Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
78. Obrolan Tengah Malam


__ADS_3

Di malam hari, di saat semua orang sudah tertidur pulas, Shaka terbangun karena merasa haus. Tidak ada air putih di kamar membuatnya terpaksa turun ke dapur. Saat menapaki anak tangga yang terakhir, mata Shaka tak sengaja menatap ruang tamu. Ada yang menarik perhatiannya saat ia melihat ke arah jendela. Dalam keadaan sedikit gelap dan jam sudah tengah malam untuk apa ayahnya berasa di sana? Menatap hamparan halaman depan rumah yang luas dan penuh dengan tanaman dan beberapa pohon yang tingginya tak seberapa.


Pak Malik yang sudah beberapa bukan terakhir hanya duduk di kursi roda karena kakinya yang sudah sulit digunakan untuk berjalan membuat Shaka memindahkan kamar orang tuanya yang semula di atas menjadi di bawah agar tak kesulitan saat melalukan sesuatu.


"Papa ngapain di sini malam-malam? Bukannya istirahat." Shaka menyalakan lampu dan berjalan menghampiri ayahnya.


"Kamu ngagetin Papa aja. Lagi nggak bisa tidur," jawab Pak Malik dengan entengnya.


"Ya kalau pun nggak bisa tidur tidak seharusnya di luar kamar. Papa bisa rebahan aja di kamar, kan? Ngapain duduk di sini sendirian lagi, nanti kalau Mama nyariin gimana?" Shaka menarik salah satu sofa ruang tamu dan duduk di sebelah Pak Malik.


Pak Malik tak mengindahkan pertanyaan Shaka. Tatapannya masih sama, bentangan halaman luas yang tiba-tiba saja muncul bayangan masa lalunya bermain di sana dengan kedua jagoannya.


"Papa mikirin apa? Anak Papa sudah kembali. Apa lagi yang Papa inginkan? Bilang sama aku, akan aku kabulkan untuk Papa."


Pak Malik beralih menatap anaknya. Ternyata Shaka tak pernah berubah, ia tetap Shaka yang sama, Shaka yang selalu ingin membahagiakan orang tuanya dengan mengusahakan mengabulkan apa yang diinginkan orang tua.


Perpisahan beberapa tahun tak membuat Shaka mengubah rasanya terhadap orang tua.


"Kenapa kamu bersedia ke sini lagi?"

__ADS_1


"Papa yang mau, kan?"


"Kenapa kamu masih mengabulkan keinginan Papa? Papa jahat sama kamu, Maka jahat sama Nimas. Dan kami berdua jahat sama Bryan kecil."


"Itu adalah baktiku sama kalian. Ya memang kalau diingat lima tahun yang lalu dan apa yang aku lakukan sekarang itu, seperti aku sedang menjilat ludahku sendiri. Dengan secara terang-terangan dan sadar aku memutuskan hubungan dengan kalian dan sekarang kembali ke sini. Memang terdengar memalukan, tapi akan menjadi sebuah penyesalan kalau aku mempertahankan egoku. Bagaimana mungkin aku membiarkan Papa dan Mama sendirian, kalau Papa tidak sehat seperti ini. Lagi pula menantu Papa juga sangat ingin merawat Papa setelah dengar Papa duduk di kursi roda."


"Papa bersyukur masih diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, tapi di sisi lain Papa juga sangat menyesal kenapa harus melewati masa-masa sulit baru Papa bisa menyadari kalau Papa ini salah. Kamu tahu? Lima tahun hidup tanpa kamu rasanya sangat sulit bagi kami. Mama dan Papa sering ribut karena saling menyalahkan satu sama lain. Mama yang selalu menyalahkan Papa kenapa Papa menutup akses semua perusahaan menerima kamu bekerja dan Papa selalu menyalahkan mama karena dia menyebalkan dan menambahkan pikiran untuk Papa. Setelah pertengkaran itu berlarut-larut, akhirnya Papa sakit-sakitan dan di saat itu lah Papa sadar kalau Papa butuh kamu."


"Kenapa masih dipikirkan soal ini, pa? Aku dan dia sudah menganggap masalah itu tidak pernah ada. Jadikan saja semuanya menjadi pelajaran. Toh aku dan Nimas baik-baik saja dan kami bahagia. Lalu apa yang membuat Papa di sini sendirian malam-malam?"


"Untuk ini."


"Papa hanya rindu ngobrol tengah malam sama kamu. Bukankah hubungan kita dulu sedekat jarak dekat kita sekarang ini?"


Shaka lalu memperhatikan jarak keduanya. Mereka tertawa bersama karena duduk mereka sangat dekat, hampir tidak ada jarak. Ya, hubungan antara Shaka dan Pak Malik dahulu sangat dekat. Namun, hubungan itu sedikit demi sedikit merenggang ketika Shaka sudah memegang perusahaan darinya. Pekerjaannya yang menyita waktu membuat Shaka menghabiskan malam dengan istirahat dan hanya sesekali ngobrol dengan sang Ayah.


" Oh, ya, ngomong-ngomong istri kamu mengatakan kebenaran kalau dia bilang mau merawat Papa. Dia sangat-sangat merawat Papa dengan baik di sini, jauh lebih baik dari Mama malah."


"Sungguh?"

__ADS_1


"Iya, jadi semenjak kalian pindah ke sini itu Mama sudah mulai aktif melakukan kegiatannya di luar rumah. Seperti arisan, ketemu sama temen-temennya, ya memang nggak setiap hari dan tidak terlalu sering, tapi sudah mulai keluar-keluar. Nggak kayak dulu sebelum kalian pindah ke sini, Mama sama sekali nggak pernah keluar rumah. Dan kalau dibandingkan lebih enak dirawat Nimas daripada Mama. Nimas punya kesabaran yang luar biasa ketika menghadapi Papa, tapi Mama, Papa cerewet sedikit aja udah ngomel dia."


Pak Malik lalu mulai menceritakan keseharian Nimas saat dengannya dan juga Bryan. Menceritakan Nimas yang ternyata mempunyai hati lembut, pemaaf, sabar, dan sifat-sifat baik lainnya. Tak lupa anak kecil yang sekarang menghiasi hari-harinya itu tak luput dari ceritanya.


"Ngomong-ngomong soal Bryan. Apakah hari ulang tahunnya sesudah terlewat?"


"Belum, Pa. Ulang tahunnya pertengahan tahun, setelah dia masuk SD nanti. Kenapa?"


"Papa mau merayakannya. Sekalian itu kamu undang orang tua Nimas. Papa juga punya salah sama mereka. Mama dan Papa dulu pernah menyakiti mereka di saat hari pernikahan kalian."


Shaka sedikit tekejut, pasalnya ia tak tahu jika hal itu pernah terjadi. Yang ia tahu hanya Raisa yang berbuat ulah. Membicarakan pernikahan, membuat Shaka ingin bertanya, kenapa mereka tak datang di hari akad nikah saat di rumah Nimas.


"Waktu itu ego Papa masih sedang tinggi, gengsi Papa masih di level atas. Karena Papa masih sehat dan bisa hidup tanpa kamu. Tapi setelah itu, Tuhan negur Papa dengan menurunkan kesehatan Papa."


Shaka senang, perubahan sang Ayah tidak lagi diragukan olehnya. Rupanya benar apa kata orang, akan selalu ada hikmah disetiap kejadian. Dan kejadian yang menyakitkan untuknya di masa lalu, rupanya membawa perubahan bagi sang Ayah. Namun, keyakinan itu tidak ia gunakan pada sang Ibu. Entahlah, ia hanya merasa ibunya belum sepenuhnya berubah. Meskipun wanita itu sesudah menunjukkan bahwa dirinya sudah menjadi baik, hati Shaka masih menyimpan keraguan dan kehati-hatian terhadapnya.


"Bryan sudah besar, kenapa kamu tidak kunjung punya anak? Usia kamu sudah di atas tiga puluh tahun. Kasihan nanti dia punya Ayah yang sudah tua jika dia beranjak remaja. Seharusnya kamu sudah punya dua anak kandung di usia Bryan yang sekarang."


Pertanyaan yang terdengar sederhana seharusnya, tapi membawa kesedihan sendiri bagi Shaka. Ia sedikit menundukkan kepala karena, menahan beban yang baru saja ia keluarkan tadi sore saat mengunjungi rumah kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2