
Beberapa minggu setelah Nimas dinyatakan bebas dari kursi roda, akhirnya wanita hamil itu kembali menginjak rumah mewah mertuanya. Wanita itu sudah nampak menyembulkan perutnya di usia kehamilan yang memasuki usia empat bulan.
Semakin hari, Shaka dibuat semakin gemas dengan bentuk tubuh Nimas. Tinggi badan yang tidak terlalu tinggi itu terlihat tertarik ke bawah karena perutnya yang nampak sedikit buncit.
"Apa sih, Mas? Jangan ketawa terus, ah," kata Nimas yang berjalan di samping suaminya. Ia sering kesal akhir-akhir ini karena Shaka yang terus mengejeknya tinggi badannya menyusut.
"Iya, iya. Nggak ketawa. Kamu terlalu lucu dengan perutmu ini."
Nimas menjawab hanya dengan cebikan karena kesal.
Saat sampai di pintu utama, mereka disambut oleh Bu Marissa dan tak lama kemudian, Pak Malik datang juga untuk menyambut kedatangan Nimas.
Shaka menatap wajah ibunya dengan intens. Tatapannya seakan mengartikan bahwa ia mengingatkan ibunya yang pernah menjanjikan sesuatu padanya.
"Selamat datang di rumah kami kembali Nimas. Mama sudah merindukanmu. Bagaimana kabarmu?"
"Alhamdulillah aku sehat, Ma." Nimas menyalami kedua tangan mertuanya.
Keduanya lalu di giring untuk masuk ke rumah. Dan semenjak itu hubungan mereka nampak baik-baik saja. Semua berjalan dengan yang Shaka harapkan. Meskipun dalam hatinya masih terbesit keraguan, ia berusaha untuk menyingkirkan keraguan itu pada ibunya.
Waktu yang terus berjalan tanpa jeda tak terasa membawa Nimas ke dalam fase di mana perutnya benar-benar buncit karena usia kandungan yang sudah masuk bulan ke tujuh.
Tidak ada yang terjadi dalam kurun waktu beberapa bulan ini. Kekhawatiran dan keraguan yang sempat singgah di hati Shaka perlahan menghilang. Raisa juga tak kembali nampak muncul di kehidupan mereka. Shaka tidak tahu apa yang membuat mereka berubah begitu drastis dan cepat. Tapi ia tidak mau memikirkan itu terlalu lama. Yang penting semua sudah baik-baik saja sekarang. Jadi ia lebih memilih untuk fokus pada Nimas dan juga anaknya.
__ADS_1
Sore itu, Nimas sedang asyik dengan dunianya sendiri. Ia sedang menghabiskan sore hari di kamar seraya ngobrol banyak hal dengan sang jabang bayi yang sudah aktif menendang.
"Dua bulan lagi kita ketemu, loh. Nanti lahirnya yang lancar, ya. Yang pinter, yang cepet lahirnya biar nggak sakit Bundanya."
"Iya, Bunda iya. Aku tidak akan merepotkan Bunda nanti pas lahir," sahut Shaka masuk ke kamar.
Langkah kakinya ia bawa ke tempat tidur di mana istrinya sedang selonjoran dengan nyaman di atas kasur yang empuk. Pesona Nimas tidak bisa disembunyikan meskipun ia sedang hamil besar. Perutnya yang membuncit dan berat badannya yang naik tidak mampu membuat kecantikan Nimas berkurang.
"Udah pulang, Mas? Bagaimana harimu hari ini? Apa menyenangkan?" tanya Nimas yang yang akhir-akhir ini entah kenapa ia sering menanyakan itu. Dan jawaban Shaka akan selalu sama.
"Mau seburuk apapun hariku, akan terasa menyenangkan jika sudah pulang."
Ya, sedekat itu mereka sekarang. Mereka sudah tidak ada lagi sungkan untuk melempar candaan, melempar gombalan atau apapun. Hubungan dan interaksi mereka seperti seorang teman dekat saja. Ya, hanya teman. Hingga saat ini tidak ada di antara mereka yang menyatakan perasaan. Meskipun jika dilihat dari tingkah dan perlakuan mereka sudah menggambarkan kecintaan, dari segi ungkapan kata-kata belum ada yang keluar dari mulut mereka.
Satu keinginan Nimas yang hingga detik ini belum dapat di kabulkan oleh Tuhan. Entahlah, seringkali ia merasa ada yang mengganjal dan tidak enak hati ketika Shaka memanggil anaknya dengan sebutan anak Bunda. Apakah ia tidak akan pernah mengakui anak ini sebagai anaknya? Tidak sudikah dirinya dipanggil Ayah oleh anaknya nanti? Meskipun perlakuan Shaka seakan menunjukkan cintanya pada sang Anak, ia tak pernah memanggil anaknya anak Ayah atau setidaknya anak kita.
Di saat pemikiran itu seringkali muncul, logika Nimas kembali mengingatkan bahwa ia tak seharusnya memikirkan hal itu. Semua yang ia dapat harusnya ia syukuri, bukan malah meminta hal yang lebih lagi. Itulah yang menyebabkan Nimas hingga kini tak menanyakan hal ini pada suaminya.
"Apa? Kenapa nendang-nendang. Mau kenalan kamu sama Ayah, iya? Jangan keras-keras. Nanti Bunda sakit perutnya. Pelan-pelan aja."
Shaka menegakkan tubuhnya setelah berbincanh cukup lama dengan sang anak.
"Nimas, habis acara tujuh bulanan besok, aku harus ke luar kota. Ada beberapa pekerjaan yang mengharuskan aku ke sana. Kamu mau ikut aku apa di sini?"
__ADS_1
"Di sini aja, Mas. Di sana atau di sini sama aja nggak ada temennya. Berapa lama di luar kota?"
"Paling lama satu minggu. Akan aku usahakan kurang dari itu. Nanti habis aku pulang dari luar kota, kita belanja keperluan bayi, ya. Jangan belanja sendiri tanpa aku."
Nimas hanya menjawab dengan anggukan.
***
"Tante, aku merasa kalau Shaka sudah benar-benar melupakan aku. Rasanya aku nggak mau menunggu lebih lama lagi. Apa lebih baik aku pergi aja dari kehidupan dia?"
Bu Marissa dan Raisa sedang duduk di bawah atap restoran yang sama.
"Kenapa kamu menyerah di saat sudah sejauh ini. Sia-sia dong, Tante pura-pura baik ke Nimas. Masa kamu menyia-nyiakan usaha Tante? Raisa, nggak lama lagi Shaka akan ke luar kota dalam waktu yang sedikit lama. Mungkin sekitar satu mingguan. Tante ada rencana untuk itu."
"Apa lagi? Yakin bisa berhasil?"
"Kita nggak tahu kalau kita nggak coba. Ayo dong Raisa, kamu yang semangat tante aja masih berharap lebih loh ini. Katanya kamu cinta sama Shaka, tapi kok udah menyerah aja."
"Memang apa yang Tante rencanakan?"
Bu Marissa lalu menceritakan apa yang ada dalam pikirannya. Raisa sesekali menggangguk untuk memberikan isyarat bahwa ia paham dengan yang dijelaskan oleh wanita itu.
Setelah mendengar rencana dari Bu Marissa, akhirnya Raisa yang semula sudah menyerah kini kembali semangat untuk berperang dengan Nimas.
__ADS_1
Rencana apa lagi yang kira-kira direncanakan oleh mereka?