Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
73. Tulus Atau Palsu?


__ADS_3

Minggu pagi, Shaka menghabiskan waktu dengan anak semata wayangnya. Hari yang cerah untuk melakukan olahraga pagi, Ayah dan anak itu sedang jogging keliling kompleks. Para ibu-ibu sudah memulai aktivitasnya dengan belanja dan ada sebagian yang berada di luar rumah. Entah itu menyapu, menyiram tanaman, atau melakukan kegiatan lainnya. Kedua manusia yang berjenis kelamin sama, namun berbeda generasi itu selalu menjadi pusat perhatian ketika berkeliling kompleks. Pasalnya mereka sama-sama tampan meskipun berbeda wajah.


"Selamat pagi anak ganteng, selamat pagi juga buat ayahnya," sapa salah satu ibu paruh baya saat berbelanja di tukang sayur keliling.


"Selamat pagi juga, Bu. Mari," jawab Shaka dengan ramah.


"Ayah genit setiap lari pagi selalu senyum-senyum sama ibu-ibu yang nyapa. Mana jawabnya lembut banget lagi, kayak ngomong sama Bunda," protes Bryan.


"Itu namanya nggak genit, Sayang, itu namanya ramah. Kita harus ramah sama semua orang."


Matahari yang sedikit demi sedikit menambah rasa panas di kulit mereka membuat Shaka memutuskan untuk menggendong Bryan agar segera sampai rumah dengan cepat. Hal itu Shaka lakukan bukan tanpa alasan atau memanjakan Bryan. Kulit Bryan yang sedikit sensitif terhadap sinar matahari adalah alasan satu-satunya Shaka untuk tidak membiarkan Bryan terkena sinar matahari terlalu lama.


Begitu jarak mereka dan rumah sudah semakin dekat, Shaka memperlambat jalannya karena ia melihat mobil yang begitu familiar terparkir cantik di depan rumahnya.


"Itu mobil siapa, Ayah? Itu berhenti di depan rumah kita, kan?"


"Iya, Ayah juga nggak tahu, kita lihat saja di rumah, ya."


Siapa yang datang, Mama atau Papa? Untuk apa lagi mereka datang ke sini? Aku baru saja menikmati ketenangan dengan Nimas dan Bryan. Aku harap mereka tidak mengusiknya.

__ADS_1


"Iya, Nimas. Jadi Papa itu memang sekarang sudah sering keluar masuk rumah sakit. Karena, ya kamu tahu sendiri lah, tidak ada orang tua yang tidak memikirkan ketika jauh dari anaknya. Apalagi kami jauh dari Shaka itu dengan hubungan yang tidak baik-baik saja," adu Bu Marissa.


Nimas sejak tadi tak banyak bicara, ia hanya mendengar cerita Bu Marissa yang terdengar menyakititkan. Jauh dari sang anak selama lebih dari lima tahun bukanlah hal yang mudah. Dirinya yang sekarang menjadi ibu belum tentu bisa melewati masa itu sekuat kedua mertuanya.


"Itu mereka datang, Ma," kata Nimas mengarahkan pandangan ke arah pintu utama.


Bu Marissa refleks mengikuti pandangan Nimas. Entah apa yang salah dengan rasa yang beliau rasakan saat pertama kali melihat Bryan yang berdiri di samping Shaka dengan tangan menggenggam jari jemari Shaka.


Dadanya terasa sesak, kelopak mata yang perlahan entah kenapa penuh dengan air. Beliau merasa kembali melihat sang anak yang sudah tiada. Pandangan Bu Marissa lama sekali menatap Bryan kecil yang juga menatap beliau dengan heran.


Di saat bersamaan, sisi jahat Bu Marissa kembali berulah.


Shaka pun diam menatap sang Ibu yang terlihat ada beberapa keriput di bagian wajahnya. Shaka baru menyadari bahwa ia tidak bertemu dengan sang Ibu sudah lama. Hal itu terbukti dari keriput di wajahnya yang sudah mulai terlihat.


Jika ditanya apakah saya akan merindukan ibunya? Sudah jelas dan pasti jawabannya ia merindukan ibunya. Tapi Ia merelakan untuk tak menghiraukan rasa rindunya itu demi keluarga kecilnya, karena jika ia mengedepankan perasaannya, maka sama saja itu akan menyakiti istrinya sendiri, wanita yang teramat ia cintai.


"Shaka, Mama kangen kamu, Nak. Mama rindu," kata Bu Marissa menangis seraya memeluk anaknya.


Wanita itu sesenggukan di dada lebar sang anak. Untuk beberapa saat Shaka terdiam tidak membalas pelukan sang Ibu. Namun, saat dirinya tak sengaja menatap Nimas entah kenapa wanita itu menganggukkan kepalanya pelan, seakan ia sedang mengkodekan sesuatu yang orang lain belum tentu tahu. Namun bukan Shaka namanya jika ia tidak mengerti telepati yang dikirimkan oleh Nimas.

__ADS_1


"Mama apa kabar?" tanya Shaka yang secara perlahan mengangkat tangannya dan memeluk sang Ibu dengan erat.


Tidak bisa dipungkiri siapa pun yang berada di posisi Shaka juga pasti akan merasakan hal yang sama. Kesalahan apa pun yang dilakukan oleh seorang Ibu dan sebesar apa pun kesalahan itu, ikatan batin yang terjalin antara anak dan Ibu tidaklah pernah putus. Kasih sayang, hati, waktu, perasaan, yang sudah terjalin puluhan tahun tidak mungkin hilang atau lenyap dalam waktu sekejap saja. Meski sedang marah atau kecewa, seorang anak di dalam hati kecilnya pasti masih ada setitik rasa cinta dan kasih sayang untuk kedua orang tuanya.


"Mama baik, kamu nggak kangen Mama, Nak? Kenapa nggak pernah datang ke rumah? Setidaknya temui Mama sebentar saja. Mama ini tetap Ibu kamu, Nak. Mama Minta maaf kalau Mama banyak salah. Mama sadar, Mama nggak bisa meneruskan hidup tanpa kamu lebih lama lagi. Ayo kita pulang!" pinta Bu Marissa seraya melepaskan pelukan dan menatap anaknya dengan dalam.


Tatapan yang Bu Masrissa lempar pada anaknya bukanlah tatapan kebohongan. Wanita itu benar-benar merindukan sang anak. Permintaan maafnya pun beliau lakukan dengan sadar, meskipun beliau minta maaf hanya untuk melancarkan tujuannya.


"Iya, aku sudah melupakan masalah itu.  Lagi pula itu sudah berlalu lama, aku tidak mau memikirkannya. Aku sudah Maafin Mama dari dulu. Aku juga minta maaf, ya Ma. Tapi kalau untuk kembali pulang aku tidak bisa. Maaf."


"Papa sakit Shaka. Papa beberapa tahun terakhir udah sering keluar masuk rumah sakit. Papa juga mau ketemu sama kamu. Ayolah, Nak. Papa sama Mama sudah semakin tua. Kami sebagai orang tua cuman mau kumpul sama anak di hari tua."


"Papa sakit? Sakit apa?"


"Darah tinggi Papa kambuh. Papa sampai pingsan di kamar mandi, Nak. Dokter bilang kita harus jaga Papa dari segi apa pun. Dari segi pola makan, pikiran, kebahagiaan, kalau nggak hal ini bisa menyebabkan merembet ke penyakit lain yang lebih parah," terang Bu Marissa.


Shaka membuang nafas berat, ia berada di dua pilihan yang berat. Ia peduli dengan keadaan orang tuanya, tapi di sisi lain ia juga tak mau kejadian yang sudah-sudah kembali terulang. Apalagi tidak ada yang menjamin keduanya sudah berubah dan menerima Nimas sebagai menantunya. Terlebih lagi ada Bryan yang sudah mulai mengerti dengan situasi di sekitarnya meski baru berusia lima tahun. Apa jadinya nanti jika ia melihat kedua orang tuanya yang mungkin akan berkata kurang enak di dengar. Atau sikapnya yang beliau tunjukkan pada Nimas. Ah bingung selalu rasanya.


"Ayah. Apa Oma ini adalah ibunya Ayah. Ada beberapa temanku yang memanggil ibunya dengan sebutan Mama," tanya Bryan menarik ujung kaos Shaka.

__ADS_1


__ADS_2