Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
90. Kertas Jatuh Ditangan Yang Salah


__ADS_3

"Masak apa?" Shaka yang mendengar bunyi dentuman wajan dan teman-temannya membawa kakinya ke dapur dan menemukan istrinya di sana.


"Mama Minta nasi goreng biasanya."


"Sekarang mana orangnya?"


Di saat bersamaan, Bu Marissa datang. Beliau mencium aroma nasi goreng Jawa yang menjadi makanan kesukaannya dari beliau masih gadis. Aroma yang enak dan menggugah selera. Bu Marissa akui, Nimas tidak pernah gagal memasak sesuatu, sejauh Nimas tinggal di rumahnya dan membantu urusan dapur, masakan Nimas terasa enak dan menambah nafsu makan.


"Mama udah jalan-jalannya? Nasi gorengnya udah jadi, Mama mau makan di mana? Meja makan atau di ruang tengah? Acara kesukaan Mama sudah mulai, kan?"


Bu Marissa lalu melirik jam yang terpasang dinding. Ah benar juga, drama favoritnya sudah mulai, batin Bu Marissa lalu berjalan ke arah ruang tengah tanpa berkata satu kata pun.


"Maafin Mama, ya. Sebetulnya Mas juga kecewa dan marah kalau kamu diperlakukan seperti ini, tapi Mas masih belum ada cara untuk buat Mama berubah."


"Nggak apa-apa, Mas. Mama akan berubah jika hatinya sudah terketuk. Kita nggak akan bisa merubah seseorang ketika orang itu masih tertutup hatinya, masih kaku, masih mempertahankan asumsinya yang salah. Nggak apa-apa. Sekarang ini, aku harus menambah sabar. Mama sedang sakit, kalau aku nggak sabar dan nggak sadar diri, Mama nggak ada yang rawat nanti. Sekarang ini, Mama apa-apa harus dibantu, kan? Sedangkan Papa juga nggak bisa bantu banyak. Kalau bukan aku yang merawat, siapa lagi? Kamu tenang aja, aku baik-baik saja."


"Terima kasih untuk segala perhatian dan pengertiannya. Kamu boleh rawat kedua orang tua Mas, tapi kamu juga harus jaga kesehatan, jangan sakit. Atau Mas akan benar-benar menyewa perawat untuk kalian semua."


Ya, Nimas yang merasa masih mampu mengawasi dan merawat keduanya enggan untuk memakai jasa perawat. Ia bersikeras untuk merawatnya sendiri, jika sudah begitu, Shaka akan mengalami kesulitan jika tidak mengalah.


"Iya, Mas. Ya udah, aku nyuapin Mama dulu. Kamu mau makan siang apa? Jarang-jarang kamu makan siang di rumah di hari kerja."


"Apa aja, Dek. Masak aja apa yang kamu mau, akan Mas makan. Mas mau mandi, gerah."


Nimas lalu menghampiri Ibu mertuanya yang sudah fokus dengan televisinya. Nimas duduk disampingnya dan memulai untuk memyuapi Bu Marissa.

__ADS_1


"Saya makan sendiri aja."


"Nggak boleh makan pakai tangan kiri, Ma. Mumpung masih hangat nasinya." Nimas masih mempertahankan sendoknya di depan mulut Ibu mertuanya.


Bu Marissa terpaksa membuka mulutnya. Suapan demi suapan yang dengan telaten Nimas berikan rupanya tanpa sadar membuat nasi goreng itu tandas tak bersisa.


Bu Marissa memperhatikan wajah Nimas dari dekat ketika menantunya itu menyuapkan segelas air putih padanya. Wajah yang teduh dan nampak lemah lembut, jika dilihat secara seksama dan dari dekat. Mau diakui atau tidak Nimas memperlakukan Bu Marissa seperti ibunya sendiri.


"Setelah ini Mama istirahat, ya. Mama belum istirahat sama sekali dari pulang tadi, kan?" Nimas memberikan beberapa obat dari rumah sakit. Entah kenapa Bu Marissa kali ini hanya menurut saja.


Setelah meminum beberapa butir obatnya, Bu Marissa masuk kamar dengan ditemani Nimas. Nampak Pak Malik yang juga sedang pulas dengan tidur siangnya. Nimas hanya mengantar beliau dari pintu saja dan berlalu setelah Bu Marissa masuk.


"Cepet banget kamu mandinya, Mas?"


Suasana yang panas dan gerah nampaknya nikmat jika dinikmati dengan segelas minuman dingin. Di saat baru akan memulai pekerjaan, bolpoin yang hendak di pakai Shaka terjatuh dan menggelundung ke bawah sofa.


Mau tak mau Shaka meraba kolong sofa untuk mencari benda kecil itu. Beberapa detik meraba, bukan bolpoin yang ia temukan, sesuatu yang lain, seperti sebuah lembaran. Shaka pun akhirnya mengambil lembaran yang terlipat itu.


"Kertas apa ini?" Shaka membuka lipatan kertas itu.


Belum sempat membaca isi dari lembaran itu, Nimas tiba-tiba marebutnya dari tangan suaminya.


"Kok ngambilnya gitu? Nggak sopan, Dek. Kembalikan kertasnya." Shaka menengadahkan tangan, ia hanya membaca dia kata dari tulisan di kertas itu. Kata rumah sakit membuat Shaka ingin tahu apa isi dari kertas itu.


Sementara Nimas sendiri sebenarnya tidak tahu kertas apa yang ia rebut. Biar hanya mengikuti instingnya saja. Entah kenapa Nimas tidak mau Shaka melihat isi kertas itu. Ia sedikit was-was dengan ingatan yang tiba-tiba muncul di kepala mengenai sesuatu yang dibawa oleh Bu Marissa kemarin.

__ADS_1


"Ini nggak penting, Mas. Ini bukan kertas apa-apa. Sepertinya ini kertas Bryan pas belajar menghitung kemarin. Aku akan membuangnya."


"Kertas hitungan Bryan? Aku melihat ada tulisan rumah sakit tadi. Sudah mulai bohong sama Mas? Mas lihat, Dek kalau memang nggak penting." Tangan Shaka masih berada di posisi yang sama.


Nimas diam, ia sedang berpikir keras bagaimana cara mengalihkan perhatian Shaka dari kertas ini. Untunglah ia datang tepat waktu, meskipun Shaka menemukan kertas hasil pemeriksaan itu, ia belum sempat membacanya.


"Dek, Mas lihat." Entah untuk yang ke berapa kalinya Shaka mengulang kalimatnya. "Apa yang kamu sembunyikan dari, Mas?"


"Nggak ada, Mas. Mana mungkin aku menyembunyikan sesuatu dari kamu?"


Shaka tak berucap, ia memajukan langkanya agar lebih dekat dengan istrinya. Namun, semakin Shaka mendekat, Nimas semakin memundurkan langkahnya. Hal itu terus terjadi hingga punggung Nimas terbentur pegangan tangga. Di saat itulah Numas sedikit lengah dan Shaka berhasil merebut kertas itu.


Degup jantung Nimas semakin terasa berdebar kencang. Keringat dingin tiba-tiba membasahi dahinya saat Shaka membaca deretan huruf di kertas yang ia pegang.


Beberapa saat kemudian, Shaka mendongakkan kepala menghadap Nimas wanita itu tidak mampu berkata apa-apa selain kata 'Mas' dengan sangat lirih.


"Kenapa kamu melakukan ini, Dek? Kenapa kamu nggak ngajak? Kenapa nggak izin sama mas? Nggak bicara dulu, kamu masih anggap Mas suami, kan?"


Tenggorokan Nimas terasa tercekat, lidahnya terasa kelu dan sulit untuk diajak bekerja sama. Bahkan untuk mengucapkan kalimat pembelaan yang menjadi alasan dirinya selama ini menyembunyikan hal sebesar ini juga terasa menguap begitu saja.


"Mas dengarkan aku dulu." Nimas mengucapkan kalimat itu dengan sangat susah payah dan mulut bergetar.


Shaka diam beberapa saat, ia tahu hal ini membuatnya marah. Tapi untunglah logikanya saat ini masih bekerja dengan baik. Melihat pengorbanan Nimas untuk keluarganya, sebisa mungkin ia berusaha untuk menekan emosi agar ia tidak mengeluarkan kata-kata kasar yang bisa menyakiti perasaannya.


"Kita ke kamar sekarang!" Shaka bejalan melalui Nimas begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2