Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
108. Shaka Semakin Pusing


__ADS_3

Di hari sabtu pagi, Bryan sudah terbangun sebelum matahari menampakkan sinarnya. Anak laki-laki itu menatap jam dinding yang masih menunjukkan pukul setengah enam. Ia duduk sejenak mengumpulkan nyawa lalu beranjak dari kasurnya dan berniat melihat kedua adik kembarnya.


"Bunda, Ayah. Udah bangun?" teriak Byan seraya mengetuk pintu pelan.


Tak kunjung ada jawaban membuat Bryan dengan perlahan membuka pintu dan berniat akan mengintip kedua orang tuanya dari sela-sela pintu. Rupanya kedua orang tuanya masih tertidur dengan lelap.


Mata Bryan lalu tak sengaja tertuju pada box bayi yang tak jauh dari tempat tidur besar kedua orang tuanya. Entah kenapa perasaan Bryan terdorong untuk ingin melihat kedua adiknya yang sejak kemarin ia abaikan.


Anak laki-laki itu melihat dengan seksama kedua adiknya yang sangat mirip dengan sang Ayah. Bahkan ia sampai menengok ke arah adiknya dan Shaka secara bergantian demi melihat di mana perbedaan mereka.


Kenapa aku lahir harus mirip ayah Bryan? Kenapa nggak mirip Bunda aja? Setidaknya wajahku meniru salah satu kedua orang tuaku, sama seperti kedua adikku yang meniru wajah Ayah.


Tak berselang lama salah satu dari mereka menangis dengan kencang. Bryan yang saat itu sedang melamun seketika terkejut karena tangisan yang tiba-tiba. Ia berusaha untuk memenangkan Mira dengan memberikan tepukan pelan di kakinya.


Tangisan kencang yang sudah berlangsung beberapa detik akhirnya berhasil membuat Nimas terbangun.


"Mira kenapa nangis, Nak? Kamu ngompol?" Tangan Nimas meraba pantat Mira. "Nggak basah, oh haus, ya. Iya-iya Bunda kasih minum."


Entah sadar atau tidak, Nimas seperti mengabaikan Bryan yang berada di dekatnya. Padahal dengan jelas ia berdiri di samping ibunya. Namun, Bryan seperti tidak terlihat di mata ibunya sendiri.


Dengan tatapan nanar Bryan masih berdiri di tempat. Seakan ia berharap bahwa ibunya menegur, atau hanya sekedar bertanya apa yang membuatnya ke kamar orang tuanya.


Namun nyatanya, hingga Mira terdiam karena sedang menikmati minumnya, Nimas masih belum sadar akan kehadiran Bryan. Menyerah dengan apa yang ia lakukan, dengan perlahan ia meninggalkan tempatnya.


Kedua bola mata Bryan sudah penuh dengan air. Apa yang terjadi barusan sangan melukai hatinya, ia sudah berusaha untuk mendengar apa kata ayahnya semalam, yang mengatakan bahwa ia dan kedua adiknya sama di matanya.


"Kak Bryan sayang sama adik?"

__ADS_1


"Sayang."


"Kalau gitu jangan jauh dari Bunda dan Ayah, ya. Mungkin kedepannya, Ayah sama Bunda sedikit sibuk dengan adik, karena Kakak juga tahu, adiknya Kakak nggak cuman satu, tapi ada dua. Kalau Bunda sendirian yang ngurus, pasti nanti akan kerepotan dan cape. Terus nanti sakit, Kakak mau Bunda sakit?"


Bryan menggeleng.


"Anak pintar. Jadi nanti dimaklumi kalau Ayah atau Bunda nggak bisa temani Kakak main kayak dulu, ya. Tetap akan bisa diajak main, tapi nggak kayak dulu yang setiap saat. Akan ada waktunya main sama Kakak dan sama adik. Ayah sama Bunda akan berusaha adil untuk kalian. Cinta Ayah sama Bunda nggak akan berkurang untuk Kakak, jangan berpikir kalau sejak ada adik, Kakak dilupakan. Jangan gitu, ya. Ya udah ayo tidur, katanya cape. Ayah pijat biar nyenyak tidurnya."


Kalimat panjang itu adalah kalimat terakhir yang Bryan dengar sebelum ia benar-benar tertidur dengan sentuhan tangan sang Ayah.


Anak itu masih berjalan dengan pelan di kamar kedua orang tuanya. Saat tangannya menyentuh handle pintu, Nimas belum sadar juga akan kehadirannya.


"Kakak mau ke mana, Nak? Kamu sepagi ini udah ada di kamar Ayah?" Shaka mengucek matanya yang baru saja terbuka sepenuhnya.


Nimas seketika menoleh ke arah pintu yang ternyata sudah ada Bryan dengan tangan sudah berada di handle pintu. Ia sedikit terkejut karena memang sejak tadi ia benar-benar tidak sadar dengan kehadiran anak sulungnya. Di saat tidur nyenyak dan tiba-tiba mendengar suara tangisan Mira, membuatnya bangun dengan nyawa belum terkumpul sepenuhnya, sehingga ia hanya terfokus pada bayinya yang sedang menangis.


"Aku baru masuk kok Bun, ini pintunya mau aku tutup." Bryan menutup pintu dan kembali berjalan ke arah ibunya duduk.


"Mau lihat adik, ya? Sini." Nimas mengayunkan tangannya untuk memberi isyarat pada Bryan agar duduk di dekatnya.


Shaka hanya terdiam. Ia melihat Bryan yang berjalan dari dalam kamar dan hendak keluar membuka pintu, bukan menutup pintu. Ia sedang berpikir untuk apa Bryan bohong? Apa benar ia hendak menutup pintu? Apa tadi yang ia lihat Bryan berjalan dari dalam kamar hanya halusinasi karena ia belum sepenuhnya tersadar? Tak mau menduga-duga hal yang tidak pasti, ia segera turun ke lantai bawah dan melihat ruang CCTV. Ia ingin tahu, Bryan memang baru datang atau ia hendak keluar kamarnya? Perubahan yang terlihat jelas di mata Shaka membuat dirinya overthinking terhadap sang anak.


"Adiknya Kakak cantik, ya. Seneng nggak punya adik?"


"Seneng, Bun. Kalau Bunda sama Ayah seneng, aku juga seneng."


"Kamu ke sini mau apa? Mau lihat adik atau butuh bantuan Bunda melakukan sesuatu?"

__ADS_1


"Mau lihat adik aja, Bun. Sama aku boleh nggak kalau lari pagi seperti biasanya tapi sama Om Nino aja. Ayah pasti cape bantu Bunda jagain adik." Bryan kembali mengarang cerita.


"Boleh dong. Jangan jauh-jauh, ya. Ajak ke jalan yang biasanya Ayah lewati aja. Bajunya minta tolong Om buat ambil. Adik belum selesai minumnya."


Bryan hanya mengangguk tersenyum dengan senyuman yang ia paksa untuk tampak setulus mungkin. Setelah mendapat izin dari ibunya, Bryan melipir pergi dari ibunya.


Sementara di lantai bawah, Shaka nampak menghembuskan nafas berat. Ia memegang keningnya yang mendadak nyut-nyutan. Ia tak habis pikir dengan istrinya yang bisa-bisanya tidak sadar dengan kehadiran anak sulungnya.


"Kalau begini caranya, Bryan akan semakin merasa diasingkan sama orang taunya sendiri."


"Apa yang tejadi, Shaka? Kenapa kamu berpikir kalau anakmu itu akan merasa diasingkan?"


Bu Marissa yang tak sengaja melihat anaknya tergesa-gesa berjalan ke arah ruangan CCTV membuatnya penasaran dan membuntuti anaknya itu.


"Mama."


"Ada apa, Shaka? Apa ada masalah?"


"Bryan, Ma. Sejak di rumah sakit kemarin itu, Bryan rasanya udah berbeda. Kayak lebih pendiam dari biasanya, sama Papa pun nggak banyak omong, kan? Waktu kami pulang dari rumah sakit juga dia diem aja. Malah Mama lihat sendiri, kan dia ke kamar dengan beralasan mengerjakan PR. Tapi saat aku nyusul dia ke kamar waktu mau makan malam, dia kayak habis nangis. Aku tanya kenapa, katanya hanya kelilipan, aku minta PR yang dia kerjakan dia beralasan lapar. Dan sekarang lihat ini, Mama lihat sendiri." Shaka kembali memutar CCTV.


Bu Marissa mengamati jalannya rekaman CCTV tesebut.


"Nggak kamu cek kamar Bryan yang kemarin? Dia nangis apa benar kelilipan aja?"


"Ma, nggak usah dicek CCTV juga aku tahu kalau dia habis nangis. Mana ada kelilipan doang bisa semerah dan sesembab itu matanya, meskipun dikucek juga nggak akan kayak gitu."


"Dia merasa diabaikan setelah kelahiran adiknya. Kamu jadi orang tua harus bisa seimbang sama mereka bertiga. Kamu yang harus bisa membuat Bryan merasa bahwa dia tidak diabaikan. Dia bohong untuk menyembunyikan perasaannya, dan untuk alasan kenapa dia memilih untuk menyembunyikan perasaannya itulah yang masih menjadi pertanyaan buat kita."

__ADS_1


"Terus aku harus apa?"


__ADS_2