Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
67. Obrolan Pria


__ADS_3

Sore harinya, setelah semua rangkaian pembuatan nasi kotak yang akan dibagikan oleh tetangga selesai, kedua orang tua Nimas kembali ke rumah sakit. Kali ini mereka datang bertiga, Nino ikut bersama kedua orang tuanya untuk melihat keponakan yang baru saja hadir di dunia.


Ibu dan Ayah Nimas juga berencana akan bertanya dari hati ke hati soal kebenaran Shaka yang menjadi supir taksi online. Bukan hal yang wajar jika kedua orang tua Nimas mencurigai sesuatu.


"Ayah sama Ibu kok nggak istirahat aja di rumah? Jarak rumah sakit dan rumah, kan jauh." Bukan bermaksud untuk protes, hanya saja rasa tidak enak hati seringkali menjalar tiba-tiba jika kedua orang tua Nimas kepeduliannya sangat besar seperti ini.


"Nggak apa-apa. Ibu lagi senang-senangnya baru dapat cucu. Nino juga mau ketemu sama keponakannya katanya."


Ibu Nimas sejak masuk tadi sudah sibuk dengan cucunya, begitu pula dengan Nino yang juga mengalihkan perhatiannya pada bayi kecil yang terbungkus kain bedong. Sengaja Ibu Nimas mengalihkan perhatian Nimas dengan banyak bicara pada anaknya. Beliau melakukan itu agar suaminya berhasil membawa Shaka keluar ruangan tanpa sepengetahuan Nimas.


"Shaka, mereka sedang sibuk dengan Bryan. Bisa kita keluar sebentar ada yang mau Ayah tanyakan."


Shaka yang tidak mencurigai apa pun hanya mengangguk mantap. Mereka keluar ruangan tanpa pamit pada siapa pun. Kantin adalah tempat mereka untuk bicara kali ini. Ngobrol santai untuk pertanyaan dan mungkin saja pembicaraan yang akan mereka bahas kali ini akan membawa mereka ke arah obrolan serius.


"Shaka, Ayah langsung aja, ya. Itu tadi yang antar Ayah dan Ibu pulang teman kamu?"


"Iya, Yah. Kenapa? Apa dia tidak antar Ayah dan Ibu sampai ke rumah?"

__ADS_1


"Teman main atau gimana?" Pertanyaan yang dijawab dengan pertanyaan oleh Ayah Nimas.


Shaka mulai paham dengan arah obrolan mereka kali ini. Ia mulai gugup seketika, rahasia yang seharusnya ingin ia simpan sendiri kini malah sedang dipertanyakan. Bohong rasanya sangat terasa kurang ajar, jujur juga akan membuat dirinya sendiri malu dengan keadaannya. Jujur saja, ia tak mau karena keadaannya, ia dikasihani oleh siapa pun.


Membawa Nimas ke dalam hidup yang seperti ini tentu saja membuat Shaka merasa tidak becus dan tidak bisa membahagiakan istrinya. Meskipun ia tahu dan sadar, Nimas bukan tipe manusia yang mendewakan uang, tapi tetap saja hal itu melukai harga dirinya sebagai suami.


"Iya, Yah hanya teman main saja. Memang ada apa, Yah? Apa dia melakukan sesuatu?" Shaka masih berusaha untuk mengalihkan obrolan.


"Tidak, Nak. Dia tidak melakukan apa pun, dia hanya bilang kalau kalian saling kenal dan dia juga bilang kalau kamu dan dia itu satu profesi. Apa itu benar, Nak?" Sengaja Ayah Nimas menekankan kata 'nak' agar Shaka tidak merasa terintimidasi dan bersedia terbuka dengannya.


Mendapat pertanyaan yang menyakitkan itu membuat Shaka ketika menundukkan kepalanya. Jujur saja hatinya saat ini tidak tenang, berbagai macam pikiran overthinking tiba-tiba memaksa masuk ke dalam kepalanya.


Shaka dibuat semakin sesak dan merasa ingin meluapkan segala rasa sakitnya yang ia sembunyikan dari istrinya. Ya, selama dirinya menjadi pengangguran, ia tidaklah setegar yang Nimas lihat. Harga diri seorang lelaki adalah terletak pada kerja kerasnya. Bagaimana bisa dibilang Shaka bertanggung jawab dan sedang mempertahankan harga dirinya, jika dirinya saja saat itu tidak mampu memberi kebahagiaan sepenuhnya untuk sang istri.


"Iya, Yah. Sudah satu bulan lebih kami memang pisah rumah dengan orang tua saya."


"Tunggu, pisah rumah? Bukannya kalian tinggal terpisah sejak kalian menikah? Rumah yang pernah Ayah sama Ibu datangi itu rumah kalian, kan?"

__ADS_1


"Itu rumah Kakak saya yang baru selesai dibangun dan ditinggal pergi. Saya dan Nimas memang punya rencana untuk tinggal di sana, tapi tiba-tiba Mama datang dan bilang ke Nimas kalau dia ingin kami tetap tinggal bersama mereka, karena Ayah juga tahu sendiri, kan orang tua saya sendirian. Jadi mereka meminta kami itu tinggal serumah dan..."


Akhirnya mau tidak mau Shaka menceritakan apa yang sudah terjadi. Tentu saja tidak ia ceritakan seluruhnya, hanya beberapa saja yang ia ceritakan hingga ia bisa terusir dari rumah. Bukan-bukan, bukan terusir, lebih tepatnya memutuskan untuk pergi dari rumah.


Syok? Tentu saja, tidak ada satu pun manusia yang berstatus orang tua jika mendengar cerita Shaka merespon ceritanya dengan biasa saja. Merasa tersinggung, marah, kecewa, tentu saja muncul di hati Ayah Nimas. Dan bukankah itu hal yang wajar?


"Saya tahu sikap kedua orang tua saya memang sangat menyakitkan dan mungkin akan sulit dimaafkan, tapi saya mohon, Yah, jangan pisahkan saya dengan Nimas."


Selain khawatir menjadi beban pikiran Shaka juga sangat takut hal ini terjadi. Ia sudah membayangkan bahwa jika Ayah Nimas tahu soal ini dan beliau marah, lalu saking marahnya memisahkan mereka, sungguh ia tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya nanti jika itu terjadi.


"Memisahkan? Siapa yang akan pisahkan kalian? Astaghfirullah Shaka, bagaimana bisa kamu punya pikiran seperti itu? Mana ada orang tua yang tega memisahkan anaknya dengan suaminya? Kamu memilih jalan untuk melindungi Nimas mati-matian, masa iya Ayah nyuruh kamu pisah sama dia, ya, kan nggak mungkin."


"Barangkali Ayah kecewa atau marah dengan tingkah kedua orang tua saya dan akhirnya lebih memilih untuk membebaskan Nimas dari saya. Jujur saja saat ini mungkin saya tidak bisa melakukan apa pun kalau nggak ada Nimas. Dia sudah membuat saya bergantung sama dia, Yah."


"Ayah memang kecewa sama orang tua kamu, Ayah marah, Ayah tidak terima anak Ayah diperlakukan seperti itu, tapi bukan berarti Ayah harus memisahkan kalian. Di sini yang bermasalah adalah orang tuamu, bukan kamu. Apalagi kamu masih berada di jalan yang benar, kamu masih mencintai, masih menyayangi anak Ayah. Ayah nggak punya alasan untuk memisahkan kalian. Jangan pernah berpikir sejauh itu kalau kamu merasa nggak punya salah sama anak Ayah. Jadi sekarang kalian tinggal di mana?"


"Saya hanya mampu membelikan rumah Nimas di perumahan yang kecil dan jauh dari kata mewah. Sangat jauh dari rumah yang sudah dibangun oleh Kakak saya." Shaka kamu benar-benar merasa insecure dengan keadaannya. Meskipun semua orang yang berada di sekelilingnya mensupport dan memberikan mood booster yang baik untuk dirinya, tetap saja rasa insecure itu tetap bersarang di kepalanya.

__ADS_1


"Ini yang Ayah tidak suka dari kamu. Ayah yakin kamu paham kok dengan karakter Nimas. Dan Ayah yakin kamu juga paham dan mengerti, bahwa kebahagiaan tidak hanya dinilai dengan uang. Ayah yakin kamu tahu itu. Shaka coba lihatlah Ayah dan Ibu. Memang kamu lihat kami punya kemewahan apa? Rumah kami sederhana, makan seadanya, tapi apakah kamu melihat sebuah kehancuran di keluarga kami? Tidak, kan? Bahkan Ayah dan Ibu masih sangat harmonis hingga sekarang. Kamu harusnya bisa melihat sisi itu, sisi baiknya, jangan lihat sisi buruknya yang justru akan membuat kamu semakin down, kamu akan semakin merasa tidak berguna lalu akhirnya kamu memilih jalan yang salah. Kamu akhirnya terjerembab dalam sebuah kesalahan. Jangan pernah insecure dengan keadaan kamu selagi kamu masih mampu berusaha. Ayah yakin kamu pasti bisa. Ayah dan Ibu akan bersama dengan kalian."


Kalimat panjang dari Ayah mertuanya membuat Shaka terharu. Entah kebaikan apa yang pernah ia lakukan dalam kehidupannya sampai ia mendapatkan keluarga baru yang benar-benar mensupport dirinya dengan setulus ini. Ia benar-benar merasa bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang berhati baik seperti Nimas dan keluarganya.


__ADS_2