Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
71. Aku Anak Ayah, Kan?


__ADS_3

Nimas masuk rumah dengan mengelap pipinya yang baru saja dilewati oleh air mata. Ia hanya bermaksud mengingatkan bahwa tindakannya itu salah di matanya, namun yang terjadi justru pertengkaran. Ini adalah pertama kalinya mereka bertengkar hingga Shaka pergi dengan keadaan marah.


Setelah di pikir-pikir lagi oleh Nimas. Ia menyadari ia yang memulai pertengkaran. Tidak seharusnya ia bicara dengan menaikkan nada bicaranya. Kesalnya yang entah dari mana datangnya membuat Nimas hilang kendali dan lupa diri.


Sementara Shaka yang baru saja beberapa meter menjauh dari rumahnya menyesali apa yang sudah ia lakukan. Pergi tanpa pamit dan dalam keadaan marah adalah bukan dirinya. Merasa bersalah dan tidak tenang, Shaka memutar kembali setirnya untuk pulang. Pikirannya tidak tenang jika meninggalkan Nimas dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


Pertengkaran pertama yang cukup hebat menurut Shaka, karena sebelumnya tak pernah ia meninggalkan rumah dalam keadaan marah seperti ini.


Begitu sampai di rumah, Shaka bergegas ke kamar. Ia menebak istrinya berada di sana dengan sang putra. Tidak ada tempat ternyaman selain tempat yang di mana ada Bryan di sana. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh Shaka.


Langkah Shaka terhenti ketika sampai di tengah pintu. Ia melihat Nimas yang sedang menangis tersedu. Rasa bersalah semakin kuat terasa. Bagaimana bisa Shaka melupakan bahwa kabahagiaan Nimas harus tetap di jaga karena rawan mengalami baby blues.


"Dek, Mas minta maaf, ya. Mas salah udah bicara tinggi tadi. Mas nggak ada maksud untuk bentak kamu, Mas hanya mau kamu dengerin Mas. Itu aja kok. Maaf, ya. Nggak sengaja, Mas, Dek." Shaka duduk bersimpuh di bawah Nimas yang sedang duduk ditepian ranjang dengan menundukkan kepala. Tangannya erat menggengam tangan Nimas.


"Iya, Mas nggak apa-apa. Aku yang mulai. Aku juga minta maaf."


"Ssstt. Udah-udah, jangan nangis. Nanti pengaruh ke asi kamu. Kasihan Bryan. Masalah ini selesai di sini, ya. Jangan ngeyel lagi kayak tadi. Mas hanya melakukan yang terbaik buat kamu, udah tahu, kan kamu dunia Mas? Jangan kayak tadi, ya!" pinta Shaka seraya mengelap pipi istrinya yang basah.


"Iya. Maaf kalau aku jadi gampang marah."


"Iya nggak apa-apa. Ya udah, Mas balik lagi, ya. Mas udah lega sekarang." Shaka bangkit dan melakukan ritual kebiasaannya setiap akan berangkat kerja. Mencium kening sang istri dan seluruh wajahnya.


Dan sejak saat itu, Bu Marissa tidak lagi menemui anaknya. Rasanya pertemuan pertama setelah terpisah itu membuat hatinya sakit. Beliau tak mau mendengar ucapan-ucapan Shaka selanjutnya yang justru akan menyakiti hatinya. Untuk saat ini, melihat dan mengikuti kabar Shaka dari jauh sudah cukup.

__ADS_1


Dan hari itu Shaka dan Nimas berharap bahwa pertengkaran pertama itu menjadi pertengkaran hebat yang terakhir. Mereka berharap bahwa tidak ada lagi pertengkaran yang disebabkan oleh mempertahankan pendapat, ego, dan pikiran masing-masing.


Tepat di hari usia Bryan yang ke dua bulan Shaka dan Nimas kembali melangsungkan ijab qabul. Hanya ijab qabul tidak ada pesta apalagi mengundang banyak orang. Mereka melaksanakan ijab qabul di rumah Nimas. Hanya beberapa saksi dan para tertua di sana yang hadir. Bahkan kedua orang tua Shaka tidak menampakkan batang hidungnya, meskipun Shaka sudah memberitahu mereka bahwa dirinya dan Nimas akan melakukan ijab qabul ulang. Hanya ada satu adik Pak Malik yang hadir sebagai perwakilan dari keluarga Shaka. Itu jauh lebih baik dari pada tidak sama sekali, pikir Shaka.


Pernikahan yang mereka jalan kini akhirnya bisa berjalan seperti hubungan suami istri pada normalnya. Akhirnya mereka bisa menerima hak masing-masing dalam urusan ranjang.


"Ah lega sekali rasanya," ujar Shaka merebahkan dirinya di ranjang besar yang sempat ia beli. Untunglah ia sempat mengganti ranjang yang berderit itu menjadi ranjang yang sunyi. Melakukan apa pun tidak akan mengeluarkan bunyian yang mengundang penasaran si pendengar.


"Oh jadi selama ini nggak lega?" sahut Nimas.


"Beda, Dek. Leganya dalam hal lain. Bryan udah dong, gantian Ayah," rengek Shaka pada bayi yang baru saja menempelkan mulutnya di puncak undukan kembar Nimas.


"Ish jangan gitu, ah," kata Nimas yang tersipu malu.


"Katanya mau punya anak sama Mas cepet. Kan kamu sendiri yang bilang."


"Sekarang udah tahu, kan? Terus mau punya anak lagi kapan? Pas usia Bryan berapa? Harus kita bicarakan sekarang, Sayang. Biar tertata."


"Mungkin dua tahun, Bryan udah lepas asi."


Dan rencana yang mereka bicarakan malam itu hanya tinggalah rencana. Sekarang usia Bryan sudah memasuki usia lima tahun. Namun, tak ada tanda-tanda Nimas mengandung untuk yang kedua kalinya.


Apa yang mereka alami tentu saja membuat beban pikiran mereka bertambah. Mereka sudah termasuk mapan sama segi perekonomian. Meski hingga sekarang Shaka masih menjadi seorang supir, keuangan mereka sudah sangat stabil.

__ADS_1


Meski sangat ingin segera memiliki anak, Shaka tetap sabar dalam kegundahan hatinya. Ia berusaha untuk tidak menampakkan wajah atau apa pun yang menunjukkan bahwa ia ingin sekali Nimas segara hamil. Ia khawatir jika Nimas membaca pikirannya, wanita itu justru akan merasa terbebani karena dirinya yang tak kunjung hamil lagi.


"Ayah," panggil Bryan yang tumbuh menjadi anak yang sangat mirip dengan ayah kandungnya, sedikit judes dan dingin. Wajahnya pun bak pinang dibelah dua.


Sayang sekali, kedua orang tua Shaka masih menutup mata dan hati pada rumah tangga mereka hingga kini. Jika saja mereka bisa menerima Bryan kecil, setidaknya mereka bisa mengobati rindu mereka pada Bryan yang sudah bahagia di tempat dan alam yang sudah berbeda.


"Ya Sayang, kenapa? Belajar apa tadi di sekolah?" Pertanyaan yang seringkali ditanyakan oleh Shaka di malam hari.


"Belajar membaca."


"Kamu bisa?"


"Bisa. Yah, aku anak Ayah, kan?" tanya Bryan tiba-tiba.


"Kenapa kamu tanya begitu? Ya jelas kamu anak Ayah sama Bunda."


"Tadi ada temen aku yang nanya, aku ini mirip Bunda apa Ayah. Kata mereka wajah Ayah sama Bunda nggak ada yang mirip sama aku. Terus aku mirip siapa? Aku anak siapa? Apa wajah anak kecil itu harus mirip dengan orang tuanya?"


"Hahaha. Ya enggak lah. Bisa jadi mirip nenek sama kakeknya, kalau wajah kamu nggak mirip sama Ayah dan Bunda, bukan berarti kamu bukan anak kami. Kamu itu anak Ayah sama Bunda, tapi wajah kamu memang mirip sama kakaknya Ayah. Soalnya pas kamu masih di dalam perut, Ayah sering bertengkar sama Pakde. Sering gelut, pokoknya Ayah sama Pakde nggak akur."


"Pakde yang mana? Yang aku tahu cuman Om Nino. Om sama Pakde ini beda?"


"Beda dong. Om atau Tante itu panggilan untuk adiknya Bunda atau Ayah. Kalau Pakde atau Bude itu panggilan untuk kakak Ayah atau Bunda."

__ADS_1


"Kenapa aku nggak pernah tahu kalau Ayah punya Kakak? Aku juga nggak pernah tahu orang tua Ayah. Kayak orang tuanya Bunda."


Shaka dan Nimas diam. Bryan kecil dan dewasa seperti manusia yang sama. Bryan dewasa seperti masuk kedalam kepribadian Bryan kecil. Kepribadiannya memamh dingin, tapi mereka sama-sama kritis dalam berpikir. Dan hal ini cukup memusingkan Shaka.


__ADS_2