
Pak Malik yang saat ini mengurus dua perusahaan sekaligus sudah merasa kelelahan sendiri. Sudah satu bulan ini beliau harus memeras isi kepalanya untuk mempertahankan kejayaan di dua perusahaan sekaligus. Sudah pusing dengan urusan kantor, beliau harus kembali dibuat semakin pusing dengan omelan istrinya yang selalu saja meributkan hal yang sama.
"Mana? Katanya Shaka lama-lama akan pulang, sampai sekarang dia nggak pulang, Pa. Papa itu kayak nggak kenal sama Shaka aja. Dia itu orangnya keras kepala."
"Kenapa nyalahin Papa terus, sih? Ini semua berawal dari Mama sendiri. Ngapain Mama bayar orang yang mulutnya lemes begitu. Sekali lagi Mama ngomel masalah ini terus, Papa pergi ajalah dari rumah. Udah tahu suami pusing sama kerjaan, bukannya dilayani dengan benar malah dapat omelan terus," gerutu Pak Malik meninggalkan istrinya.
"Jangan nyalahin Mama aja dong, Papa juga salah. Ngapain Papa nggak izinin Shaka tetap urus perusahaan? Mama jadi khawatir dia makan apa dan bagaimana dia hidup. Aku yang melahirkan, kamu yang buat dia sengsara."
Pak Malik tidak menggubris amukan istrinya, ia memilih untuk terus melangkah menuju kamar. Rasanya tensi darahnya selalu naik jika bicara dengan istrinya. Semua berawal dari ulahnya sendiri, malah dirinya yang di salahkan. Begitulah kira-kira yang ada di pikiran Pak Malik.
Bu Marissa yang tidak tahu menahu di mana Shaka tinggal dan bagaimana keadaannya sekarang, akhirnya sore itu memutuskan meminta bantuan anak buah suaminya untuk mencari tahu keberadaan sang anak.
Sementara yang dikhawatirkan oleh ibunya saat ini sedang membelah jalanan kota yang tak pernah lengang oleh kendaraan. Hari menjelang petang, namun Shaka masih berada di tengah jalan untuk mengantar para penumpangnya.
Ya, ini sudah hari ke lima Shaka menjadi supir taksi online. Hanya itu pekerjaan yang bisa Shaka lakukan, karena memang hanya perusahaan tersebut yang menerima Shaka sebagai karyawan.
Tidak masalah bagi Shaka menjadi pekerja apa pun. Yang terpenting ia bisa memperoleh uang dengan cara halal. Shaka yang mengejar uang untuk kebutuhan Nimas melahirkan menjadikan dirinya bekerja hingga malam. Tabungan yang semakin lama semakin menipis juga menjadi alasan dirinya untuk bekerja lebih keras.
Seperti biasa, ia akan pulang ketika jam sudah menunjukkan angka sembilan malam. Lampu selalu masih menyala ketika dirinya memarkir mobil di garasi sempit rumahnya itu. Selalu ada istrinya yang sudah menunggu di ruang tamu dengan camilan yang memenuhi mulutnya.
__ADS_1
"Udah kenyang belum? Nih aku tambahin kalau belum." Shaka duduk di samping istrinya seraya memberikan martabak telur dan manis di pangkuannya.
Mata Nimas seketika berbinar. Melihat tumpukan dua kardus berukuran sedang di pangkuannya. Tak berpikir dua kali, ia mengambil satu kotak dan memakannya.
Shaka menggeleng di saat Nimas menyodorkan kotak yang berada di tangannya. Melihat Nimas makan dirinya sudah kenyang duluan. Istrinya itu tak berhenti mengunyah sejak perutnya membesar.
Shaka menunggu istrinya makan hingga ia merasa lelah mengunyah. Itu yang ia lakukan setiap malam di lima hari terakhir. Shaka sudah melarangnya untuk menunggu ia pulang, namun bukan Nimas jika ia tidak ngeyel dengan keinginannya.
"Akun kenyang, Mas. Aku terusin besok aja. Kamu lapar nggak? Aku masakin apa?" Pertanyaan yang sama selalu ia tanyakan setiap harinya.
"Nggak, mau tidur aja. Udah malem, nggak baik buat kamu kebanyakan begadang."
Nimas berdiri dengan susah payah. Seperti pada wanita hamil umumnya, mereka pasti akan kesusahan melalukan apa pun karena terhalang perutnya. Bahkan berjalan pun terasa sanahn berasal bagi Nimas.
Entah mengapa, Shaka tiba-tiba teringat dengan ibunya. Ia berpikir dalam hatinya, bahwa ibunya pasti dahulu juga merasakan yang Nimas rasakan sekarang. Pasti kesusahan melakukan aktivitas apa pun, bahkan dalam tidurnya saja pasti posisi bagaimanapun tidak membuatnya nyaman.
Shaka merebahkan dirinya terlentang, menatap langit-langit kamarnya yang yang mendadak membuatnya merasa rindu dengan ibunya. Mau sekejam dan sejahat apa pun ibunya terhadap sang istri, ibu tetaplah ibu yang selamanya tidak akan pernah bisa menggantikan kasih sayangnya.
Sejurus kemudian, Shaka menggeleng kepala lemah. Setiap kali hati dan perasaannya mengatakan ingin bertemu dengan ibunya, di detik itu juga logikanya mengambil alih semua perasaan itu. Memutar dan mengingatkan kembali bagaimana ibunya memperlakukan istrinya dengan sangat keterlaluan dan tidak manusiawi. Hal itulah yang membuatnya hingga kini menekan rindu dan keinginan untuk bertemu.
__ADS_1
"Kamu belum tidur?" tanya Shaka saat menoleh ke arah istrinya.
"Mikirin apa, Mas?" Alih-alih menjawab pertanyaan suaminya, Nimas justru melempar pertanyaan.
Shaka hanya menghembuskan nafas kasar. Mempunyai istri yang peka seperti Nimas sangat peka baginya. Jika ia bohong, istrinya itu pasti akan tahu. Kalau ia berkata jujur, ia takut kalau hal itu membuat Nimas merasa tak enak hati. Shaka khawatir kalau Nimas justru akan berpikir bahwa ini semua terjadi karena dirinya.
"Enggak kok, Dek. Aku nggak mikir apa-apa. Kenapa kamu nggak tidur-tidur?"
"Nggak enak buat tidur, rasanya sesak. Mas, kamu nggak kangen sama Mama?" Seperti merasakan kegundahan hati suaminya, Nimas menanyakan hal yang dipikirkan oleh sang suami. Hal itu membuat Shaka semakin heran dengan ikatan batin yang mereka miliki.
"Kenapa kamu tiba-tiba nanya itu?"
"Nggak tahu, Mas. Rasanya aku kayak ada beban aja, sih kalau hubungan kita seperti ini. Apalagi sebentar lagi aku akan melahirkan, Aku takut akan ada kendala, karena suamiku sampai sekarang sedang marah dengan ibunya."
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, Dek. Bukannya aku bermaksud untuk menjadi anak durhaka, tapi apa yang dilakukan Mama bukan hal yang bisa dimaafkan begitu saja. Aku udah nggak marah kok sama Mama. Cuman aku memberi pelajaran aja ke dia. Ya memang kesannya kurang ajar, tapi mau bagaimana lagi? Kalau Mama nggak dibeginikan, Mama akan terus salah, Mama akan terus berbuat jahat. Aku nggak mau Mama begitu, dek. Berdoa yang baik-baik, jangan berpikir begitu, nggak baik."
"Iya, Mas. Mudah-mudahan semua berjalan lancar seperti yang kita inginkan. Boleh aku minta sesuatu, Mas?"
"Katakan!"
__ADS_1
"Aku mau nanti pas melahirkan ditemani sama Ibu dan Ayah juga. Aku mau mereka ke sini menemani aku meskipun dari luar ruangan dan kamu harus berada di dalam ruangan. Aku nggak mau sendirian, Soalnya temen aku ada yang pas melahirkan nggak ditemani sama siapa pun. Jadi dia di dalam ruangan sendirian, sama suster, dan dokter. Aku nggak mau kayak gitu. Nggak tahu kenapa aku akhir-akhir ini kepikiran hal itu."
"Iya, aku akan jemput mereka kalau hari perkiraan lahiran kamu udah deket, ya."