Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
80. Mertua Toxic


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


"Dek, ini ada susu sama buah buat kamu konsumsi. Ini kata karyawan aku ampuh banget, istrinya baru beberapa bulan konsisten minum ini, langsung isi. Mudah-mudahan berlaku juga buat kamu, ya. Kamu bisa juga ngemix jus apel, wortel, sama tomat merah."


"Iya, Mas."


Entah pikiran dari mana, Nimas merasa suaminya sedikit mengalami perubahan. Ia jadi sedikit terobsesi ingin memiliki anak dengan segera. Tidak seperti hari-hari sebelumnya yang ia lebih memasrahkan segela keputusan pada yang di Atas. Ia tidak tahu apa yang membuat suaminya seperti itu. Apakah ia menerima tekanan dari orang sekitar, atau ini hanya perasaannya saja? Pikir Nimas dalam hati.


Berbulan-bulan setelah hari itu, Nimas tidak pernah absen untuk mengkonsumsi apa pun yang diberikan oleh suaminya. Semakin hari bukannya semakin tenang, ia justru semakin tertekan. Belum lagi Ibu mertuanya yang secara terang-terangan kembali memandangnya sebelah mata.


Nimas tak menghiraukan apa yang ia terima dari ibu mertuanya. Baginya perlakuan Shaka terhadapnya jauh lebih penting. Namun, perlakuan Shaka yang akhir-akhir ini seperti bukan dirinya membuat Nimas tak nyaman.


Nimas merasa hanya dirinya yang berusaha untuk hamil tapi tidak dengan Shaka. Dirinya yang terus diminta untuk minum ini dan itu, makan dari yang enak hingga tak enak, melakukan ini dan itu tapi tidak dengan Shaka. Bukankah ini harusnya menjadi usaha berdua? Kenapa seakan dirinya yang terus dipaksa untuk berusaha?


Hingga pagi ini setelah kepergian suami dan anaknya untuk beraktifitas, Nimas nekat untuk melakukan sendiri pemeriksaan mengenai kesuburannya yang ia sendiri meyakini bahwa ia baik-baik saja.


"Ma, jangan terus tekan Shaka untuk meminta Nimas melakukan apa yang Mama mau. Jangan pengaruhi dia. Papa memang sangat ingin cucu, tapi nggak gini caranya. Kamu terus memberikan tekanan dengan bersembunyi di balik kepedulian kamu. Hal ini justru akan buat mereka, terutama Nimas tertekan. Malah sulit punya anak. Kamu nggak kasihan sama mereka? Setidaknya kasihani anakmu."


Saat sampai di ruang tamu, tidak sengaja Nimas mendengar suara Pak Malik yang sedang bicara di teras samping rumah yang letaknya berdekatan dengan ruang tamu. Membawa kata-kata 'anakmu' membuat Nimas diam-diam mendekatkan diri ke arah teras samping.


"Mama nggak pengaruhi dia, Pa. Mama cuman memberikan saran apa yang harus mereka lakukan agar mereka punya anak cepat dan sejauh ini Shaka mau-mau aja kok terima saran dari Mama. Lagi pula ini untuk kebaikan mereka juga. Segala cara dan usaha harus dilakukan, kan untuk dapatkan hasil yang maksimal?"


Terlihat Bu Marissa yang pergi meninggalkan suaminya sendirian setelah mengatakan satu kalimat panjang itu. Beliau nampak pergi dengan kesal, Nimas yang melihat itu berusaha melarikan diri dari tempat persembunyiannya, namun langkahnya yang kurang cepat membuat Bu Marissa mengetahui kehadirannya.


"Sejak kapan kamu berdiri di situ? Kamu hobi nguping ternyata, ya. Ini sudah kedua kalinya kamu menguping pembicaraan saya."

__ADS_1


"Tuhan selalu punya cara untuk membeberkan kebusukan seseorang, Ma."


"Apa maksudnya kamu bicara seperti itu?"


"Yang pertama, saya tidak sengaja mendengar pembicaraan Mama beberapa tahun yang lalu, dan ternyata apa yang saya dengar adalah tindakan kejahatan Mama. Dan sekarang, Tuhan sudah memberikan petunjuk kepada saya, bahwa Mama melakukan hal yang sama seperti beberapa tahun yang lalu. Bukankah ini memang sudah rencana Tuhan dan cara Tuhan untuk membuka mata saya?" Nimas menjawab dengan tenang, sangat berbeda dengan Bu Marissa yang sudah nampak gugup.


"Jangan banyak bicara kamu, bukankah apa yang saya lakukan ini sebuah kebenaran? Melakukan usaha apa pun untuk membuat kamu hamil dan sampai sekarang kamu hamil nggak hanil-hamil. Apalagi yang harus dipertanyakan kalau tidak kesuburan kamu?"


"Kesuburan saya? Jangan lupa saya sudah memberikan satu cucu kepada Anda meskipun berbeda Ayah."


Respon yang diberikan Nimas sangat berbeda dari beberapa tahun yang lalu, kali ini ia merespon setiap hinaan dari Ibu mertuanya dengan sangat tenang.


"Jangan bangga karena kamu sudah pernah melahirkan satu anak. Apa pun bisa terjadi setelah melahirkan. Tidak menutup kemungkinan setelah kamu melahirkan, kesuburan kamu berkurang."


Bu Marissa berlalu dari sana, melihat wajah Nimas yang nampak dingin membuat beliau enggam untuk melihat wajah menantunya itu. Beliau tak mau bersebat lebih panjang.


Detik, menit, jam, Nimas lalui di rumah sakit seorang diri. Bukan bermaksud untuk lancang atau tidak menghargai suaminya. Tapi Nimas rupanya menilai perubahan Shaka membuatnya sedikit demi sedikit tertekan. Apa lagi ia baru sadar jika perubahan suaminya itu karena ulah Ibu mertuanua sendiri. Sejak kapan dan bagaimana Bu Marissa memulai rencana jahatnya itu, yang jelas wanita itu sudah berhasil membuat Shaka yang semula begitu sempurna di mata Nimas mendadak menjadi berubah dengan cepat.


"Ini hasilnya dari pemeriksaan yang kita lakukan, Bu."


"Baik, Dok. Boleh saya buka di sini? Barangkali ada yang tidak mengerti dan bisa saya langsung tanyakan sekarang."


"Silakan."


Nimas dengan tanpa ragu membuka amplop tersebut. Membacanya sebentar dan mendongakkan kepala pada dokter muda berhijab itu.

__ADS_1


"Ini artinya, saya subur, kan? Maksudnya nggak ada masalah apa-apa dalam rahim saya? Saya sehat?" Nimas menyerahkan kembali kertas yang baru saja ia terima.


"Iya, Ibu sangat sehat. Tidak ada masalah apa pun yang melekat di diri Ibu."


"Apa itu artinya masalah ada pada suami saya? Maksudnya, saya sudah menikah lima tahun, tapi saya tidak hamil-hamil."


"Alangkah baiknya, jika keduanya periksa bersama, Bu. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan Ibu jika suami Ibu tidak ikut memeriksakan diri. Alangkah baiknya jika melakukan pemeriksaan bersama, lalu kita cari solusinya. Semua masalah ada jalan keluar."


"Baik, Dok. Terima kasih."


Nimas kembali pulang dengan hati yang cukup lega. Setidaknya ia tidak kunjung hamil bukan karena dirinya. Jadi tidak ada lagi yang perlu ia khawatirkan. Ia juga bisa membungkam mulut Ibu mertuanya dengan hasil pemeriksaannya ini.


Meskipun ada kelegahan di hati Nimas, di sisi lain ini juga merasa khawatir dengan suaminya.


Mas Shaka tidak boleh tahu hasil pemeriksaan ini. Kalau dia tahu, pasti dia akan berkecil hati. Pikirannya pasti pemikiran hal yang tidak tidak, justru itu akan membuat dia stress dan tidak baik untuk kesehatannya.


***


Tepat pukul sebelas siang, Nimas sampai di rumah. Ia masuk dengan langkah percaya diri, kedua bola matanya tidak memperhatikan jika ada mobil Shaka yang terparkir di depan rumah.


"Kamu dari mana? Kok nggak izin Mas keluar rumah? Mas kasih izin kamu untuk keluar rumah, tapi izin dulu sama Mas. Bilang kau ke mana, biar kalau ada apa-apa, Mas tahu kamu ada di mana."


"Mas, kamu udah pulang? Makan siang di rumah? Maaf aku ada keperluan sebentar tadi. Sama sekalian beli camilan."


"Iya nggak apa-apa. Lain kali bilang sama Mas, mau kemana, ya. Ada keperluan apa? Kata Mama kamu berangkat dari tadi pagi, setelah Mas berangkat. Orang rumah khawatir sama kamu, makannya Mama tadi telepon, tanyain soal kamu apa lagi di kantor, kenapa nggak pulang-pulang. Kamu ke mana?"

__ADS_1


Mama?


__ADS_2