
"Mas jangan salah paham dulu, aku bisa jelasin," kata Nimas seraya terus mengikuti langkah Shaka yang sedikit lebar.
Shaka tidak bergeming, ia terus berjalan dengan tangan yang masih terpaut dengan Nimas. Wajah dinginnya masih menghias memenuhi sudut wajahnya.
"Mas tolong berhenti, dengerin dulu penjelasan aku."
Shaka seketika berhenti, namun posisi tubuhnya masih membelakangi Nimas, tangannya pun tak ia lepas.
"Berhenti bicara sekarang, Nimas. Aku sedang tidak ingin bicara denganmu."
Kalimat yang diucapkan bernada biasa saja, tidak membentak, marah, atau pun kasar. Tapi, kalimat itu terdengar menyakitkan di hati dan telinga Nimas. Wanita itu terpaksa membungkam mulutnya repat-rapat agar tidak mendapat amukan dari suaminya.
"Masuk!" ujar Shaka yang sejak tadi sudah membuka pintu mobil, namun Nimas hanya berdiri menatapnya dengan mata berkaca -kaca.
Shaka sebenarnya ingin sekali marah pada istrinya itu, bukankah hal yang wajar jika ia marah dan kecewa dengan apa yang ia lihat? Tapi sayangnya, Shaka tidak mampu melakukan itu. Ia kecewa, namun untuk memarahi istrinya, entah kenapa hal itu terasa berat untuknya. Apalagi jika melihat wajah Nimas saat ini, rasanya tak tega jika ia harus marah atau pun memberi pelajaran.
"Masuklah, aku lelah," ucap Shaka sekali lagi.
Mendengar kata lelah dari mulut Shaka membuat Nimas langsung berajak memasukkan tubuhnya ke dalam mobil. Air matanya kembali luruh takala tubuhnya sudah benar-benar masuk.
"Mas, aku minta maaf."
"Aku udah bilang, kan tadi? Jangan ajak aku bicara dulu."
Nimas kembali diam. Ia menundukkan kepala, menahan kesedihan yang dalam. Ia tak sempat memikirkan soal pria tadi, pria yang tiba-tiba bisa satu ranjang dengannya. Yang ada dalM pikirannya hanya Shaka, Shaka, dan Shaka. Tak ada hal lain dalam kepalanya saat ini.
Perjalanan mereka hanya dihiasi dengan keheningan. Semua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Shaka yang menahan sakit di hati, namun di sisi lain tak bisa melampiaskan pada Nimas.
__ADS_1
Pria itu hanya bisa diam hingga sampai di rumah. Perlakuan Shaka sama seperti biasa, membuka tutup mobil untuk istrinya meski dengan wajah dingin dan menutup bibirnya rapat-rapat. Hanya saja, kali ini shaka tak menggandeng tangan Nimas seperti tadi. Ia malah berjalaan lebih dulu ke rumah. Nimas semakin terdiam dalam isakan.
"Shaka, Nimas mana?" tanya Bu Marissa mencegat jalan Shaka di ruang tamu.
"Belakang," jawab Shaka singkat lalu kembali melangkah.
Bu Marissa tentu saja bersorak dalam hati. Beliau sudah yakin bahwa rencananya akan berjalan dengan lancar dan membawa hasil yang memuaskan.
"Nimas, ada apa kenapa kamu nangis? Maaf Mama nggak bisa jaga kamu. Gara-gara Mama kamu diculik sama orang."
Nimas yang merasa tidak ingin bicara dengan siapa pun selain Shaka membuat wanita itu hanya menjawab ala kadarnya.
"Nggak apa-apa, Ma. Aku masuk ke kamar dulu, ya. Maaf aku nggak bisa cerita apa yang terjadi sekarang. Lain kali aku akan cerita."
Bu Marissa hanya mengangguk. Beliau membatin, tidak perlu diceritakan pun beliau sudah tahu apa yang terjadi. Begitulah kira-kira isi hati wanita itu.
Nimas masuk ke kamar, tak ada siapa pun di sana. Pintu kamar mandi yang tertutup membuat Nimas mengerti bahwa Shaka sedang berada di kamar mandi.
Merasa dirinya harus melakukan hal yang sama seperti suaminya, ia beranjak ke lemari untuk mengambil peralatan mandi.
"Ganti baju saja, jangan mandi! Ini sudah malam." Shaka keluar kamar setelah itu.
Hati Nimas semakin perih, ia berpikir Shaka tak marah padanya, tapi ia lebih pada rasa kecewa yang dalam. Hal itu bisa Nimas rasakan dengan hanya melihat sikapnya pada dirinya.
Sementara di ruangan lain, lebih tepatnya di ruangan khusus kerja Shaka, pria itu sedang duduk di kursi dekat jendela. Kedua bola matanya menatap halaman samping yang dipenuhi bunga-bunga milik ibunya.
Matanya semakin terasa memanas. Sakit hati yang tak bisa terbendung lagi membuat ia membiarkan air matanya luruh begitu saja.
__ADS_1
Entahlah, rasa kecewa yang mendominasi rasanya tak mampu membuat logika Shaka berjalan dengan baik. Nimas dan Shaka kompak memikirkan satu sama lain tanpa memikirkan siapa pria yang berada satu kamar dengan Nimas.
Shaka ingin marah, tapi ia tak bisa. Ia akhirnya melampiaskan dengan duduk diam menghabiskan malam di rumah kerja. Entah berapa lama pria itu terduduk di tempat yang sama tanpa pergerakan. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Perut yang tak terganjal apa pun membuat ia terasa lapar.
Akhirnya Shaka beranjak ke ruang makan. Baru saja membuka laci dapur untuk melihat sisa makanan, ia teringat dengan istrinya. Berusaha untuk acuh, tapi rasanya ini bertentangan dengan perasaannya.
Akhirnya dengan wajah yang masih dengan dinginnya, ia melangkah ke lantai atas untuk melihat istrinya.
"Kenapa nggak tidur?" tanya Shaka setelah membuka pintu.
"Bagaimana bisa aku tidur? Kamu nggak mau bicara sama aku."
Wajah Nimas sangat berantakan di sini. Mata sembab dan wajah sedikit pucat, hal itu tentu saja menyakiti hati Shaka, namun ia juga harus menahan untuk tidak menunjukkan kepeduliannya, agar Nimas juga mengerti bahwa apa yang ia lakukan sangat menyakiti hatinya.
"Kamu lagi hamil, setidaknya peduli dengan anakmu itu penting. Jangan memikirkan diri sendiri, belajar jadi ibu yang baik."
Dari kalimat yang panjang itu, Nimas merasakan sakit yang dalam 'anakmu'. Satu kata yang memang begitu kenyataannya anak yang dikandung anaknya, bukan anak Shaka. Tapi kenapa ia begitu sakit dengan kata itu?
Perlakuan yang selama ini Shaka berikan membuat Nimas mengira bahwa pria itu menerima dirinya dan juga anaknya. Nimas mengira bahwa Shaka juga menganggap anaknya ini anak kandungnya sendiri, tapi ternyata hingga saat ini Nimas masih salah paham dengan perlakuan yang ia terima.
"Baiklah aku akan tidur." Nimas meletakkan tubuhnya di atas kasur dan mulai membenarkan letak selimutnya.
"Sudah makan? Kamu seharian tadi tidak bisa dihubungi. Sekarang aku tahu kenapa kamu nggak bisa dihubungi. Kamu lagi asik sama dia, apa kamu diberi makan juga?"
Nimas yang sudah sempat berbaring kembali duduk menghadap Shaka.
"Mas, tolonglah dengarkan penjelasan aku dulu sebelum kamu bicara seperti itu. Aku nggak kenal siapa dia. Ketemu juga nggak pernah, aku juga nggak tahu kenapa tiba-tiba aku tadi satu kamar di hotel sama dia. Akan aku jelaskan semuanya dari awal, tapi aku mohon dengarkan aku. Duduklah di sini kita selesaikan masalah ini sekarang."
__ADS_1
"Sekarang hati dan pikiran kita lagi sama-sama keruh. Masalah ini nggak akan selesai secepat yang kamu kira. Tidurlah! Selesaikan saja besok, setelah semuanya bisa berpikir dengan tenang."
Shaka kembali ke luar kamar setelah itu. Nimas sempat memanggilnya untuk kembali, namun Shaka seperti menulikan telinganya. Namun, tak lama kemudian ia kembali masuk dengan sepiring nasi dan lauk pauk. Hanya untuk meletakkan itu saja, lalu Shaka kembali dengan kebisuan yang masih ia pertahankan.