Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
54. Shaka Yang Bijak


__ADS_3

Setelah beberapa lama berada dipelukan suaminya, Nimas sedikit lebih tenang. Isakannnya pun sudah berkurang, lalu ia merenggangkan pelukan dan menatap wajah suaminya.


"Apa kamu bertemu Mama tadi di bawah?"


"Iya. Aku sudah dengar semuanya dari Mama. Ada apa? Kenapa kamu seperti itu sama Mama, hm?"


"Kalau kamu sudah mendengar semuanya dari Mama. Kenapa kamu masih bertanya sama aku?"


"Aku mau dengar versi kamu juga. Kamu, kan istri aku, yang lagi nangis di bawah juga Mama aku, yang melahirkan aku. Kalian berdua itu sama posisinya di hati dan hidup aku. Sama-sama pentingnya, jadi penting buat aku untuk mendengar keduanya."


"Aku penting buat kamu?"


"Kenapa jadi ngomongin ini? Coba cerita ada apa, kenapa kamu sampai angkat tangan ke Mama? Aku tahu ini bukan di Nimas yang aku kenal. Coba cerita ada apa."


Nimas Menghela nafas panjang, ia mulai menceritakan dari awal, dari datangnya sang Ayah hingga pencariannya terhadap Bu Marissa yang ia temukan di teras kolam renang.


"Kamu boleh hukum aku mau apa aja, Mas. Aku tahu tindakan aku ini salah, aku hanya terbawa emosi saja. Aku nggak terima dan sakit hati kalau ada yang mengatai orang tuaku seperti itu. Apalagi menyangkut pautkan anakku, aku rasa nggak ada seorang anak yang diam ketika orang tuanya dihina, apalagi anaknya yang dikatain anak haram. Aku sama sekali tidak mempermasalahkan kalau Mama nggak suka aku, ngata-ngatain aku, menghina aku, aku nggak apa-apa, Mas. Tapi...."


Nimas belum selesai mengucapkan kalimatnya, namun telunjuk Shaka yang menempel di bibir Nimas membuat wanita itu berhenti bicara.


"Emang nggak ada yang rela jika orang tuanya atau anaknya diperlakukan seperti itu. Itu adalah respon yang sangat-sangat wajar, justru tidak wajar jika kita tidak marah. Tapi cara kamu yang kurang tepat, jangan tunjukkan pakai kekerasan. Mungkin kalau yang ngatain kamu itu seumuran atau lebih muda dari kamu it's oke lah, aku maklum, tapi Mama lebih tua dari kamu. Mama yang udah melahirkan suami kamu. Masa kamu gituin, sih?"


Shaka mengucapkan kalimat itu dengan sangat pelan dan halus agar tidak menyinggung perasaan Nimas. Tangannya pun ia gunakan untuk mengelus-elus puncak kepala wanita itu agar ia terlihat bahwa dirinya tidak mengintimidasi, tidak menyalahkan, atau tidak berpihak pada salah satu di antara mereka. Biar bagaimanapun hubungan Ibu mertua dan juga menantu wanita tetap ada jurang yang memisahkan dan juga membatasi hubungan mereka, meskipun hubungan mereka sangat dekat sekalipun.

__ADS_1


Nimas terlihat sangat merasa bersalah, ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Mungkin saja air matanya sudah kembali luruh mendengar ucapan suaminya.


"Iya, Mas aku tahu caraku salah aku minta maaf. Aku nggak akan menguranginya lagi."


"Iya aku tahu kok kamu nggak akan ulanginya lagi. Aku tahu istri aku nggak akan pernah melakukan kekerasan dengan sengaja. Untuk percakapan kamu sama Mama yang kamu ceritakan di awal tadi, bukannya aku nggak percaya, ya. Aku harus mencari buktinya dulu, kan? Biar bagaimanapun versi kalian ceritanya berbeda, jadi aku harus mencari tahu kebenarannya yang mana. Nggak apa-apa, kan? Aku akan mengambil tindakan jika memang yang kamu katakan itu benar. Sekarang kamu mandi gih, udah sore. Jangan dipikirkan lagi kata-kata Mama, ya. Aku atas nama Mama minta maaf. Ucapannya pasti menyakiti hati kamu banget."


"Iya, Mas." Nimas lalu beranjak dari lantai dan menuju kamar mandi.


Apa yang diceritakan oleh Nimas dan sang Ibu sangat berbeda. Namun entah kenapa, Shaka lebih condong percaya pada sang istri daripada ibunya. Karena jika dipikir memakai logika, rangkaian dan kejadian atau peristiwa yang diceritakan Nimas lebih masuk akal dibandingkan ibunya.


"Tadi tuh Mama lagi teleponan sama temen Mama. Tiba-tiba Nimas datang dan dia menuduh Mama melakukan hal-hal yang tidak Mama lakukan. Dia mengatakan kalau Mama yang sudah menjebak dia tidur dengan laki-laki lain. Mama nggak ngerti apa yang dia maksud, karena Mama tidak pernah merasa apa yang dituduhkan Nimas itu benar, jelas Mama menyanggah tuduhannya itu. Tapi mama malah ditampar sama dia."


Itulah kalimat yang ia dengar dari sang Ibu. Jika mendengar cerita versi Nimas, ada kata-kata dari ibunya yang memang mengundang mempertanyaan dan juga kecurigaan. Wajar jika Nimas mencurigai atau bahkan menuduhnya langsung seperti itu.


Setelah mendengar air keran kamar mandi berbunyi Shaka beranjak dari kamar. Pria itu berjalan sambil memikirkan bagaimana cara membuktikan omongan Nimas itu sesuai dengan feelingnya atau tidak.


"Mama mau ke mana?"


"Mama mau ke rumah sakit sebentar, kepala Mama sedikit pusing. Mama takut kalau darah tinggi Mama kumat."


"Rumah sakit biasa?"


Bu Marissa hanya mengangguk.

__ADS_1


Shaka ingin menawarkan diri untuk mengantar, tapi rupanya wanita itu sudah diantar oleh suaminya. Shaka manggut-manggut mendengar. Meskipun dalam hati ada sedikit pertanyaan, tumben sekali wanita itu bersedia memeriksakan diri tanpa anjuran dari dokter pribadi keluarganya.


Apa aku harus mengikuti Mama? Tidak-tidak, aku lacak saja posisinya sebentar lagi, jika Mama benar-benar ke rumah sakit biasanya, harusnya mereka sampai di sana lima belas menit.


***


"Kamu ini benar-benar ceroboh, Ma. Kamu melakukan kejahatan, tapi kamu membicarakannya di rumah. Bagaimana kalau misalkan nanti Shaka menyelidiki Mama?" omal Pak Malik seraya melajukan mobilnya dengan cepat.


"Aduh Papa kenapa, sih khawatir banget? Papa tadi juga lihat reaksinya gimana waktu Mama cerita, dia percaya sama omongan Mama. Tadi waktu balik dari kamarnya juga Shaka baik-baik aja sama Mama, nggak ada rasa marah-marahnya, itu artinya Shaka lebih percaya sama Mama daripada Nimas."


Ya, begitu percayanya Bu Marissa bawa anaknya itu mempercayainya seratus persen hanya karena melihat sikap, reaksi, dan perlakuan Shaka terhadapnya.


Setelah beberapa saat berada di jalanan, mereka sampai di tempat di mana Bu Marissa dan pria suruhannya berjanjian. Mereka sengaja bertemu di bangunan tua dan kosong untuk menghindari bertemu dengan seseorang yang mereka kenal.


Bu Marissa bersama dengan suaminya berjalan melewati semak-semak sebelum akhirnya masuk ke sebuah bangunan. Pak Malik melempar koper begitu mengetahui di mana letak berdiri orang suruhannya.


"Itu uang lebih dari jumlah yang kamu minta. Sekali lagi kamu minta uang sama istri saya. Saya tidak segan-segan untuk melakukan sesuatu. Kalau saya bisa mengeluarkan uang sebanyak itu untukmu, saya juga bisa mengeluarkan lebih banyak uang untuk membunuhmu," kata Pak Malik dengan gaya sangarnya.


"Wow," ujar pria itu takjub seraya membuka koper yang baru saja di lempar. Matanya begitu ada berbinar melihat satu koper penuh dengan uang berwarna merah. Ia mengeceknya satu persatu memastikan uang itu palsu atau mereka sedang tidak melakukan penipuan terhadapnya.


"Aku cukup kaya jika hanya memberikan uang satu koper penuh itu. Sekarang kau pergi dari kehidupan kami."


"Dengan senang hati."

__ADS_1


__ADS_2