
Sore harinya, Nimas dan kedua bayinya sudah diizinkan pulang. Begitu sampai rumah, sudah ada banyak orang yang menyambut kedatangan sepasang suami istri dengan seorang bayi di tangan mereka masing-masing.
Keduanya terkejut begitu sampai di ruang tamu karena sudah ada kedua orang tua Nimas beserta adiknya yang sudah berada di sana. Padahal Shaka baru berencana besok akan menjemput mereka.
"Ayah, Ibu kok sudah ada di sini. Saya punya rencana besok akan jemput kalian.
"Kelamaan, tadi pagi Mama langsung ke rumah orang tua Nimas buat jemput." Bu Marissa berjalan mendekati Nimas dan mengambil Nisa dari gendongannya. Lalu beliau serahkan bayi itu ke Ibu Nimas. "Pasti neneknya nggak sabar mau gendong cucunya. Cucu kita cantik, kan?" Bu Marissa sedikit menjadi orang lain agar kedua besannya itu bisa segera mencairkan hati untuk percaya bahwa dirinya benar-benar berubah.
Bukan sifat Bu Marissa yang gampang mengakrabkan diri pada orang yang jarang beliau temui. Bersikap ramah pada semua orang sungguh bukan Bu Marissa, namun demi kedamaian dan memperoleh kepercayaan semua orang beliau perlahan demi perlahan harus mengubah sifat agar bisa berbaur dan akrab dengan keluarganta sendiri.
Beliau masih ingat betul dengan perlakuan kurang baik saat menjemput kedua orang tua Nimas tadi pagi. Kedatangannya yang mendadak dan tanpa kabar seolah bencana bagi besannya.
"Ada perlu apa ke sini, ya Bu? Apa anak saya membuta ulah?"
Itulah pertanyaan yang Bu Marissa dengar saat pintu rumah terbuka. Beliau di sambut oleh Ibu Nimas dengan wajah terkejut.
"Tidak, Bu. Saya datang ke sini untuk jemput Ibu dan Bapak ke rumah. Nimas kemarin melahirkan, anaknya sudah lahir dengan selamat. Anaknya kembar perempuan. Jadi, saya kesini mau ajak kalian untuk tinggal di rumah kami selama yang kalian mau. Nimas dan Shaka pasti akan senang jika kita rawat anaknya sama-sama."
"Ada maksud lain? Merendahkan kita contohnya. Kita, kan nggak satu level, level kamu jauh di bawah Anda. Takutnya, saya dan suami malah jadi kuman di sudut rumah besar Anda."
__ADS_1
Meski jawaban Ibu Nimas sedikit sengak, dalam lubuk hatinya paling dalam, beliau bahagia mendengar berita bahagia itu. Namun, untuk datang ke rumah besar besannya, nampaknya beliau enggan untuk melakukannya. Bukan tidak ingin bertemu dengan anak cucunya, tapi jika kedatangannya hanya untuk dihina lebih baik tidak. Biarlah keluarga anaknya yang mendatangi mereka seperti yang sudah-sudah.
"Selain untuk menjemput Ibu, saya juga mau minta maaf atas kesalahan saya. Saya sadar kesalahan saya dulu fatal dan pasti menyakiti Ibu dan Bapak. Saya sadar ucapan saya pasti meninggalkan bekas yang lebar, dalam, dan tidak akan pernah bisa sembuh hanya dengan kata maaf. Setidaknya, beri saya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan saya agar dosa saya sedikit berkurang. Agar hubungan kita yang sebenarnya keluarga ini terjalin dengan benar dan baik."
Ibu Nimas diam memikirkan ucapan besannya. Beliau mengamati raut wajah wanita yang berada di depannya. Jika dilihat dari sorot matanya ada sinar ketulusan yang terlihat. Namun, kepala beliau tercetus beberapa pertanyaan. Apakah wanita ini benar berubah? Sejak kapan? Apa yang membuatnya berubah? Apakah ketulusannya itu dibuat-buat atau tidak? Mengingat betapa sombong dan angkuhnya keluarga besannya rasanya sangat sulit untuk dipercaya ucapan dari Bu Marissa.
"Ibu tidak akan melihat perubahan saya jika tidak memberi kesempatan."
"Anda tidak maksud atau membuang saya, kan ketika di perjalanan nanti? Terkadang seseorang yang angkuh itu akan melakukan apa pun untuk mencapai tujuannya, meskipun apa yang dia lakukan akan menyakiti dan merugikan orang lain. Orang seperti itu tidak akan memikirkan perasaan orang lain."
"Dengan alasan apa saya melakukan itu? Tanpa saya membuang ibu di tengah jalan pun, kita tidak pernah bertemu, kita tidak tinggal satu atap, lalu tujuannya membuang Ibu apa? Saya sadar kesalahan saya begitu besar dan saya terlalu menyakitkan. Saya memaklumi jika sifat ibu yang seperti ini. Saya hanya ingin memberikan sesuatu yang membahagiakan untuk Nimas. Saya berpikir kalau Ayah dan ibunya bisa beberapa hari atau beberapa minggu membantu merawat anaknya dan berkumpul dengan keluarga lainnya, pasti akan menyenangkan dan akan menambah imun yang baik untuk Nimas."
Kedua wanita itu bicara panjang lebar sejak tadi dengan posisi berdiri di tengah pintu. Bahkan tangan Ibu Nimas pun belum terlepas dari handle benda persegi itu.
Ayah Nimas yang menunggu di meja makan untuk melakukan ritual sarapan akhirnya menyusul istrinya ke depan karena wanita itu tidak kunjung kembali. Beliau sedikit tersentak ketika melihat tamu yang berdiri di depan pintu. Raut wajah yang semula biasa saja mendadak menjadi tidak bersahabat dan tidak hangat.
"Ada perlu apa dia ke sini, Bu?" Pertanyaan yang beliau ajukan untuk istrinya, tapi kedua bola matanya melirik Bu Marissa.
"Dia bilang kalau anak kita baru saja melahirkan. Anak mereka kembar dan kita diminta untuk ke sana dan merawat cucu kita bersama-sama juga. Kedatangannya ke sini untuk menjemput kita."
__ADS_1
"Iya, Pak. Kedatangan saya ke sini untuk memberikan surprise pada Nimas. Kebetulan saya belum memberitahu mereka kalau saya akan menjemput kalian. Saya melakukannya ini sendiri, dengan inisiatif saya sendiri. Saya bermaksud untuk menebus kesalahan saya di masa lalu. Saya minta maaf atas kesalahan saya dulu, ya Pak. Berikan saya kesempatan untuk membuktikan bahwa saya benar-benar menyesal dengan apa yang sudah saya lakukan dan katakan."
Sepasang suami istri itu saling tatap muka seakan menanyakan hal yang sama. Dari raut wajah mereka menggambarkan jika mereka ingin menengok Nimas, namun belum ada kepercayaan untuk Bu Marissa.
"Bukankah semua orang punya hak untuk mendapatkan kesempatan kedua? Saya tahu dan paham jika kesempatan kedua tidak dimiliki oleh semua orang, tapi setidaknya demi keluarga, demi anak-anak kita, cucu-cucu kita, tolong berikan saya kesempatan untuk yang terakhir kalinya. Biarkan keluarga kita menjadi keluarga yang utuh dan bahagia. Di usia kita yang seperti sekarang ini, apalagi yang akan kita cari kalau bukan kebahagiaan untuk keluarga kita sendiri?"
"Tapi..."
"Sudahlah Pak, Bu. Ayo kita berkemas! Saya khawatir jika Nimas segera pulang. Jika melakukan ini tidak untuk saya, setidaknya lakukan ini untuk Nimas. kalian ke rumah saya untuk menemui anak dan cucu kalian, pikiran saja itu."
Dan kalimat mujarab itu akhirnya berhasil membuat Ibu dan Ayah Nimas sedikit luluh dengan ajakan Bu Marissa. Tanpa berpikir lebih panjang lagi, mereka mengemasi beberapa pakaian dan dimasukkannya ke dalam satu tas tenteng berukuran cukup besar. Dan akhirnya, mereka kini berkumpul di rumah Pak Malik untuk menyambut kelahiran cucu perempuan Narendra.
"Shaka, ayo biarkan Ayah mertuamu menggendong Mira! Beliau juga ingin mendekap cucunya." Shaka refleks berjalan ke arah Ayah Nimas dan menyerahkan putrinya.
Nino menoleh ke kanan dan ke kiri, ia bingung hendak menengok siapa lebih dulu. Hingga akhirnyania dekatkan kedua orang tuanya dan ia berdiri di tengah-tengah mereka.
"Kalau gini, kan enak aku bisa lihat semuanya bareng-bareng. Tunggu-tunggu, sepertinya aku harus mengabadikan ini." Nino merogoh sakunya dan mengambil gawai. "Kak, untuk hari ini Kakak harus merelakan harga diri Kakak untuk mengambil foto kita. Ambil banyak-banyak dan yang bagus." Nino berjalan ke arah Shaka.
Pria itu mencebik, meski tetap melakukan apa yang di minta adik iparnya.
__ADS_1
Semua orang tersenyum merlihat tingkah Nino. Namun, ada satu mahluk kecil yang masih duduk di sudut sofa. Ia hanya melihat Nino dan nenek kakeknya dari belakang.
Sebelum adik kembar datang, mereka memanjakan aku, dan sekarang semua orang mengabaikan aku.