
Meski dengan setengah hati, Shaka menyuapi Raisa sampai nasinya habis tak tersisa. Tentu saja gak itu membuat Raisa dan Bu Marissa merasa senang karena rencananya berhasil meski harus melewati drama yang mengesalkan.
"Udah, kan? Ini obatnya minum sekalian!" kata Shaka sedikit ketus. "Sekarang apa yang kamu inginkan sudah aku kerjakan. Aku mau balik." Shaka mengambil langkah untuk keluar ruangan. Namun, secepat kilat Raisa mencegah kepergian Shaka dengan mencekalnya.
"Lepas!" ujar Shaka menepis tangan halus Raisa.
"Jangan kasar, Shaka!" tegur Bu Marissa.
"Apa Mama pikir aku akan kasar tanpa alasan? Ini adalah pertama dan terakhir. Sekali lagi aku tegaskan, aku milik istriku. Tidak boleh ada yang menyentuh aku tanpa seizin Nimas."
"Keterlaluan kamu, Shaka!"
"Aku begini karena Mama yang mulai. Permisi!"
Shaka lalu bergegas pergi dari sana, meninggalkan kekesalan uang sejak tadi mendera. Bu Marissa hendak mengejar, namun urung beliau lakukan karena dicegah oleh Raisa.
"Nggak perlu, Tante. Yang penting kita sudah dapat apa yang kita mau."
***
Setelah dari rumah sakit, Shaka langsung pulang. Rasa bersalah yang menyelimuti dirinya membuat ia gegas menghubungi Nimas. Ia khawatir jika wanita yang sedang hamil itu menunggu kabar darinya.
"Hai, maaf aku telat ngabarin kamu. Aku sudah sampai rumah dengan selamat. Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Shaka mendekatkankan wajahnya ke layar ponsel.
"Aku baca ini. Novel yang pernah aku beli, tapi belum sempat aku baca." Nimas menunjukkan bukunya ke pada Shaka. "Urusannya udah selesai?"
__ADS_1
"Udah. Menceritakan tentang apa novel yang kamu beli?"
"Suami yang nipu istrinya. Itu, yang aku tangkap dari beberapa halaman yang sudah aku baca. Aku baru membacanya, belum ada setengah halaman."
Shaka tiba-tiba saja merasa tersindir, mendengar ucapan istrinya, ia merasa buku itu sedang menceritakan dirinya, meskipun ia tak tahu dalam buku itu menceritakan penipuan yang bagaimana.
"Apa yang akan kamu lakukan jika aku menipumu seperti novel yang kamu baca?" Tiba-tiba Shaka melempar petanyaan yang tentu saja membuat Nimas melipat kening.
"Aku percaya kamu nggak akan pernah nipu aku untuk permasalahan sekecil apa pun. Kenapa kamu bertanya begitu?"
"Enggak kok, aku nanya aja. Sepercaya itu kamu sama suamimu?"
"Kenapa tidak? Kamu menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab di mata aku, mana mungkin Shaka yang aku kenal hangat, lemah lembut, peduli dengan orang-orang di sekitarnya melakukan penipuan. Kamu juga pernah bilang kalau pondasi dalam sebuah hubungan salah satunya adalah keterbukaan. Aku yakin, kamu nggak akan menutupi apapun dariku apalagi melakukan penipuan."
Shaka dibuat semakin tidak berdaya dengan jawaban yang dilempar oleh Nimas. Karena pada kenyataannya kini ia sedang menjilat ludahnya sendiri. Ia yang mengatakan pada istrinya untuk selalu terbuka dalam hal apapun, tapi dirinya malah menyembunyikan hal semenyakitkan ini dari dirinya.
"Kok tiba-tiba nanya gitu? Apa kamu lagi ada masalah dan ingin menyampaikan sesuatu sama aku?"
"Ah nggak kok. Aku hanya bertanya saja. Biar bagaimanapun juga, aku manusia biasa. Pasti suatu saat nanti mungkin saja aku khilaf melakukan kebohongan kecil."
"Itu manusiawi, Mas. Apapun yang akan terjadi suatu hari nanti, aku akan berusaha untuk memegang teguh pendirian aku, bahwa aku hanya akan percaya dengan kata-kata kamu. Aku tidak peduli dengan omongan orang di luar sana. Aku hanya percaya sama kamu. Aku harap kamu juga begitu."
"Pasti. Mudah-mudahan Tuhan selalu melindungi hubungan kita, ya."
Pembicaraan mereka berlanjut dengan obrolan ringan.
__ADS_1
***
Tak terasa, hari ini adalah hari ketiga Shaka tanpa Nimas di sisinya. Jujur saja ia merasa ada yang berbeda dan merasa kurang ketika bangun tidur dan akan berangkat tidur tidak ada yang menemani. Meskipun setiap hari Shaka dan Nimas melakukan panggilan video setiap hari, tetap saja perasaan berbeda dan juga setitik rindu terasa mulai menodai hati Shaka.
Di saat sedang fokus dengan tumpukan berkas dan juga bolpoin, tiba-tiba saja pintu ruangan Shaka terbuka dengan sendirinya. Refleks ia menatap pemilik tangan yang berani membuka pintu tanpa permisi.
"Mama?" kata Shaka sedikit terkejut, karena sepanjang ia memimpin perusahaan yang diberikan ayahnya, ibunya itu tak pernah datang ke kantor di hari biasa seperti ini.
"Shaka,.hari ini adalah jadwal Raisa untuk belajar berjalan kamu temani dia!"
Bisakah seketika berdiri mendengar penuturan konyol ibunya.
"Mama ini apaan, sih Ma? kenapa harus aku? Sudah aku bilang kalau apa yang aku lakukan kemarin itu adalah pertama dan terakhir. Aku sudah sangat berdosa dengan Nimas karena melakukan ini sembunyi-sembunyi. Mama ini sama-sama perempuan, perasaan Mama di mana sih, Ma? Aku punya istri dan Mama nyuruh aku merawat wanita lain? Istriku aja aku tinggal di rumah orang tuanya, kenapa aku di sini harus peduli sama Raisa? Tolong, ya Ma. Hubungan aku dengan Raisa sudah berakhir, kalau Mama sayang sama dia sebagai anak tolong anggap dia anak. Jangan anggap dia sebagai kekasihku. Mama juga harus hargai aku, jangan Raisa doang yang Mama pikirkan."
Akhir-akhir ini Shaka sering bicara sedikit menaikkan nadanya saat dengan Bu Marissa. Kapan pun dan di mana pun ia bertemu dengan sang Ibu, yang dibahas selalu saja sama, hal itu-itu saja, topik yang selalu dibahas hanyalah Raisa, Raisa, dan Raisa. Entah guna-guna apa yang Raisa kirimkan pada ibunya.
"Nimas benar-benar membawa pengaruh buruk ke kamu, Shaka. Sejak kenal sama Nimas, nada bicara kamu sedikit-sedikit meninggi ke Mama."
"Ini nggak ada hubungannya sama Nimas, Ma. Mama ini sadar apa nggak kalau yang Mama lakukan ini salah. Aku nggak ada maksud untuk durhaka, kurang ajar atau apa pun itu. Aku hanya ingin Mama tahu Mama ini salah. Aku berusaha menjelaskan dengan cara yang baik Mama nggak dengar." Shaka menurunkan nada bicaranya. Shaka yang dikenal banyak orang pria yang sabar, kini kesabarannya terasa semakin menipis.
"Udahlah, kamu memang nggak sayang lagi sama Mama. Nimas sudah merebut kamu dari Mama." Bu Marissa yang berkaca-kaca lalu memutar tubuhnya dan pergi dari hadapan sang anak.
Untuk pertama kalinya, Shaka menjadi penyebab air mata sang Ibu jatuh. Pria itu pun segera menyusul ibunya dan meraih tangannya untuk ia cegah kerpegiannya, apalagi pergi dengan keadaan menangis, itu sangatlah tidak baik di mata Shaka. Biar bagaimanapun, wanita itu sudah melahirkan dan merawatnya dengan baik hingga kini.
"Aku minta maaf kalau Mama merasa aku jauh dari Mama. Nggak ada yang rebut aku dari Mama. Aku masih anak Mama, tapi aku juga suami seorang wanita. Jika dulu Mama adalah satu-satunya wanita yang aku cintai, kini aku harus bagi sama istri aku, Ma. Kalian sama-sama mendapatkan hal yang sama besarnya dari aku. Kasih sayang, cinta, perhatian, semuanya dapat sama."
__ADS_1
"Kalau Nimas nggak rebut kamu dari Mama. Harusnya kamun masih nurut sama Mama."
"Oke, aku akan antar dia!"