
Shaka dan Nimas memulai aktivitas paginya dengan sarapan. Mereka duduk di saat Marissa dan Pak Malik baru saja selesai menyelesaikan sarapannya. Pria yang berstatus sebagai kepala keluarga di rumah itu seketika berdiri tanpa mengucap sepatah kata pun mereka.
Nimas menatap suaminya, lalu seakan mengerti arti tatapan istrinya, Shaka memberikan kode bahwa acuh saja dengan tingkah mereka.
"Selamat pagi, Ma," sapa Nimas duduk di meja makan.
"Pagi juga. Silakan makan, anggap saja rumah sendiri dan jangan sungkan untuk bangun siang di esok hari dan seterusnya. Mama pergi dulu, ada urusan." Bu Marissa berucap dengan entengnya seakan kata-katanya itu biasa saja dan tak menyakitkan.
Shaka baru saja benda berucap, namun tangan Nimas menyentuh pelan tangan pria itu, sehingga membuatnya urung membalas ucapan ibunya.
"Knapa Nimas? Kenapa kamu melarang aku untuk menjawab ucapan Mama?" tanya Shaka ketika Bu Marissa benar-benar pergi dari meja makan.
"Jangan jadi durhaka karena aku. Biarkan saja, apa yang dilakukan Mama itu sebagai bentuk perhatian dia ke aku. Biar aku bisa bangun lebih pagi, memulai aktivitas ringan, jadi aku nggak malas-malasan."
Nimas merasa sudah cukup tadi pagi pria itu membelanya di depan ibunya habis-habisan. Ia tidak mau jika suaminya itu terus-menerus menentang ibunya karena dirinya. Biarlah ia sendiri yang akan membuat Ibu mertuanya itu menerima dirinya sebagai menantu dengan caranya sendiri.
"Pikiran macam apa itu Nimas? Kata-kata Mama tadi itu tidak pantas disebut sebagai perhatian. Setelah ini kita pulang ke rumah. Aku nggak mau kita se rumah sama orang tuaku," putus Shaka di tengah kekesalannya.
"Kalau begitu caranya, aku akan dibenci terus sama Mama, Papa. Kamu nggak perlu khawatir sama keadaan aku, Mas. Aku bisa jaga diri sendiri kok, aku akan membuat mereka menerima aku sebagai menantu. Biarkan aku berusaha dulu. Kan aku udah pernah bilang kalau aku nggak nyaman, nggak betah, aku akan bilang sama kamu."
Shaka hanya menghela nafas berat. Niat Nimas memang bagus dan perlu diapresiasi dengan dukungan darinya. Tapi rasanya ia tidak tega jika menyaksikan istrinya itu diperlakukan tidak manusiawi oleh orang tuanya sendiri. Kekerasan verbal yang dialami Nimas jujur saja membuat Shaka takut jika itu berimbas pada kewarasan istrinya.
"Masih banyak cara untuk mendapatkan hati mereka Nimas, tidak harus dengan kita tinggal serumah dan kamu korbankan kuping kamu mendengar segala sindiran mereka. Aku yakin nanti kamu pasti juga sakit kalau begitu terus."
"Kita suami istri, kan? Kamu harusnya percaya sama aku kalau aku bisa melewati ini."
Keras kepala, Nimas benar-benar keras kepala. Shaka sampai tidak bisa membuat pendirian wanita itu sedikit bengkok. Apakah Nimas tidak tahu jika ia dikhawatirkan oleh Shaka? Begitu kira-kira pertanyaan yang muncul di pikiran.
__ADS_1
Selesai dengan perdebatan yang tidak panjang itu mereka memutuskan untuk makan. Di rumah sebesar itu makanan yang berdua. Meskipun di tengah-tengah makan mereka membicarakan hal-hal yang ringan, tetap saja suasana sepi mendominasi ruangan itu.
"Shaka, kamu jangan lama-lama ambil cuti. Kantor juga butuh kamu," ujar Bu Marisaa melewati meja makan. Dilihat dari penampilannya, wanita itu hendak pergi entah ke mana.
Shaka diam tak menjawab. Ia lebih memilih untuk mengunyah makanannya daripada harus meladeni ibunya yang sejak tadi pagi membuatnya ingin mengeluarkan tanduk di kepala.
Nimas pun sama. Melihat ekspresi kesal yang terpampang di wajah Shaka, membuat Nimas enggan untuk menambah ucapan.
"Mau jalan-jalan nggak?" tanya Shaka begitu ia menenggak habis minuman yang berada di depannya.
"Emang mau ke mana? Aku juga pengen sih sebenarnya. Cuma nggak tahu mau ke mana, bingung."
"Ke mall aja, ya. Yang dekat-dekat, nanti kita mampir ke taman deh kalau kamu. Kita beli baju, baju kamu, kan sedikit yang kamu bawa ke sini. Terus sekalian kita beli dress buat nanti kamu pakai kalau perutnya udah gede."
"Masih lama kalau itu, nanti-nanti dulu aja. Ya udah kalau gitu, ayo kita ke mall. Udah lama aku nggak belanja-belanja."
Setelah selesai sarapan, Nimas kembali ke atas untuk ganti pakaian yang lebih layak untuk dipakai keluar rumah. Sementara suaminya menunggu di teras. Seraya menunggu istrinya selesai mengganti pakaian, Shaka mengotak-atik benda pipihnya yang sudah sejak semalam ia abaikan.
Tidak ada pesan penting, hanya ada pesan dari Raisa yang menanyakan kabarnya setelah makan sayuran semalam. Shaka mengabaikan pesan itu lalu tanpa pikir panjang memblokir nomor mantan kekasihnya itu.
Di saat bersamaan, tiba-tiba ia teringat pelukan yang belum lama ia dapat dari Nimas. Entahlah, ia tak tahu kenapa ia ingin mengulum senyum saat mengingat pelukan itu.
"Ayo, Mas!" ajak Nimas berdiri di sebelah Shaka dengan tangan ia eratkan pada tapi tas selempang yang ia kenakan.
Shaka tak bergeming, ia masih diam seperti sedang melamunkan sesuatu. Bibirnya masih melengkung membentuk senyuman.
"Mas," panggil Nimas lagi.
__ADS_1
Masih tak bergeming.
"Mas." Nimas memanggilnya lebih keras sembari mengguncang pelan tubuh Shaka.
"Ha iya, kenapa?" tanya Nimas gelagapan.
"Aku udah siap dari tadi, ngelamunin apa, sih?"
"Kenapa nggak bilang kalau udah siap?"
Shaka berdiri, ia sedikit terpesona saat melihat Nimas memakai dress selutut berwarna pink dengan motif bunga kecil-kecil. Rambut panjang berwarna hitam yang ia gerai dan dihiasi bando yang juga berwarna pink. Bibir mungilnya ia beri warna merah sangat tipis dan penampilan sederhana itu mampu menghipnotis Shaka.
"Halo, Mas Shaka. Bisa kita berangkat sekarang?" teriak Nimas kencang.
"Ha iya bisa, ayo! Jangan kencang-kencang teriaknya, kamu lagi hamil."
"Kamunya nggak fokus banget, ada yang salah dengan penampilan aku? Apa aku terlihat kampungan? Aku kelihatan kayak anak kecil kalau makai ini?" tanya Nimas menunjuk bando yang nangkring di kepalanya.
"Nggak, biarkan saja begitu. Memang kamu masih kayak anak kecil, kan? Kamu adalah wanita kecilnya Shaka," ujar Shaka terkekeh.
Nimas merasa tersipu mendengar ujaran suaminya. Ia sedikit menundukkan kepala demi menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Ayo berangkat, tadi nggak sabar, sekarang malah nggak berangkat-betangkat." Shaka menyodorkan tangannya yang entah kenapa Nimas tidak mengerti apa maksudnya.
Nimas mendongak seraya mengerutkan kening.
"Masa nggak ngerti?" tanya Shaka mengambil tangan istrinya lalu ia letakkan di telapak tangannya.
__ADS_1
Tanpa kata lagi, Shaka yang menggeret yanga Nimas agar ikut dengannya. Wanita itu hanya diam dengan langkah yang pelan mengikuti langkah Shaka. Matanya beberapa kali menatap yangan yang di genggam suaminya. Tanpa sadar bibirnya melengkung membentuk senyuman.