Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
51. Anak Kita


__ADS_3

Keesokan harinya, Nimas terbangun karena merasakan hangat matahari yang menyelinap masuk melalui jendela. Dengan perlahan ia membuka mata, tidak ada siapa pun di sampingnya. Itu artinya Shaka tidak tidur di kamar? Batin Nimas bertanya-tanya.


Dengan hati dan langkah yang masih berat, ia beranjak dari kasur untuk membersihkan diri di kamar mandi. Badannya terasa lengket karena kemarin hanya mandi di pagi hari.


Wanita itu mandi dengan memikirkan nasibnya. Ia kepikiran dengan Shaka yang sepertinya sangat merajuk padanya. Kepalanya terasa berat karena kurang istirahat dan memikirkan bagaimana caranya agar shaka mau mendengar penjelasannya.


Kali ini ia tak mau berada dalam kamar mandi dalam waktu lama. Rasanya ingin sekali ia cepat-cepat bertemu dengan Shaka. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, ia segera menuju lantai bawah. Mencari-cari keberadaan sang suami.


"Bi, Mas Shaka di mana?"


"Saya lihat tadi jalan ke taman samping rumah, Non."


Nimas lalu berjalan ke luar rumah. Dengan mengelus perut yang membuncit ia terasa sedikit kesusahan untuk beraktivitas, padahal usia kandungannya masih tujuh bulan.


Nimas melihat sekeliling begitu sampai di taman. Ia melihat Shaka yang sedang duduk di bawah pohon mangga. Ia pun berjalan ke arah sana.


"Mas," panggil Nimas pelan seraya duduk di sebelahnya. Ia sedikit kesusahan karena mengikuti Shaka yang sedang duduk di atas rerumputan. Salah satu hal yang sulit dilakukan oleh orang hamil adalah duduk di lesehan.


Shaka hanya menoleh sebentar dan kembali menatap bunga-bunga di depannya. Shaka sangat kesakitan sendiri melihat Nimas seperti ini. Ia sadar jika istrinya merasa sedih dengan perlakuannya ini. Ini ia lakukan sebagai bentuk hukuman saja untuk Nimas. Meskipun ia sendiri sakit dengan apa yang ia lakukan, ia harus melakukan ini untuk membuat Nimas tahu bahwa ia sangat kecewa padanya.


"Mas, boleh aku jelasin semuanya? Kamu mau sampai kapan diemin aku, Mas? Tolong, jangan biarkan masalah ini berlarut-larut. Aku nggak mau masalah ini nggak akan ada ujungnya kalau kita nggak bicarakan ini."


Sesak sekali rasanya hati Shaka mendengar ucapan Nimas. Bukan karena kalimatnya atau karena ia sedang merajuk, tapi nada bicaranya yang sedikit bergetar membuat hati Shaka terasa teriris perih.


Seandainya kamu tahu aku tidak ingin seperti ini. Aku ingin hubungan kita baik-baik saja. Aku terlanjur jatuh cinta padamu, bahkan aku sudah merencanakan akan mengatakannya di saat aku kembali dari luar kota. Tapi nyatanya aku kembali dengan cepat dan kamu beri aku kejutan seperti ini.

__ADS_1


"Mau jelasin apa?"


Nimas menceritakan seluruh kejadian dari ia berangkat ke mall bersama Ibu mertuanya hingga ia bangun dari tidur dan melihat Shaka yang berada di depan pintu.


"Udah? Kamu akan aja nggak tahu apa aja yang kamu lakukan. Bagaimana bisa aku tahu kamu salah atau nggak. Kamu mengkhianati aku apa nggak? Bagaimana caraku tahu?"


Shaka bangkit dari duduknya dan berjalan dua langkah. Nimas meneriaki Shaka dan refleks berdiri dengan cepat. Namun, tiba-tiba ia merasa perutnya sakit tak tertahan.


"Ah, Mas sakit!" pekik Nimas sekuat yang ia bisa.


Shaka yang mendengar teriakan istrinya seketika berhenti melangkah dan menoleh ke belakang. Pria itu langsung berlari tunggang langgang melihat istrinya yang sedang terduduk dengan kesakitan.


"Kamu kenapa? Apanya yang sakit?"


"Perut, Mas. Perut aku sakit," jawab Nimas meringis.


Ya Tuhan selamatkan anak yang ada di perut Nimas. Tolong lindungi anak yang sudah ku anggap anak ku sendiri ini, Tuhan.


Shaka berteriak memanggil siapa pun untuk mendapatkan pertolongan dengan cepat. Tidak peduli ia mendapat tatapan dari beberapa pasang mata yang berada di bangunan berwarna putih itu.


"Sakit, Mas," rintih Nimas entah yang sudah ke berapa.


Shaka meletakkan Nimas ke ranjang dorong dengan pelan.


"Iya Sayang, tahan sebentar, ini kamu akan segera ditangani dokter. Kamu dan anak kita akan kuat, kamu harus yakin."

__ADS_1


Kalimat yang begitu Nimas ingin ia dengar kini sudah diucapkan oleh Shaka. Namun sayangnya, Shaka mengucapkan itu di tengah istrinya sedang merasa kesakitan, sehingga apa pun yang diucapkan oleh Shaka, tidak bisa dicerna dengan baik oleh wanita itu. Nimas masih saja mengeluh sakit hingga dirinya masuk ke ruang UGD.


Shaka menunggu dengan gusar. Untuk sejenak ia lupa dengan permasalahannya. Rasa menyesal tiba-tiba muncul ke permukaan. Ia menyalahkan dirinya sendiri, karena ia merasa Nimas mengalami kram perut karena memikirkan dirinya yang bersikap dingin padanya.


Tak henti-hentinya Shaka berdoa dalam hati untuk keselamatan istrindan anaknya. Entah apa yang akan ia lakukan jika sampai ada apa-apa dengan kedua mahluk itu. Rasanya menyalahkan diri sendiri tidak akan bisa membayar untuk kesalahan yang ia perbuat.


Tak berselang lama, pintu UGD terbuka. Shaka seketika menghambur ke dekat pintu. Ia menanyakan keadaan istri dan anaknya seperti para suami pada umumnya.


"Istri Bapak mengalami kontraksi palsu. Tidak apa-apa, tidak perlu ada yang di khawatirkan. Saya sarankan untuk membuat hati Ibu selalu bahagia, ya Pak. Stress berlebihan juga tidak baik untuk keduanya."


"Syukurlah, makasih, ya Dok."


Shaka akhirnya bisa bernafas dengan lega. Ia segera masuk ke ruangan. Ia mengenyampingkan permasalahan yang hinggap.


"Mas," ujar Nimas lirih.


"Udah, jangan ngomong apa-apa lagi. Kita lupakan saja permasalahan ini. Anggap tidak pernah terjadi. Aku maafin kamu, aku juga minta maaf sudah membuat kamu stress mikirin permasalahan kita. Nggak seharusnya aku bersikap dingin seperti ini. Jangan buat aku khawatir lagi."


"Tapi aku nggak ikhlas, Mas. Aku sudah difitnah. Aku mau cari tahu siapa yang sudah mejebak aku tidur dengan laki-laki asing. Aku tidur terlalu lama, Mas. Bagaimana bisa aku pingsan di lagi hari dan aku bangun sudah malam. apa itu masuk akal? Kenapa aku bisa pingsan selama itu?"


Shaka membenarkan kata-kata istrinya, kekecewaan yang menguasai dirinya nyatanya menghilangkan semua logika yang seharusnya ia sadari dari awal. Terlalu fokus dengan kecewa dan sakit hatinya, ia sampai melupakan apa yang seharusnya ia lakukan.


"Itu tugas aku, bukan tugas kamu. Akan aku cari tahu. Sekarang kamu hanya perlu fokus sama kehamilan kamu. Dia harus lahir dengan selamat. Aku akan marah kalau sampai terjadi apa-apa sama anak kita."


Jantung Nimas rasanya berhenti sejenak mendengar ucapan Shaka. Dalam hati bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah telinganya sedang tidak sehat?"

__ADS_1


"Apa kamu bilang, Mas? Anak kita? Apa aku salah dengar?"


"Nggak, kamu nggak salah dengar. Dia anak kita."


__ADS_2