Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
102. Jangan Panggil Aku Sayang


__ADS_3

Sudah setengah perjalanan, Nimas nampak duduk di kursi kemundi dengan sedikit gusar. Ia merasa ada yang nyeri di perutnya. Ia merasa tak nyaman, hal itu terlihat dari bagaimana ia sejak tadi mengubah posisi duduknya dan tak mau diam.


"Kenapa, Dek? Kambuh lagi perutnya?"


Shaka yang sudah hafal dengan kebiasaan Nimas yang seringkali kontraksi palsu sejak usia kandungan memasuki tujuh bulan mulai terbiasa dan tidak secemas dahulu.


"Udah dibilang jangan cape-cape masih aja bandel. Kita pulang aja kalau gitu, belanja dari rumah. Kalau dikasih tahu suami itu nurut, jangan bandel."


"Sakit, Mas ini. Jangan diomelin."


"Ya maunya diapain? Dipegang juga nggak kamu bolehin. Kamu mah aneh, orang lain hamil pengennya dielus-elus terus perutnya sama suaminya, kamu kebalikannya." Shaka menggerutu seraya memutar mobilnya kembali ke rumah.


"Ya udah nih elus. Makin ke sini kontraksinya makin sakit." Nimas sedikit merengek.


"Sabar Sayang. Nggak akan ngerasain ini lagi kalau anaknya udah lahir, dinikmati aja, ya. Udah duduk diam, jangan gerak-gerak. Senderan yang bener." Shaka sedikit menurunkan sandaran kursi penumpang yang diduduki Nimas agar ia bisa lebih nyaman dalam duduknya.


Shaka kini melakukan dua kegiatan sekaligus. Fokusnya sedikit terbelah karena harus mengemudikan mobil dan berperan sebagai suami siaga yang sejak kehamilan Nimas yang kedua status siaganya tidak begitu berguna karena Nimas yang jarang mau di dekati.


Namun, kali ini wanita itu nampak tenang ketika tangan Shaka menyentuh pelan perut besarnya. Pergerakan Numas pun tidak intens seperti tadi. Ia sedikit lebih tenang dalam posisi duduknya yang setengah berbaring.


Dan sentuhan Shaka di perut Nimas yang terasa menenangkan itu ternyata mampu membuat Nimas akhirnya sedikit merubah kebiasaannya yang jarang mau di sentuh. Setiap ingin tidur wanita itu meminta Shaka untuk melakukan kebiasaannya saat dirinya hamil Bryan terdahulu. Hal ini sudah dilakukan Shaka kurang lebih satu bulan.


"Mas rasanya badan aku cape semua. Punggung aku kok nyeri banget ini kenapa? Nggak enak banget perut aku, Mas."


"Kita ke rumah sakit sekarang, ya. Kandungan kamu udah jalan sembilan bulan. Mas nggak mau ambil resiko."

__ADS_1


"Tunggu, Mas, aku takutnya ini hanya kontraksi palsu."


"Dek, kamu ini hamil kembar, ingat kata dokter. Dalam kasus kamu ini, melahirkan kurang dari sembilan bulan sering terjadi. Ayo nurut sama Mas."


Hari masih sore saat Shaka dan Nimas keluar dari pekarangan rumahnya. Mereka hanya pergi dengan supir, sementara Bu Marissa akan menyusul mereka nanti saat Nimas sudah di pastikan akan melahirkan atau tidak.


"Kok makin sakit, Mas. Kayaknya iya aku mau melahirkan. Sakit banget."


"Iya aku tahu sakit, tahan Sayang. Kamu bisa kok. Atur nafas, ya. Rileks, jangan tegang. Jangan dirasain sakitnya."


"Sakitnya terasa, Mas. Gimana ceritanya aku nggak boleh rasain sakitnya?" rengek Nimas sedikit ngegas.


"Ya maksud Mas, alihkan sakitnya ke hal.... " Ucapan Shaka terhenti karena melihat darah yang tiba-tiba keluar menodai dress yang dikenakan istrinya.


"Iya, nanti kalau sampai sana operasi aja, ya biar nggak lama-lama sakitnya."


"Nggak mau, aku kata dokter masih bisa melahirkan normal, aku nggak mau operasi. Kalau kamu nggak mau dengar aku ngeluh, ya udah turun aja sana. Biar aku sama supir aja ke rumah sakitnya. Udah sana turun kamu." Ujaran Nimas sungguh tidak sejalan dengan tindakannya. Dimulut ia menusir suaminya, tapi tindakannya justru sebaliknya. Ia memeluk erat Shaka karena sakit di perut kembali datang dengan hebatnya.


"Istigfar Sayang. Jangan ngomel terus, semakin kamu rasakan, sakitnya akan semakin terasa. Bayangin yang indah-indah aja, sebentar lagi kita akan bertemu dengan anak kita. Jangan fokus pada sakitnya."


"Mana bisa bayangin yang indah-indah kalau rasanya kontraksi begini. Kalau semua perempuan bisa mengalihkan pikirannya seperti itu tidak akan ada yang teriak-teriak dan menangis saat melahirkan. Lagian aku nggak ngomel, Mas. Aku cuman bilang kalau ini sakit. Kamu, aku jelasin kayak apa juga kamu nggak akan pernah ngerti rasanya jadi aku."


"Nah itu kamu tahu Mas nggak akan ngerti rasanya jadi kamu. Kenapa kamu masih jelasin? Mas tahu kamu kesakitan meskipun Mas nggak tahu rasanya. Kamu cukup genggam tangan Mas kuat-kuat kalau kontraksi itu datang. Badan Mas juga siap kamu dekap sekuat apa pun. Kamu cakar, garuk, jambak atau apa pun nggak apa-apa, Sayang. Dengan kamu kasih kode itu aja, Mas tahu kalau kamu laii kesakitan."


"Jangan panggil aku Sayang, aku bukan Raisa."

__ADS_1


Disaat genting seperti ini, bisa-bisanya Nimas teringat dengan panggilan sayang yang disematkan suaminya pada mantan kekasihnya itu. Dengan gerakan lambat Shaka menepuk jidatnya pelan. Entah apa yang terjadi dengan istrinya, tapi yang jelas, kehamilan kedua ini memang benar-benar membawa perubahan di diri Nimas menjadi sangat banyak bicara, bawel, dan cerewet. Jika dahulu cerewetnya masih dalam batas normal, kali ini celotehannya itu sudah melewati garis normal versi Nimas.


Shaka tak lagi banyak bicara. Ia waras dan sadar harus diam karena jika meledeni istrinya, ia takut malah akan jadi panjang. Meskipun sejak tadi perdebatan sengit terjadi, Shaka masih setia dan telaten mengusap pinggul Nimas agar menimbulkan rasa nyaman meskipun tidak mengurangu rasa sakitnya. Setidaknya dengan elusan ini bisa menjadi penambah kekuatan untuk istrinya.


"Sakit, Mas tolong katakan pada susternya untuk lebih cepat dorong ranjangnya ke ruangan. Aku nggak kuat." Nimas mencengkam kuat kerah kaos yang dipakai Shaka hingga kerah tersebut tidak berbentuk.


"Maafkan istri saya, ya Sus. Sepertinya kehamilan ini membuat istri saya lebih cape dibandingkan dengan kehamilan pertamanya. Saya mohon untuk dimaklumi jika dia terus bicara sepanjang perjalanan ke ruangan dan saat menunggu waktu saat bukannya sudah lengkap."


Kata-kata dari Shaka masuk ke dalam telinga Nimas dengan sempurna. Ia tidak tahu betapa kesalnya istrinya itu, namun ia lebih memilih diam. Ia akan simpan tenaga untuk melahirkan dan akan memberikan pelajaran saat kedua anaknya susah keluar.


Saat akan memasuki ruangan perjalanan, tak sengaja mereka bertemu dengan wanita yang sempat menghiasi hari dan hidup Shaka. Siapa lagi jika bukan Raisa. Wanita itu berada di rumah sakit yang sama dengan seoranh pria dan juga seorang balita yang berada di gendongan pria yang bisa ditebak bahwa ia adalah suami Raisa. Dilihat dari wajah anak itu yang mirip dengan si pria dan juga perut Raisa yang seperti sedang hamil anak keduanya.


"Shaka, kamu di sini?"


"Ah, iya. Suamimu?" Shaka menunjuk pria yang berdiri di samping Raisa.


Emgah bagaimana ceritanya Shaka malah menghentikan langkahnya menuju ruang persalinan. Hal itu seperti refleksnya saja yang tidak ia sadari. Dan hal itu membuat Nimas masuk ruangan persalinan seorang diri.


"Iya. Dia suamiku. Apa tadi Nimas? Istrimu mau melahirkan?"


Mendengar pertanyaan dari Raisa membuat mata Shaka seketika membelalak.


Nimas? Melahirkan? Astaga. Sepertinya dia sudah dibawa ke ruangan. Mampus Shaka mampus. Habis sudah nasibmu.


"Iya. Kenapa aku malah berhenti di sini? Aku permisi."

__ADS_1


__ADS_2