
Shaka berbalik dengan mantap dan menatap kedua orang tuanya. Genggaman di tangan istrinya semakin ia eratkan.
"AKU SHAKA NARENDRA, MULAI DETIK INI NAMA NARENDRA HILANG DARI NAMAKU. HANYA SHAKA, NAMAKU SEKARANG HANYA SHAKA!" Pria itu bicara dengan lantang, lancar,.dan seakan tanpa beban.
Semua orang terkejut mendengar ucapannya, pandangan yang mereka lempar seakan menatap tak percaya. Shaka yang selama ini dikenal lembut dan penyayang bisa mengatakan hal tanpa beban. Tentu saja hal itu mengejutkan kedua orang tuanya.
Pak Malik menatap anaknya dengan tatapan yang semakin terlihat murka, sementara Bu Marissa seketika menghampiri anaknya dengan disertai tangisan. Wanita itu seketika tersebut di kaki anaknya, namun secepat kilat masa kamu memundurkan dirinya beberapa langkah.
"Jangan Shaka, hukum Mama sesuka hatimu tapi jangan pergi," pinta Bu Marissa dengan isakan.
"Maaf, Ma. Kesempatan Mama sudah habis. Dari awal Nimas bedrest, aku sudah tahu apa yang Mama lakukan. Mulai dari menukat vitamin, menyiramkan sesuatu di lantai kamar kami. Aku tahu semua itu, tapi aku diam."
Shaka lalu menoleh pada istrinya sesaat. Ia melihat dengan jelas wajah terkejut tercetak di sana. Mungkin ucapan Shakalah yang membuat Muka terkejut, karena memang pria itu sama sekali tidak bicara apa pun soal kejadian saat dirinya bedrest.
"Bahkan istriku saja tidak aku beritahu kalau sebenarnya, Ibu mertuanya sedang berusaha untuk melenyapkan janinnya. Semuanya aku simpan sendiri, aku tidak menegur Mama, aku tidak marah sama Mama, meskipun aku kecewa aku simpan sendiri, aku rasakan sendiri. Memang Mama pikir aku melakukan itu untuk apa? Aku menghargai mama, aku berusaha untuk tidak durhaka seperti ini. Tapi tindakan Mama yang terakhir ini benar-benar membuat aku merasa, aku nggak mungkin lagi untuk memberi Mama maaf. Sudah aku katakan tadi, kan? apa pun yang akan kalian lakukan, tidak akan menghalangi niatku untuk pergi dari sini. Termasuk ancaman yang sudah Papa berikan. Aku tidak peduli, aku akan angkat kaki dari sini. Permisi!"
Shaka segera berbalik badan dan menarik istrinya keluar rumah dengan cepat-cepat. Bu Marisa semakin meraung dalam duduknya. Memanggil anaknya dengan histeris, namun yang dipanggil sama sekali tidak bergeming.
Nimas yang tadinya ingin menenangkan Shaka tiba-tiba urung ia lakukan. Setelah mendengar kenyataan bahwa Ibu mertuanya sudah melakukan hal yang jauh dari kata kemanusiaan.
__ADS_1
Begitu sampai di mobil Shaka tidak bisa menampung air matanya. Ia terlihat beberapa kali mengusap air matanya seraya fokus pada jalanan. Nimas masih diam dengan gerak-gerik yang tetap memperhatikan suaminya, ia belum berani berucap karena bisa jadi hati Shaka masih panas.
Shaka menangis bukan karena menangisi kepergiannya dan juga ke durhakaannya kepada kedua orang tuanya. Air matanya mengalir begitu saja ketika rasa kecewanya yang membuncah. Apalagi ka sadar benih-benih cinta sudah mulai tumbuh di hatinya. Menyakiti istrinya, itu sama saja menyakiti dirinya.
Shaka tidak perlu mengkhawatirkan ke mana tujuan mereka pergi. Rumah yang dibangun oleh Bryan masih berdiri dengan kokoh di tempatnya, ia kembali mengajak Nimas untuk tinggal di sana.
Namun sialnya, begitu sampai di sana sudah ada beberapa mobil yang terparkir di depan gerbang dan juga ada beberapa orang pria yang berbadan besar dan kekar sedang berdiri di sepanjang gerbang. Shaka seketika memukul setirnya dengan sekeras-kerasnya. Nimas sampai dibuat telonjak karena terkejut dengan aksi Shaka yang tiba-tiba.
"Apa aku membuatmu terkejut? Maafkan Aku," ucap Shaka mengelus tangan istrinya. " Kamu tunggu di sini dulu, aku turun, ya. Aku atasi mereka dulu," imbuhnya.
Nimas hanya mengangguk. Ia tidak tahu pasti apa yang membuat Shaka sampai memukul setir. Ia hanya bisa menebak pasti suaminya itu semakin kesal karena beberapa orang yang berjajar di sepanjang gerbang.
"Kalian ngapain di sini? Di suruh Pak Malik untuk melarang saya masuk?" Shaka bertanya seraya menuliskan sesuatu di kertas panjang yang biasa digunakan untuk transaksi. Pria itu benar-benar membuktikan ucapannya tadi. Bahwa sejak hari ini nama Narendra yang sudah hilang ia buktikan dengan panggilan untuk sang Ayah yang tidak lagi memanggilnya dengan sebutan Papa.
"Ini, berikan padanya! Yah, sebenarnya meskipun Pak Malik tidak punya hak atas rumah ini, tapi karena ini rumah adalah rumah anaknya, jadi saya akan membelinya sekarang. Silakan pergi dan berikan ini padanya!" Shaka menyobek kertas itu dan memberikan pada salah satu antek-antek Pak Malik.
"Maaf, Pak Shaka. Rumah ini tidak dijual pada Anda. Pak Malik sudah berpesan bahwa rumah ini akan dilepas untuk siapa pun yang membelinya, kecuali Anda."
Emosi Shaka yang belum stabil seketika meremas cek itu dan melempar ke wajah pria yang menjawab ucapannya itu. Dengan wajah memerah yang menahan geram ia kembali masuk mobil. Tanpa satu kata pun Shaka kembali melakukan mobilnya.
__ADS_1
"Mas."
"Pak Malik tidak mengizinkan kita untuk tinggal di sana. Aku sudah mencoba pembeli rumah itu, tapi antek-anteknya bilang kalau rumah itu tidak akan pernah dijual ke aku. Nggak apa-apa kita cari rumah lain, ya. Apa untuk sementara kita tinggal di hotel dulu, besok kita baru cari rumah. Ini udah malem, kamu juga harus istirahat. Aku minta maaf, ya kamu jadi melihat aku yang seperti ini. Sisi lain Shaka yang tidak pernah Shaka perlihatkan."
"Nggak apa-apa, Mas. Semua manusia pasti punya sisi buruknya. Aku tidak mempermasalahkan itu. Lebih baik kita cari makan dulu pasti belum makan, kan? Kamu, kan dari tadi sore keluar rumah."
"Iya, kita cari makan dulu. Biar sampai hotel bisa langsung tidur."
Meskipun Shaka terlihat sangat menyeramkan ketika marah. Nimas tetap mengagumi pria itu. Wanita yang kini sedang hamil besar itu pemberanikan diri untuk memeluk suaminya yang sedang fokus di jalanan. Ia sudah menahannya sejak tadi, tapi rasanya semakin ditahan ia semakin tidak kuat. Nimas hanya ingin memberikan pelukan yang erat sebagai tanda terima kasih karena sudah membelanya begitu begitu dalam.
"Kenapa? Ada apa? Aku mohon jangan sedih, jangan menangis lagi. Kita akan hadapi ini berdua, nggak usah takut." Shaka terkejut karena tiba-tiba Nimas menjatuhkan kepalanya di pundaknya. Tangannya tergerak untuk merangkul istri mungilnya itu. Memberikan elusan kasih sayang di kepalanya.
"Aku nggak takut, Mas. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah melangkah sejauh ini. Kamu membela aku begitu jauh, meninggalkan kedua orang tua kamu hanya untuk wanita sepertiku," balas Nimas dengan suara bergetar.
"Kamu ini ngomong apa? Kamu adalah istriku, kamu menjadi korban kejahatan kedua orang tuaku. Bagaimana mungkin aku akan diam? Jangan pikirkan itu lagi, ya. Mulai hari ini kita akan mulai kehidupan kita yang baru. Aku, kamu dan anak kita."
Anak kita?
Hingga detik ini terkadang Nimas tidak percaya bahwa Shaka mengakui anak yang ada di dalam kandungannya itu adalah anaknya. Hal yang sudah lama ingin sekali ia dengar.
__ADS_1