
"Kok Mama posisinya ada di tempat lain? Bahkan ini sudah melewati jalan rumah sakit," gumam Shaka meneliti gawai di tangannya. Tanpa pikir panjang pria itu beranjak dari duduknya dan melompat ke mobil untuk mengejar ke mana orang tuanya pergi. Saking terburu-burunya ia sampai tak izin pada Nimas.
Shaka menyusuri jalan yang di lalui oleh Ibu dan Ayahnya. Kebohongan ibunya membuat Shaka semakin merasa bahwa feelingnya benar. Ia sudah sempat memikirkan apa yang akan ia lakukan jika memang benar terbukti bahwa ibunya salah.
***
"Urusan kita selesai sampai di sini," ucap Pak Malik kembali menekankan bahwa urusan istrinya dan pria itu berakhir di pertemuan ini.
Merasa sudah cukup dengan apa yang ia dapat, pria itu tentu saja menyetujui dengan tanpa syarat. Ia sudah mendapatkan lebih dari ekspetasinya.
Setelah urusan itu selesai, Bu Marissa bisa pria itu masih duduk di tempat dengan senyum yang sumringah.
Sementara di luar bangunan. Di waktu yang bersamaan dengan perginya Bu Marissa dan Pak Malik, Shaka sampai di lokasi. Mereka sama-sama tak sadar dengan kedatangan dan kepergian masing-masing.
Shaka turun dengan ragu, ia melihat sekeliling yang tak ada siapa pun, tak ada kendaraan ataupun orang yang berada di sekitar sana. Shaka akan mencoba untuk masuk ke dalam bangunan itu. Ia melakukan itu hanya untuk mengikuti kata hatinya saja, mungkin saja ada orang di sana, pikirnya.
Shaka baru berjalan beberapa langkah, namun langkahnya terhenti karena ia berpapasan dengan pria yang ia hajar beberapa hari yang lalu di hotel. Kedua bola matanya lalu tak sengaja koper yang berada di tangannya.
Pria itu melihat sekeliling, sedetik kemudian ia berusaha untuk melarikan diri dari hadapan Shaka. Untung refleks Shaka bagus, ia dengan gerakan cepat menghadang jalan pria dengan menjegal kakinya, sehingga pria itu tersungkur ke semak-semak. Kopernya pun terlepas dari tangannya.
Shaka dengan gerakan cepat mengambil koper itu dan membukanya. Matanya membelalak begitu melihat isi koper itu yang penuh dengan lembaran uang. Ia penutupnya kembali dan menatap pria itu, ia sudah kembali berdiri tegak di hadapannya.
"Dari mana kau dapat uang ini?"
"Bukan urusanmu! Ini bukan uangmu. Kenapa kau mempermasalahkannya? Cepat kembalikan! Aku berkorban banyak untuk mendapatkan uang itu."
"Katakan dulu, dari mana kau mendapatkannya. Baru akan aku beri."
__ADS_1
"Ada bayaran untuk setiap informasi yang keluar dari mulutku."
"Akan aku beri dua kali lipat dari ini." Shaka menenteng koper ditangannya.
Pria itu nampak lebih berbinar, ia terlihat seperti sedang membayangkan uang-uang yang akan mengelilinginya nanti. Uang yang berada di koper saja sudah senilai ratus juta, dan sekarang ada orang yang akan memberinya dua kali lipat dari yang ia punya sekarang. Ia sedang membayangkan bisa berfoya-foya dengan uang sebanyak itu.
Ditengah menunggu pria itu sedang berkhayal, Shaka menyiapkan ponselnya untuk merekam. Tanpa diberi tahu pun sebenarnya Shaka juga tahu siapa yang sudah memberikan pria ini uang. Ia sudah mengira jika ibunya yang memberi ini untuk uang tutup mulut.
Dan jika di hubungkan dengan apa yang Nimas ceritakan padanya. Semuanya nampak berhubungan dan saling terkait. Kekecewaannya terhadap ibunya kini kembali menganga. Rasa kecewa yang dukung ibunya berikan sudah cukup kering dengan berjalannya waktu kini kembali di terbuka lebar karwna perkara yang sama.
"Aku dapat dari ibumu. Dia harus mengganti rugi atas apa yang terjadi padaku, kan? Luka-luka yang kau berikan ini ada bayarannya. Untuk tidur dengan istrimu pun aku juga mendapatkan bayaran." Pria itu menjawab seakan dirinya tak punya dosa dan bersalah, entah terbuat dari apa hati pria itu.
"Kau meniduri istriku?"
Pria itu menggeleng. "Aku hanya menjaganya saja. Aku sama sekali tidak menyentuhnya, aku baru tidur di sampingnya ketika mendapatkan informasi bahwa kau sedang dalam perjalanan ke hotel. Aku rasa sudah cukup informasiku. Jika kau ingin menambah informasi lagi, kau bisa menambah uangnya menjadi tiga kali lipat dari uang yang kau bawa."
"Nikmati uangmu dan terima kasih untuk kerjasamanya."
Pria itu menerima cek yang disodorkan oleh Shaka. Senyumnya seketika terbuka dengan lebar, ia mengkipas-kipaskan kertas panjang itu dengan bangga.
"Orang kaya mah bebas, buang-buang uang cuma untuk informasi seuprit dan tidak berguna," gumam pria itu seakan menyindir Shaka.
"Kau belum pernah merasakan jatuh cinta? Kau belum pernah merasakan rasanya mencintai seseorang? Kalau kau sudah merasakannya maka apa pun tidak akan berarti lagi. Uang ini tidak ada harganya dibanding informasi yang aku dapatkan, mungkin tidak berguna bagi orang lain, tidak berguna juga untukmu. Tapi bagiku informasi ini sangat mahal, aku rasa kau sudah cukup dewasa untuk mengerti apa itu cinta, jadi aku tidak pernah menjelaskan."
Shaka pergi dari sana dengan amarah yang tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam dirinya. Perlahan namun pasti, amarah itu benar-benar terkumpul sempurna di hati dan pikirannya. Kekecewaan pada ibunya tidak bisa lagi ia tampung. Kepercayaan yang sempat singgah di hatinya benar-benar sudah hilang. Ia tidak pernah habis pikir dan tidak akan pernah bisa berpikir bagaimana jalan pikiran ibunya. Untuk melampiaskan emosi yang tertahan Saka mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Perjalanan yang sebelumnya ia tempuh dalam waktu lebih dari lima belas menit, kini kurang dari waktu itu, ia sudah memarkirkan mobilnya di halaman rumah.
"MAMA!" Untuk kedua kalinya Shaka berteriak di teras memanggil ibunya. Yang pertama adalah saat ia tahu ibunya mengirim foto dirinya dan Raisa yang sedang di rumah sakit dan yang kedua adalah hari ini. Jika yang pertama ia masih bisa memberi maaf, namun untuk yang kali ini tidak ada lagi ada maaf.
__ADS_1
Yang dipanggil satu orang, namun yang datang ke ruang tamu ada tiga orang. Ibu, Ayah dan istrinya, berduyun-duyun ke arah Shaka karena mendengar teriakan pria itu yang menggema di seluruh sudut rumah.
"Kamu ini apa-apaan Shaka! Kamu pikir in hutan bisa berteriak begitu. Semakin ke sini sopan santunmu semakin tidak ada," kata Pak Malik.
"Sopan santun? Jangan bicarakan sopan santun di depanku! Jangan mengajari anakmu jika istrimu belum kau ajari."
Semua orang yang mendengar ucapan Shaka benar-benar terkejut, termasuk !Nimas yang menunjukkan ekspresi melongo. Wajah Shaka yang sekarang jauh lebih menyeramkan dibandingkan ketika ia sedang di hotel.
"Jangan bicara dulu! Biarkan rekaman ini yang bicara," tukas Shaka mengangkat tangannya saat ayahnya membuka mulut ndak bicara.
Suara rekaman itu pun terdengar. Bu Marissa ketika menunjukkan wajah panik. Pria udah berucap ketika rekaman itu selesai, namun belum sempat membuka mulutnya, Shaka sudah mendahuluinya.
"Tidak ada siapa pun dan kalimat apa pun yang bisa menyangkal rekaman ini. Ini sudah sangat keterlaluan, sudah berapa kali Mama berusaha untuk merusak rumah tanggaku, tapi aku diam dan memaafkan. Aku kecewa, tapi aku diam, aku marah, tapi aku berusaha untuk menahannya. Tapi Mama sekali tidak mengerti dengan diamnya aku. Mulai detik ini dan seterusnya Aku tidak akan lagi menginjak rumah ini. Apapun cara kalian untuk menghalangi aku, tidak akan pernah bisa merubah niatku. Ayo Nimas, kita pergi dari sini. Kita tidak pantas berada di sini, kehadiran kita tidak diterima." Shaka menggeret istrinya menuju lantai atas untuk mengemasi barang-barang.
Nikas terlampaui syok. Ia tidak bisa berkata apa-apa, lebih tepatnya tidak berani mengatakan apa pun karena Shaka terlihat lebih murka dari sebelumnya. Shaka pun diam tanpa kata. Ia dengan gerakan cepat mengemasi pakaiannya dan juga istrinya.
"Mas." Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya. Itu pun sangat lirih.
"Jangan cegah aku. Aku udah dari dulu ngajak kamu keluar dari sini, kan? Aku bertahan di sini karena nurutin kamu Nimas. Dan sekarang aku nggak akan nurutin kata-katamu, kalau kamu minta aku untuk bertahan di sini, maaf aku tidak akan pernah mengabulkan permintaanmu yang satu itu."
Selesai dengan mengemasi barangnya, Shaka kembali istrinya untuk turun. Kedua orang tuanya masih terpaku di tempat. Shaka melewati mereka begitu saja tanpa ada tegur sapa, bahkan meliriknya pun tidak.
"Berani kamu mengeluarkan satu langkah kakimu di depan pintu, Papa akan hapus namamu di daftar nama keluarga kita. Papa akan anggap tidak pernah punya anak selain Bryan."
Deg!
Langkah sepasang suami istri itu seketika terhenti.
__ADS_1