Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
79. Kesabaran Yang Selalu Diuji


__ADS_3

"Tuhan belum kasih aku amanah sebesar itu, Pa. Mungkin aku harus banyak belajar dulu untuk menjadi orang tua yang baik sebelum aku punya anak kandung. Mungkin masih ada yang salah dalam caraku mendidik Bryan, makanya sampai sekarang aku belum dikaruniai anak. Tapi nggak apa-apa, aku percaya, Tuhan selalu mendatangkan sesuatu tepat pada waktunya. Tidak terlambat dan tidak lebih cepat."


Jawaban yang bijak dan terlihat cukup kuat untuk cobaan yang tidak mudah dijalani oleh seseorang yang sudah berumah tangga dalam waktu yang cukup lama. Namun, siapa sangka dibalik kata bijak dan kuat itu, hati Shaka sedang rontok hingga tak bersisa barang secuil pun yang utuh.


"Anak Papa bijak ternyata. Pasrah boleh, tapi jangan lupa usaha. Doa saja tanpa usaha yang kosong, begitu pula sebaliknya. Keduanya harus berjalan beriringan, biar hasilnya maksimal. Bukannya Papa mendesak atau bagaimana. Papa sudah setua ini belum pernah gendong cucu. Papa melewatkan masa kecil Bryan. Sekarang udah nggak bisa gendong Bryan, kalau kamu punya bayi setidaknya, kan Papa masih bisa gendong. Ikhtiar dengan banyak cara, biar Tuhan menilai usahamu. Sama seperti usahamu saat tidak menikmati fasilitas dari Papa." Pak malik mengembangkan senyummya. Tangannya lalu tergerak untuk kembali ke kamar.


Sementara Shaka hanya mengantar kepergian sahabat Ayah dengan ekor matanya saja. Sempat terpikir sejenak mengenai apa yang diucapkan ayahnya, namun beberapa detik kemudian ia berusaha untuk memikirkannya lain kali dan pergi ke dapur. Begitu ia sudah minum dan gelas kembali terisi penuh, ia segera meninggalkan dapur dan kembali ke lamar.


"Kamu dari mana? Kenapa lama sekali?" tanya Nimas duduk dengan wajah ngantuknya.


"Ya kamu ngapain nungguin, Mas? Kayak pernah di tinggal kelayapan aja kamu. Mas cuman ambil air."


"Ambil air lama banget? Dapurnya di Arab? Apa kamu tadi masak airnya dulu?"


Jika sudah seperti ini, Shaka sudah mengerti jika Nimas akan kedatangan tamu rutinnya. Hal yang sangat mengesalkan bagi Shaka. Selain datangnya tamu itu menandakan bahwa bercocok tanamnya kembali gagal, ia juga harus berpuasa selama seminggu.


Dari pada meladeni amukan Nimas karena moodnya yang tidak baik, ia lebih memilih untuk menuntaskan hasratnya saja. Ia harus bermain sampai puas malam ini, karena seminggu ke depan ia harus menahan diri untuk tidak bergulat.


***


Entah berapa lama mereka begadang, yang jelas mereka terasa baru saja memejamkan mata, tapi matahari sudah dengan kurang ajarnya menyelinap memaksa masuk seakan tidak terima jika mereka masih sembunyi di dalam selimut yang sama.

__ADS_1


"Kamu udah bangun? Kenapa tidak membangunkan aku? Aku harus pergi ke dapur." Nimas bangkit dari tidurnya, hampir menyibak selimut, namun tangannya dicekal oleh Shaka.


"Kenapa buru-buru, sih? Ada asisten rumah tangga yang ngerjain."


"Iya, Mas, tapi aku juga harus turun ke dapur. Aku harus kontrol bumbu dapur untuk masakan Papa. Mama, kan nggak bisa turun ke dapur, ngurusin Papa. Belum nanti juga Bryan perlu dibantu bersiap, kan?"


"Iya, tahu. Bibi udah ngerti kok, Dek. Kan tiap hari juga kamu kontrol. Kita udah lama nggak ngobrol sejak kembali ke sini." Shaka menarik kembali tubuh Nimas agar berbaring di bahu lebarnya.


"Ya udah mau ngomongin apa?"


"Apa kamu bersedia untuk kita program hamil? Nggak ada salahnya kita mencoba." Shaka bergabung dengan sangat hati-hati. Ia takut jika ajakannya itu membuat hati Nimas terluka.


"Program bayi tabung?"


"Aamiin. Iya, Mas. Aku mau pakai cara apa pun, kita usaha sama-sama. Maaf, ya kamu menunggu sangat lama, tapi aku belum hamil juga. Sedangkan dulu, aku hanya khilaf satu kali, tapi langsung jadi. Bikin dosa memang gampang, ya Mas. Apa sekarang aku lagi dapat karma, ya Mas?"


"Kenapa ngomongnya begitu? Apa pun yang terjadi sudah atas izin Tuhan. Sudah berapa kali Mas bilang? Tuhan mau tahu seberapa kita sabar."


Nimas mempererat pelukannya, mereka sudah melakukan pola hidup sehat dan mengonsumsi makanan atau minuman yang sekiranya bisa meningkatkan kesuburan mereka. Meski helim pernah sekali pun mereka memeriksakan diri ke dokter, mereka tetap punya keyakinan bahwa usaha mereka akan membuahkan hasil. Sebisa mungkin mereka mencoba untuk mempunyai keturunan dengn cara alami.


"Udah, kan? Aku mandi, ya Mas. Kamu juga harus bersiap ke kantor."

__ADS_1


Shaka hanya mengangguk pasrah. Ingin bercinta sekali lagi, tapi waktu tidak mendukungnya kali ini.


***


"Nimas, kamu jangan cape-cape. Jangan stress juga, jangan banyak pikiran. Bukannya apa-apa, hal itu tidak baik dilakukan kalau kamu ingin segera punya anak." Saat sarapan Pak Malik tiba-tiba mengeluarkan petuahnya yang sukses membuat sepasang suami istri itu berhenti menyuapkan nasinya.


"Iya, Pa. Kita juga lagi usaha kok ini." Shaka yang menjawab.


"Istrimu ini terlalu lelah merawat Papa. Segala apa yang berhubungan sama Papa kalau Mama lagi nggak di rumah, Nimas yang ambil alih. Papa mau cari Suster nggak boleh."


"Kenapa nggak periksa aja ke dokter? Jadi kalian bisa tahu apa yang membuat kalian susah punya anak, itu lebih efektif," sahut Bu Marissa.


Semakin lama obrolan mereka semakin menjurus untuk menyudutkan Shaka dan Nimas, terutama Bu Marissa yang kalimatnya biasa saja dan diucapkan dengan nada serendah mungkin, namun pemilihan kata yang keluar terdengar menyakitkan.


"Ya barangkali, kan setelah kehamilan Nimas yang pertama ada masalah dengan apanya atau menurunkan kesuburannya, semuanya bisa terjadi. Biar nggak buang-buang waktu, ya harus periksa."


"Bryan, kita berangkat sekarang Sayang. Nimas, kalau kamu kepingin jalan-jalan, bisa jalan-jalan pakai supir rumah. Mas yakin kamu suntuk jika di rumah terus." Kalimat sindiran yang ia tunjukkan untuk ibunya sendiri. Ia menjadi semakin yakin jika ibunya ini belum menerima sepenuhnya kehadiran Nimas.


"Iya, Mas."


Setelah kepergian Shaka dan Bryan, Bu Marissa ikut meninggalkan meja makan, kini tersisa Nimas dan Pak Malik. Wanita itu membantu membereskan sisa piring kotor yang berceceran di meja.

__ADS_1


"Nimas maafkan istri Papa. Jangan diambil hati ucapan ibu mertuamu itu. Nanti malah membuat kamu stress. Papa membuka ucapan soal ini karena Papa ingin segera menimang cucu. Memang Papa sudah punya Bryan, tapi Papa entah kenapa ingin sekali menggendong bayi. Papa harap kamu tidak tersinggung dengan obrolan kita pagi ini."


"Tentu saja tidak, Pa. Saya paham dan sangat mengerti perasaan Papa kalau Papa ingin menimang cucu. Saya sedang mengusahakannya dengan Mas Shaka, saya minta doanya juga, ya."


__ADS_2