Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
91. Hancur Karena Kertas


__ADS_3

Shaka berdiri di pinggiran pintu kaca yang menghadap ke arah halaman samping. Menatap ributnya dedaunan hijau yang ditiup angin. Melihat dedaunan itu rasanya sangat sesak karena berdesakan dengan daun yang lainnya, se sesak dadanya yang kini tengah bergemuruh hebat.


Shaka masih tak bergeming saat pintu kamar terbuka. Tidak bersuara, tidak menoleh, dan tidak ada pergerakan sama sekali. Posisi Shaka saat ini salah posisi batu yang sungguh sempurna.


Nimas tak bersuara juga, ia memilih duduk di tepian ranjang dengan menghadap Shaka. Ia tahu suaminya itu pasti kecewa dan marah, ia hanya mampu menunduk menatap lantai yang seakan ikut merutuki dirinya karena tindakannya yang salah.


"Kenapa kamu lakukan ini?" Shaka melipat kedua tangannya di depan dada.


"Aku hanya ingin tahu apa yang salah sama aku, Mas. Aku tahu kamu sabar menanti, kamu nggak terburu-buru, kamu nggak mempermasalahkan keadan ini. Tapi menjadi beban tersendiri buat aku sebagai perempuan, Mas. Aku hanya memastikan aku sehat apa nggak. Karena aku pikir aku akan tenang jika aku tahu keadan aku."


"Sekarang kamu udah tenang? Udah tenang sama hasil kesehatan kamu, iya? Kamu tenang menyembunyikan hal sebesar ini?"


"Bukan gitu maksudnya, Mas. Iya aku salah, aku minta maaf. Tidak seharusnya aku melakukan ini."


"Kalau Mas nggak tahu kertas ini kamu juga nggak akan minta maaf. Kamu lupa sama pondasi dan prinsip kita dalam berumah tangga?" Shaka memutar tubuhnya ke arah Nimas dan duduk di samping istrinya.


"Ini bukan hal yang kecil, Dek. Ini bukan main-main. Kenapa harus ada seperti ini? Apa-apa itu diomongin dulu. Dibahas bareng-bareng, diskusi, nggak usah ada privat di antara kita. Kita udah nikah berapa tahun, sih? Kenapa masih begini-begini aja?"


"Aku merahasiakan ini karena aku nggak mau buat kamu sedih aja, Mas. Aku takut kamu mikir yang nggak-nggak."


"Mas nggak percaya kamu begini. Dari sini Mas tahu kalau yang bermasalah itu Mas, bukan kamu. Terus sekarang kamu mau apa? Apa yang kamu harapkan dari laki-laki yang tidak berguna ini?"


"Jangan bicara begitu, Mas. Kenapa kamu berpikir ke arah sana? Tolong jangan begini." Nimas semakin terisak.

__ADS_1


"Terus aku harusnya gimana? Gimana Nimas?"


Entah sadar atau tidak, Shaka yang terlalu kecewa karena merasa dicurangi memanggil istrinya dengan hanya nama tanpa embel-embel panggilan kesayangannya.


Dadanya semakin bergemuruh ketika melihat Nimas yang terisak. Ia sebenarnya juga tidak mau bersikap seperti ini, tapi bukankah hal yang wajar jika Shaka marah dan kecewa? Ia masih punya perasaan yang bisa kapan saja tersakiti jika ada yang menyakitinya.


"Mas, kita, kan masih bisa berusaha. Aku sehat, bukan berarti kamu yang bermasalah. Seperti yang sering kamu bilang, kalau rezeki itu nggak akan pernah salah datangnya. Kita memang belum di kasih rezeki dalam bentuk keturunan. Jangan berkecil hati hanya karena kamu melihat satu sisi."


"Kamu bisa bicara begitu karena kamu nggak ada di posisi aku. Jangan ajari aku hal lain selagi kamu sendiri nggak bisa hargai aku."


Shaka meninggalkan Nimas dengan amarah yang susah payah ia redam akhirnya mencuat juga. Nimas mengejar langkah sang suami, namun langkah kaki Shaka yang lebar tak mampu dikejar oleh Nimas.


"Mas tunggu, Mas. Jangan pergi dengan keadaan marah, aku mohon, Mas!" Nimas berusaha untuk menghentikan mobil Shaka, namun ucapan wanita hanya dianggap angin lalu oleh Shaka.


***


Pukul tujuh malam, Shaka berada di danau yang cukup jauh dari rumahnya. Ia butuh keheningan dan kegelapan, keadaan yang ia rasa cukup pas untuk menggambarkan suasana hatinya kini. Ia duduk di pinggiran danau dengan menatap air yang yang terasa cukup menenangkan.


Betapa hancurnya dirinya saat ini. Ia berpikir dosa apa yang ia perbuat di masa lalu hingga ia mendapat hukuman seperti ini. Air mata adalah saksi bisu betapa tidak bergunanya ini sebagai seorang laki-laki.


"Dari hasil pemeriksaan ini, cairan milik Bapak sedikit encer. Hal ini menyebabkan pasangan sulit hamil. Sulit, ya Pak. Bukan tidak bisa hamil. Cairan encer bukan berarti Bapak tidak subur, apalagi mandul. Hal ini bisa diatasi dengan perubahan gaya hidup yang lebih sehat, di mulai dari pola makan, olahraga, istirahat yang cukup, tidak terlalu stress."


"Jadi saya masih punya kemungkinan untuk bisa punya anak?"

__ADS_1


"Sangat mungkin, hanya saja butuh sabar, usaha, dan doa. Kemungkinan hamil pasti ada, hanya saja sedikit lama dan butuh perjuangan. Jangan berkecil hati. Kita semua punya kekurangan dalam hal yang berbeda. Benar, kan?" Dokter laki-laki berkacamata itu memberikan semangat untuk Shaka, sebagai sesama laki-laki, Dokter itu bisa merasakan apa yang dialami oleh Shaka bukan hal yang mudah untuk ia jalani.


Percakapan yang tadi sore ia lewati jujur saja membuat hatinya bergemuruh. Meskipun dalam hati ia meyakinkan bahwa dirinya masih bisa memiliki anak. Walau harus sabar dan menunggu, tetap saja di sisi lain ia merasa tidak berguna sebagai manusia.


Pria itu masih duduk termenung dengan tenang tanpa pergerakan. Pandangannya masih sama menatap ke depan dengan pandangan yang kosong. Ia tidak mempedulikan ponsel yang sedang tadi bergetar tiada henti. Yang ingin ia lakukan saat ini hanya menenangkan diri dan sendiri tanpa siapa pun yang menemani.


Sementara di lain tempat, Nimas sudah frustasi dan tidak berhenti menangis karena suaminya yang tidak kunjung pulang. Entah sudah berapa kali ia mengirim pesan dan menelepon suaminya itu, tapi sama sekali tidak ada respon dan hal itu membuat Nimas semakin besusah hati.


"Nimas, biarkan dulu Shaka sendiri. Dia pasti terpukul dengan apa yang kamu lakukan tanpa seizinnya." Pak Malik yang baru tahu apa yang terjadi berusaha untuk menenangkan menantunya. Sementara Bu Marissa hanya mengkhawatirkan Shaka tanpa peduli dengan kesalahan dan juga menantunya.


"Lagian kamu ini juga aneh Nimas, kalau kamu nggak mau anak saya nggak tahu dengan apa yang kamu perbuat. Kenapa nggak kamu buang aja atau dibakar aja itu hasil pemeriksaan kamu. Niat banget kamu kayaknya mau merendahkan anak saya."


"Ya Allah, Ma. Hasil pemeriksaan itu tersimpan rapi di tempat yang tidak mungkin mas Shaka akan tahu keberadaannya. Kalau Mama nggak iseng, nggak rese, dan tangan Mama nggak jahil. Nggak mungkin kertas itu ada di bawah kolong sofa."


"Kok mulut kamu jadi enteng banget lempar kesalahan ke saya."


"Ya memang, Mama yang salah, kan? Kalau Mama nggak menekan saya karena saya nggak hamil, saya juga nggak akan periksa diri ke dokter kok. Saya nggak pernah punya pikiran untuk memeriksakan diri ke dokter sebelum Mama terus menerus menekan saya. Saya dan Mas Shaka selalu percaya kalau kami akan memiliki anak suatu hari nanti. Kami akan menunggu dengan sabar dan Mama mematahkan kesabaran saya sebagai seorang perempuan."


"Diam kamu Nimas!"


"Saya sekarang nggak akan diam, kurang diam apa saya selama ini mendapatkan tekanan dari Mama. Entah itu secara langsung atau melalui Mas Shaka. Mama selalu menekan saya dengan ucapan Mama. Membeberkan kekurangan saya di depan teman-teman Mama. Tidak cukup dengan itu, Mama mempengaruhi Mas Shaka untuk memberikan saya berbagai makanan dan minuman agar saya bisa segera mengandung. Perempuan mana yang tidak tertekan jika diperlakukan seperti itu oleh Ibu mertuanya sendiri?"


Sepasang mata dan sepasang telinga yang tidak disadari oleh mereka semua mendengar dan melihat dengan jelas pertikaian antara kedua wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2