Itu mereka lakukan untuk membiasakan Bryan mandiri sejak kecil.
"Mas alangkah baiknya kalau kita juga memperkenalkan Bryan sama Mama dan Papa. Sesekali kita bawa mereka ke rumha, siapa tahu dengan hadirnya Bryan, Mama sama Papa terbuka hatinya," ujar Nimas berpendapat seraya membawa tubuhnya ke kamar.
"Iya kalau responnya baik, yang Mas takutkan itu respon yang mereka berikan saat kita datang tidak baik. Kamu nggak kasihan sama Bryan? Dia masih kecil, dia masih terlalu kecil untuk mengetahui permasalahan kita dengan orang tuaku. Mas hanya tidak mau mengotori otak Bryan dengan kata-kata dari mereka. Ya kamu lihat aja sekarang, Mama datang ke sini cuman sekali, kan? Karena memang pada dasarnya, Mama minta maaf kemarin itu cuman pengen Mas kembali tanpa menerima kamu. Udah itu aja itu aja intinya Mama datang ke sini lima tahun yang lalu itu. Kamu tahu, kan sekarang alasannya kenapa Mas begitu kekeh untuk tidak pulang? Sekarang bukan hanya kamu alasannya, tapi anak kita juga. Jadi, ini yang terakhir kita bahas orang tuaku. Kita tidur sekarang!"
***
__ADS_1
"Dokter, tolong selamatkan suami saya, Dok. Tadi suami saya pingsan di kamar mandi." Bu Marisaa di depan ruangan UGD memohon pada seorang dokter pria berbadan gemuk untuk menyelamatkan suaminya yang tergeletak di kamar mandi dengan kepada kran air yang menyala.
Pak Malik yang semakin bertambahnya angka usia, semakin terlihat kurus dan lebih gampang sakit. Lima tahun mempertahankan ego dan gengsinya rupanya menggerogoti kesehatan fisik Pak Malik.
Sejahat apa pun seorang Ayah. Beliau tetaplah Ayah yang kasih sayangnya pada sang anak tidak akan termakan oleh waktu apalagi usia. Ya, tentu saja Pak Malik masih memiliki rasa kasih sayang terhadap sang anak. Meski beberapa tahun yang lalu beliau mengatakan bahwa dirinya tak punya anak selain Bryan, kenyataannya beliau tetap saja merindukan anak bungsunya.
Shaka adalah anak yang penurut di mta Pak Malik, anak bungsunya lebih mudah diatur dari pada Bryan. Itulah sebabnya kenapa Shaka yang beliau hadiahkan sebuah perusahaan di hari ulang tahunnya. Karena antara Bryan dan Shaka, Shaka lah yang bersedia melanjutkan usaha yang beliau bangun dari bawah.
Lima tahun lebih hidup tanpa tahu keadaan sang anak membuat batin Pak Malik tertekan. Namun, beliau yang keras kepala dan mengedepankan egonya lah yang membuat beliau urung mencari tahu dan menahan rindu itu sendirian. Hingga akhirnya pria yang hampir berusia enam puluh itu seringkali jatuh sakit dan keluar masuk rumah sakit. Dan sekarang adalah kondisi terparah Pak Malik selama keluar masuk tempat pengobatan.
"Tekanan darah pasien sangat tinggi, Bu. Jadi saya harap, keluarga pasien bisa memperhatikan pasien lebih jauh. Seperti pola makan, faktor pikiran, dan juga kebahagiaan si pasien, karena jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat, maka ini beresiko mengacu pada penyakit-penyakit serius, seperti serangan jantung, stroke, dan gangguan ginjal."
"Belum, Bu. Itulah sebabnya saya katakan untuk menjaga pasien seperti yang saya katakan tadi."
"Stukurlah. Terima kasih, Dok. Boleh saya masuk?"
Bu Marissa segera masuk ke dalam ruangan suaminya begitu mendapat anggukan dari sang dokter. Wanita itu melihat suaminya yang sudah sadarkan diri dengan wajah yang memucat dan beberapa alat medis menempel di bagian tubuhnya.
"Pa, bagaimana keadaan Papa? Apa ada yang sakit? Papa mau apa? Mau makan? Atau mau minum apa?"
__ADS_1
"Nggak, Ma. Papa sudah jauh lebih baik, tidak perlu khawatirkan keadaan Papa. Papa baik-baik saja, seperti yang sudah-sudah, Papa pasti bisa melewati ini semua."
Di saat seperti inilah rasa ingin membawa Shaka kembali pulang terasa sampai di puncak. Ego Bu Marissa yang sama besarnya dengan suaminya membuat wanita itu juga bertahan dengan rasa rindu yang mengikat entah sampai kapan.
Sementara Pak Malik kini sudah mulai berpikir untuk menyerah pada egonya. Beliau sudah ingin sekali bertemu dengan sang anak. Beliau ingin menikmati sisa hidupnya dengan berkumpul dan melihat anaknya setiap saat.
"Papa ingin ketemu Shaka, Ma. Papa menyerah, Papa kira anak bungsu Papa akan pulang jika hidup dan menjalani hari tanpa kita. Tapi nyatanya Papa salah. Dia sudah bisa hidup tanpa kita. Papa mau ketemu," kata Pak Malik dengan nada yang lemah.
Bu Marissa yang juga merasakan perasaan dan hal yang sama tentu saja menyambut keputusan sang suami itu dengan senang hati dan rasa haru.
"Mama akan cari Shaka, Pa. Mama akan bawa dia pulang dan tinggal bersama-sama dengan kita lagi. Mama akan jemput dia."
"Kita biarkan saja Nimas ikut ke rumah. Sepertinya mereka sama-sama saling mencintai. Mereka sudah diuji dengan hidup tanpa kemewahan, tapi nyatanya mereka bisa melaluinya hingga sekarang."
Meski Bu Marissa tidak setuju dengan kata-kata suaminya, beliau tetap mengiyakan agar tidak terjadi perdebatan. Beliau tidak peduli Shaka dan Nimas saling mencintai atau tidak, tapi sampai kapan pun beliau tidak akan pernah mau menerima Nimas sebagai menantunya. Meskipun suatu hari nanti mereka tinggal satu atap, beliau akan menganggap Nimas sebagai orang lain.
"Iya, Pa. Lagi pula sekarang ini waktunya Papa istirahat di rumah, menikmati masa tua kita. Bukan lagi mengurus perusahaan, entah itu dari rumah atau datang langsung ke kantor. Jita serahkan kembali semuanya pada Shaka. Biar dia yang urus perusahaan itu lagi."
Dan tanpa pikir panjang atau menunggu waktu yang lebih lama lagi, keesokan harinya Bu Marissa langsung mendatangi rumah Shaka.
__ADS_1