Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
112. Sebuah Nama


__ADS_3

"Seneng. Aku pikir Ayah lupa kalau aku hari ini ulang tahun. Makasih Ayah." Mata Bryan sedikit berkaca-kaca.


"Mana ada orang tua yang melupakan hari ulang tahun anaknya. Kecuali kalau orang tua itu sudah tua seperti Opa dan Oma wajar kalau mereka lupa, tapi kalau masih seumuran Ayah pasti masih ingat. Sekarang kita mulai aja acaranya, ya temen-temen Kakak udah ngumpul semua." Shaka membawa anaknya ke tengah.


Teman sekelas dan juga para tetangga hari itu berkumpul di rumah mewah keluarga Narendra. Bryan tidak henti-hentinya mengulum senyum karena kejutan yang sudah di sedikit dibocorkan oleh Nino rupanya berhasil membuatnya benar-benar terkejut.


Tak mau menunggu waktu lebih lama lagi Shaka memulai acara ulang tahun anaknya tersebut. Suara khas anak-anak menghiasi dan mendominasi ruangan itu. Tak lupa Nino juga mengabadikan momen langka ini di ponselnya. Pria dua puluh tahun itu mengelilingi seluruh ruangan untuk mendapatkan rekaman ruang tamu yang disulapnya menjadi hiasan yang meriah.


Menyanyikan lagu ulang tahun sudah, meniup lilin sudah, membagikan kue dan memakannya sudah, menerima kado juga sudah. Kini saatnya Bryan dan teman-temannya bermain di wahana bermain yang sudah dipersiapkan oleh keluarga Saka. Ada juga badut yang akan menghibur mereka. Bryan nampak kembali pada jati dirinya, mudah-mudahan apa yang terjadi sebelum ini tidak akan pernah terjadi lagi. Jujur saja kesalah pahaman beberapa waktu lalu sangat meremukkan hati kedua orang tuanya.


Keluarga Narendra akhirnya sedikit melipir dari ruang tamu. Memberikan ruang untuk anak dan teman-temannya melakukan apa pun yang mereka inginkan tanpa takut atu sungkan.


Singkat cerita, acara itu usai setelah mereka semua manyatap makan siang yaang sudah disiapkan oleh kedua Nenek Bryan.


Semua keluarga kembali berkumpul di rumah tengah dengan tumpukan kado dari teman-teman Bryan. Melihat kado yang bertumpuka jujur saja membuat Bryan merasa menyesal dengan sikapnya beberapa hari yang lalu. Hari ini dan detik ini Briyan mulai menyadari bahwa kedua orang tuanya itu tidak pernah berubah dan rasa kasih sayangnya pun tidak pernah berkurang, karena permintaan acara ulang tahun ini sudah lama ia utarakan pada sang Ayah, bahkan sebelum mereka tinggal di rumah besar itu. Dan rupanya hingga kini ayahnya masih ingat, itu adalah hal yang cukup mengharukan bagi Bryan.


"Kakak ini ada kado dari Oma sama Opa. Mudah-mudahan suka." Bu Marissa menyodorkan sebuah kotak berukuran sedang yang kemudian disusul oleh kedua orang tua Nimas.

__ADS_1


"Mudah-mudahan jadi anak soleh, ya Nak. Berbakti sama kedua orang tua dan taat sama Tuhanmu. Tetaplah menjadi anak baik dan rendah hati apa pun kondisinya." Doa sederhana diutarakan oleh Ayah Nimas.


"Aamiin," sahut seluruh manusia yang berada di ruang tengah.


Semua orang sudah memberikannya kado. Kini tinggallah kedua orang tuanya yang belum memberikan hadiah spesial untuknya. Saka merogoh laci lemari yang berada di ruang tengah, mengambil sebuah amplop coklat berukuran sedang.


"Sekarang giliran Ayah sama Bunda yang kasih. Bukalah!"


"Ayah sama Bunda ngasih kejutan lagi? Padahal acara ini sudah lebih dari cukup buat aku, Yah."


"Ini hadiah spesial."


Sebuah surat, seperti sebuah dokumen penting ternyata yang mengisi amplop tersebut. Bryan membacanya dengan pelan. Namun, matanya terdokuskan pada nama yang tertera di surat tersebut.


"Muhammad Bryan Bagaskara Narendra. Namaku ada Narendra nya? Sama kayak adik?" Bryan bertanya seolah tak percaya. "Sama kayak Ayah? Aku jadi anak Ayah?"


Shaka hanya mengangguk lemah. Ia melihat wajah dan mata berbinar yang tercetak di wajah Bryan. Hanya sebuah nama, ia begitu bahagia seperti baru mendapatkan hadiah pertama dari kedua orang tuanya.

__ADS_1


Anak kecil yang termasuk peka dan sensitif hatinya itu lalu memeluk sang Ayah dan tanpa sadar menangis dalam dekapan hangatnya.


"Terima kasih Ayah. Aku harusnya tidak perlu berpikir kalau Ayah dan Bunda nggak sayang aku lagi. Aku minta maaf, aku janji nggak akan mikir gitu lagi." Bryan berucap seraya sesenggukan.


Hal itu memicu tangis siapa pun yang mendengarnya. Suasana yang bahagia kini beralih pada tangis hari Bryan yang selama ini tidak pernah terdengar. Semua orang yang berada di sana ikut berkaca-kaca.


Shaka merenggangkan pelukannya, "Kakak itu anak Ayah sama Bunda. Kenapa tadi masih bertanya? Nggak ada bedanya Kakak sama Nisa dan Mira. Kalian segalanya buat Ayah sama Bunda. Beberapa terakhir Ayah selalu berpikir keras apa yang membuat Kakak berubah. Ayah berpikir kalau selama ini Ayah sudah memberikan yang terbaik, Ayah sudah menjadi ayah yang baik, sudah menjadi orang tua yang baik, tapi ternyata Ayah jauh dari itu. Ayah minta maaf, karena terlambat menyadari satu hal, bahwa sesuatu yang sederhana membuat Kakak terluka. Ayah minta maaf karena sudah lalai menyematkan nama ayah buat Kakak. Ayah juga minta maaf karena gagal memperkenalkan adik dari awal mereka hadir, sehingga Kakak berpikir kalau cinta kami sebagai orang tua berkurang dan berpindah pada adik, untuk kegagalan Ayah yang satu ini Ayah minta maaf." Shaka berucap dengan mulut bergetar menahan isakan. Hal itu sangat melukai hati Bryan dan membuat penyesalannya semakin dalam.


"Aku yang salah, Ayah. Aku yang harusnya minta maaf. Aku selalu diberi tahu Bunda untuk mensyukuri apa pun yang ada padaku, aku seharusnya nggak minta atau berpikir yang aneh-aneh. Aku tetap anak Ayah meskipun nggak ada nama belakang yang sama dengan Ayah, kan? Aku minta maaf, Ayah. Aku selalu merepotkan Ayah." Tangisan Bruan terdengar semakin ngilu.


"Nggak, Sayang. Kakak nggak pernah merepotkan Ayah. Udah nangisnya, kasihan Bunda. Bunda jadi ikut nangis."


Bryan beralih pada ibunya dan memeluknya. Tangis Nimas seketika pecah saat itu juga. Ia pun sebagai Ibu juga merasa gagal karena sudah membuat Bryan berpikir begitu jauh. Ia tak pernah mengira bahwa anaknya itu akan memikirkan sebuah nama diusianya yang baru delapan tahun.


"Udah, Dek. Jangan gitu nangisnya, Bryan tambah sedih nanti. Tahan." Shaka merangkul pundak sang istri dan memberikan elusan pelan.


"Bunda, aku minta maaf."

__ADS_1


"Nggak, Nak. Buat apa Kakak minta maaf. Kakak sudah jadi anak yang baik, sudah jadi anak yang berbakti sama orang tuanya, Kakak nggak ada salah sama Bunda. Mulai sekarang bantu Bunda sama Ayah jagain adik, ya. Kakak yang akan jaga mereka kalau Ayah sama Bunda udah tua nanti." Nimas mengusap air mata sang anak yang sejak tadi terjun bebas.


__ADS_2