Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
45. Pondasi Rumah Tangga


__ADS_3

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, bahwa Shaka akan kesal dan marah untuk hal sekecil apa pun. Emosinya gampang muncul ketika ada sesuatu yang tidak cocok atau tidak pas di hatinya. Namun, yang membuat berbeda dari manusia lainnya adalah, meskipun ia mudah terpancing emosi, ia juga termasuk pria yang pandai menekan emosinya.


Nimas yang membelakangi pintu dan menatap jendela kamarnya seketika ditarik lembut oleh Shaka dan mendekatkan kursi rodanya pada dirinya. Lalu ia duduk di ranjang. Kini posisi mereka saling berhadapan.


"Aku bertanya sekali lagi sama kamu, ya. Jangan jawab tidak apa-apa! Kamu marah sama aku? Kenapa, ada apa?" Tangan Shaka tergerak mengambil tangan Nimas dan ia letakkan di telapak tangannya.


"Ada apa? Cerita sama aku!" Kata Shaka sekali lagi.


Nimas yang semula kekeh dengan ngambeknya pasa suaminya, akhirnya luluh juga dengan perlakuan Shaka.


"Kenapa kamu bohong sama aku, Mas?" Akhirnya pertanyaan itu meluncur juga. Mata Nimas sudah sedikit berkaca-kaca, padahal hanya menanyakan alasan Shaka bohong.


"Bohong? Soal apa?" Shaka menjawab pertanyaan istrinya dengan melempar pertanyaan. Karena memang ia tidak mengerti bohong yang mana yang dimaksud istrinya.


"Kamu seminggu yang lalu pulang bukan karena urusan pekerjaan, kan?"


Deg!


Jantung Shaka rasanya berhenti berdetak. Ia mendadak linglung sesaat. Rasanya mulutnya terkunci untuk mengucapkan satu kaya saja rasanya entah kenapa begitu sulit.


"Kamu pulang karena kamu menemui Raisa. Kamu kangen sama dia, iya?" Nimas mukai terisak. Ia tak tahu apa yang membuatnya begitu sakit saat ia mengetahui Shaka pulang untuk seorang wanita dan ia rela bohong untuk wanita itu.


"Kamu tahu dari mana aku ketemu Raisa? Ini nggak seperti yang kamu pikirkan, Nimas."


"Nggak penting aku tahu dari mana. Kalau ini nggak seperti yang aku pikirkan. Lalu bagaimana kebenarannya?"

__ADS_1


Shaka menghapus air mata yang mengalir terus dari mata Nimas. Entah sakit dari mana yang muncul saat melihat air mata Nimas mengucur tanpa henti seperti ini.


"Maaf, aku minta maaf kalau aku nggak jujur sama alasan aku pulang. Izinkan aku menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku...."


Mengalirlah cerita Shaka seminggu yang lalu. Cerita di mana ia memulai kebohongan yang berujung menyakiti Nimas. Ia tak mengira akan seperti ini jadinya. Seandainya saja ia jujur dari awal, mungkin cerita ini akan menjadi lain. Atau seandainya saja ia mampu menolak permintaan ibunya, ia pasti tak akan menorehkan luka seperti ini.


"Aku melakukan itu karena terpaksa, bukan karena keinginan aku sendiri. Aku nggak ada maksud untuk bohong sama kamu Nimas. Aku hanya nggak mau kamu berpikir yang nggak-nggak. Jadi karena ini kamu nangis? Aku minta maaf, ya. Aku minta maaf. Aku bukannya udah pernah bilang ke kamu, ya. Kalau prinsip hidup aku hanya menikah satu kali. Terlepas dari alasan kita menikah, aku nggak akan pernah merubah prinsipku. Aku nggak ada keinginan untuk kembali kepada Raisa, Nimas. Aku janji setelah ini tidak akan ada lagi kebohongan yang aku ciptakan, aku janji."


Nimas diam membisu, ia menyesali perbuatannya sendiri. Tidak seharusnya ia bersikap seperti tadi kepada suaminya, seharusnya ia meminta penjelasan atau bertanya baik-baik. Rasa sakit yang tiba-tiba muncul membuat Nimas tidak bisa berpikir dengan jernih.


Apalagi Shaka tidak marah atau tersinggung sedikit pun dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah tadi.


"Sekarang aku tanya, dari mana kamu tahu kalau aku kemarin itu nemui Raisa?"


Pria itu melihat sesaat, kemudian berpikir.


Di ruangan itu hanya ada aku, Raisa, dan Mama. Tidak salah lagi, berarti mama yang usil.


"Lain kali kalau ada apa-apa, coba ditanyakan baik-baik, ya. Kalau kamu bersikap seperti tadi, aku nggak akan ngerti salah aku apa. Kalau kamu nggak mau ngomong aku juga nggak ngerti kalau aku ada salah. Coba kalau aku ada salahnya, kamu ngomong nggak apa-apa. Aku nggak akan marah biar aku nggak ngulangin lagi kesalahan itu, biar aku juga nggak nyakitin kamu terus."


Nimas hanya menganggukkan kepala. Ia merasa bersalah karena sudah membuat Shaka bingung dan serba salah. Sebagai seorang istri, harusnya ia lebih percaya pada suaminya dibanding dengan manusia lainnya.


"Aku minta maaf juga. Aku nggak seharusnya bersikap seperti tasi."


"Ssst. Udah jangan dipikirkan. Nggak apa-apa. Semua orang akan melewati fase berbuat salah untuk menjadi benar. Jadikan ini pelajaran, keterbukaan dan kepercayaan adalah hal yang utama. Jadikan itu pondasi hubungan kita. Supaya kita kuat."

__ADS_1


Nimas semakin terisak. Ia merasa bersalah karena sudah meragukan Shaka yang sudah nampak ketulusannya dari awal. Bagaimana bisa ia melupakan itu?


Shaka yang melihat Nimas semakin terisak memindahkan tubuh istrinya ke tempat tidur. Ia ingin memberikan pelukan yang barangkali bisa membuat istrinya itu sedikit tenang.


"Udah nangisnya, dari tadi nangis terus. Kasian anaknya. Sedih juga nanti."


Setelah bicara dari hati ke hati itu, perasaan keduanya sudah kbaki terang. Mereka berinteraksi seperti biasa. Bahkan mereka sudah melepas rindu dengan kembali memagutkan bibir seperti beberapa hari lalu.


Entahlah, kegiatan itu nampaknya sudah menjadi candu bagi keduanya. Meski belum menyadari adanya cinta di hati mereka, mereka sebenarnya sudah menunjukkan bahwa hati mereka saling terpaut dan tumbuh cinta dengan ditunjukkan dari sikap dan perlakuan mereka.


Seperti malam ini, setelah makan malam semua penduduk rumah masuk ke kamar masing-masing. Mereka semua sepertinya kelelahan karena aktivitas.


Namun, Shaka dan Nimas masih terjaga. Hampir satu minggu tidak berdua membuat Shaka tak hanya merindukan Nimas, tapi juga perutnya yang sudah sedikit menyembul keluar di usia kandungan yang sudah lebih dari dua bulan.


Shaka mencubit gemas perut istrinya itu. Laki-laki yang menyukai hal-hal yang berbau lucu dan menggemaskan itu nampak ingin sekali menggigit perut istrinya.


"Bunda tadi ajak kamu nangis, ya? Nangisnya pasti seharian, kan? Makanya itu matanya sampai merah dan sembab. Maafin Bunda, ya. Bunda itu masih kecil, masih suka nangis. Yang sehat di dalam, ya. Sebentar lagi kita akan ketemu di rumah sakit. Tapi lewat monitor dulu, belum bisa ketemu langsung."


Shaka laku mendongak ke arah Nimas yang terharu dengan kelembuyam Shaka. Pada janin yang bukan anaknya saja ia bisa selimut itu, Nimas tidak bisa membayangkan jika satu hari nanti ia memiliki anak dengan Shaka. Pasti mereka akan kelebihan kasih sayang.


"Tuh, kan Bunda nangis terus, ya Dek. Tuh nangis lagi. Bunda cengeng, ya. Ayah meluk Bunda dulu, ya."


Shaka bangkit dari posisinya dan merebahkan tubuh Nimas. Menyelimutinya hingga perut dan


"Tidur! Dari pada nangis terus, kita tidur sekarang."

__ADS_1


__ADS_2