Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
103. Merasa Di Lupakan


__ADS_3

"Ah akhirnya suamiku ingat juga kalau istrinya sedang berjuang melahirkan anaknya," sindir Nimas seraya menahan sakit.


"Maaf Mas tadi refleks aja. Gimana? Masih tahan sakitnya, kalau nggak, kita operasi aja. Sama aja mau operasi atau normal, yang penting kamu nggak kesakitan kayak gini."


"Mas kamu juga pernah bilang seperti itu waktu aku melahirkan Bryan dan pilihan aku tetap sama. Suster tolong lakukan sesuatu agar pembukaan ini bisa berjalan dengan cepat." Nimas bingung hendak memposisikan tubuhnya bagaimana. Rasanya posisi apa pun tidak membuatnya nyaman.


Suster yang mendapat keluhan dari Nimas secara menghampiri pasien yang tak sabaran itu. Memeriksa jalan lahir dan


"Proses pembukaan Ibu ini termasuk cepat, jadi kami tidak perlu melakukan tindakan apa pun. Jika dalam beberapa jam tidak ada perubahan dalam pembukaan maka kami akan memberikan suntik induksi. Jadi saya harap Ibu bisa tenang, atur nafas, dan Jangan buang tenaga. Ibu akan melahirkan dua bayi dan itu sangat menguras tenaga. Ibu kalau merasa ingin makan boleh makan." Suster itu lalu kembali menyelesaikan tugasnya untuk mempersiapkan persalinan.


"Bagaimana aku bisa makan jika perutku sakit seperti ini?" gumam Nimas lirih, namun masih terdengar jelas di telinga Shaka.


"Dengerin kata suster, Dek. Udah sini menghadap ke Mas." Shaka dengan pelan memutar tubuh istrinya. Karena situasi yang membuat dirinya harus ekstra memberikan perhatian pada Nimas, dirinya sampai lupa tidak mengabari siapa pun bahwa istri akan melahirkan sekarang.


Detik, menit, jam, entah sudah berapa lama Nimas menghabiskan waktu dengan merintih menahan sakit berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya dan juga omelannya. Wanita itu menyembunyikan rasa sakitnya dengan menenggelamkan kepalanya di bahu lebar sang suami.


Sementara itu, Shaka yang nampak tenang di luar, namun menyimpan kecemasan dan was-was yang amat luar biasa besarnya, hanya bisa memberikan kekuatan istrinya dengan memberikan kecupan-kecupan dan juga sentuhan-sentuhan sederhana. Tak lupa kata-kata penyemangat untuk Ibu dari anaknya itu ia bisikan ke telinga istrinya.


Sekitar pukul sembilan malam, saat-saat menegangkan seperti delapam tahun silam kembali terjadi. Wajah Nimas yang sudah dipenuhi peluh berusaha dengan keras dan sekuat tenaga untuk mendorong bayinya keluar.


Butuh waktu lebih dari sepuluh menit untuk Nimas melahirkan keduanya. Semua rasa sakit yang ia rasakan beberapa jam yang lalu sudah terbayar dengan suara kerasa tangisan kedua anak gadisnya. Betapa leganya perasaan Nimas dan Shaka, akhirnya wanita itu bisa menjaga dan melahirkan kedua akan kembarnya dengan selamat. Kini lengkap sudah kebahagiaan mereka dengan ketiga orang anaknya.

__ADS_1


"Aku yang hamil, aku yang sakit, aku yang melahirkan, dan tidak ada wajahku di kedua anak ini. Kenapa kalian hanya mewarisi wajah Ayah, ha?" Nimas yang sedang menyusui salah satu anaknya mengeluh.


"Salah sendiri, siapa suruh sama sendiri udah kayak musuh," sahut Shaka yang sedang menimang bayi lainnya.


"Mana aku tahu kenapa aku begitu, namanya juga hormon. Ya, kan aku nggakal bisa kontrol. Ngomong-ngomong, Mas, orang-orang nggak kamu kasih kabar? Minimal Mama, Papa dulu lah. Ayah sama Ibu nanti aja nggak apa-apa aja kalau aku udah pulang."


Belum sempat Shaka menjawab, pintu terdengar yang terbuka.


"Kami sudah ada di sini." Bu Marissa datang dengan suaminya beserta cucunya.


"Kok kalian bisa ada di sini? Kan aku belum kasih kabar. Maaf aku lupa, nggak sempat, Nimas dari tadi ngomel mulu makanya aku fokusnya jadi terbelah-belah. Mana dengerin omelan,  mana menenangkan perutnya yang sakit."


"Kok kamu jadi nyalahin aku sih, Mas. Ya sudah kalau gitu, kamu mau anak lagi, kamu aja yang hamil biar aku temani kamu melahirkan."


"Kenapa, sih kalian ini akhir-akhir ini sering bertengkar terus? Kasihan, kan si kembar kalau dengerin kalian adu mulut terus. Telinga mereka sejak hadir dalam kandungan Nimas sudah tercemar sama keributan yang kalian ciptakan. Ngomong-ngomong akan kalian beri nama siapa kedua adiknya Bryan ini?"


Tidak ada yang menyadari bahwa Bryan sedang terduduk sendiri di sofa panjang yang terpasang di ruangan itu. Ia mematung seraya memperhatikan gerak-gerik keluarganya. Ia merasa bahwa ia sedikit dilupakan karena hadirnya dua bayi mungil yang sedang berada di gendongan kedua orang tuanya.


Di usianya yang masih delapan tahun, Bryan cukup mengerti bahwa bayi yang baru saja lahir ke dunia itu adalah anak kandung dari laki-laki yang selalu ia panggil Ayah. Itu artinya ia harus rela membagi kasih sayangnya dengan kedua adiknya itu. Bahkan mungkin kasih sayangnya yang semula diberikan penuh padanya akan hilang dan digantikan oleh kedua bayi yang bahkan belum bisa melakukan apa pun itu. Setidaknya kekhawatiran itulah yang sering Bryan rasakan begitu ia tahu ibunya mengandung.


"Yang aku gendong ini, Anisa Karima Narendra. Kalau yang lagi sama Nimas, Amira Kamila Narendra."

__ADS_1


"Bagaimana cara membedakan mereka? Bukankah mereka terlihat tidak ada bedanya?" Bu Marissa bertanya seraya menengok-nengokkan kepalanya mencari perbedaan keduanya.


"Ada, Ma. Nisa akan selalu pakai apa pun serba pink kalau Mira serba biru. Untuk sementara hanya itu yang bisa membedakan mereka. Karena aku sendiri juga belum tahu apa yang menjadi pembeda di antara mereka. Ini masih sangat dini dan wajar kalau kita belum tahu bedanya, Ma. Baru berapa jam mereka lahir."


Kedua adikku punya nama Narendra? Nama yang sama seperti Ayah Shaka dan Ayah Bryan. Pasti itu nama keluarga dan hanya aku yang tidak punya nama itu. Apa aku bukan keluarga mereka? Bukannya aku ini anak kandung Ayah Bryan yang sudah pergi? Kenapa namaku nggak ada Narendra nya?


Pikiran Bryan kecil semakin ke mana-mana karena tak ada arahan dan penjelasan, atau setidaknya kalimat yang akak membuat anak itu mengerti bahwa ia akan mendapat kasih sayang yang sama dari kedua orang tuanya.


Bagaimana mau mendapat arahan jika dirinya saja pandai menyembunyikan apa yang ia rasakan. Berbulan-bulan menyembunyikan ketakutan, kecemasan, dan kekhawatirannya seorang diri bukan perkara mudah. Bahkan butuh mental yang kuat untuk memendamnya sendirian.


Bryan semakin menundukkan kepalanya ke lantai. Dan pergerakan dari Bryan, ternotice oleh ibunya.


"Mas," panggil Nimas mengarahkan dagunya ke arah sofa.


Shaka menoleh, di detik berikutnya ia menyerahkan Nisa kepada Bu Marissa. Setelah Nisa berada di tangan ibunya, Shaka bergegas duduk di samping Bryan.


"Anak Ayah dari tadi diem aja, kenapa?"


"Nggak apa-apa, Yah. Aku hanya ngantuk."


"Kamu ngantuk? Ya udah tidur di sini aja. Ini pakai jaket Ayah buat selimut."

__ADS_1


Shaka membawa kepala Bryan ke dalam pangkuannya. Ia tahu anak itu pasti sedang merasa insecure dengan dirinya sendiri. Jangan lupa, meskipun Bryan bukan anak kandung Shaka, tetap saja anak itu tumbuh di bawah kasih sayang Shaka yang sudah pasti sedikit demi sedikit ia paham dengan karakter anaknya.


__ADS_2