Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
95. Celaka


__ADS_3

Malam harinya, Nimas dan Shaka sudah berada di restoran. Tepat pukul tujuh mereka sudah menjamu para tamu dengan hidangan yang khusus mereka pesan sebelum Bu Marissa datang. Sengaja anggota keluarga mengundang para teman Bu Marissa untuk datang sedikit lebih awal untuk membuat Bu Marissa terkejut ketika sampai di lokasi.


Perayaan yang seharusnya dilakukan besok malam itu sengaja dipercepat oleh Pak Malik dan Shaka karena besok seharian mereka kemungkinan tidak akan bisa merayakannya karena ada urusan bisnis yang mengharuskan Pak Malik juga turut hadir sebagai pemegang perusahaan inti yang sudah ada berbagai cabang di beberapa kota besar.


Tak berselang lama dari kedatangan beberapa teman Bu Marissa, wanita itu nampak datang dengan mendorong kursi roda suaminya. Pak Malik hanya mengatakan makan malam bersama seperti biasa saat ada perayaan, jadi tidak ada kecurigaan sama sekali di hari Bu Marissa bahwa hari ini beliau akan mendapatkan kejutan dari keluarganya.


"Surprise."


Anak menantunya beserta teman-teman sosialita yang sudah berkumpul di tempat serempak berteriak. Tentu saja hao itu mengejutkan Bu Marissa. Wanita itu menatap seluruh orang yang berada dalam ruangan yang ada beberapa temn terdekat dan juga anak menantunya.


Momen ini adalah momen yahh sangat jarang Pak Malik berikan. Hanya beberapa kali saja setelah mereka menikah Bu Marissa diberi kejutan dengan mengundang teman-temannya ketika berulang tahun. Karena selebihnya mereka terbiasa dengan merayakannya berdua, entah itu liburan atahu hanya sekedar dinner biasa.


"Selamat ulang tahun, Ma. Saya dan Mas Shaka berharap Mama diberi panjang ukur dalam keberkahan, diberi kesehatan yang panjang dan barokah, dan apa pun doa yang selama ini Mama panjatkan segera diijabah. Aamiin. Ini saya ada sesuatu buat Mama. Mudahan-mudahan bermanfaat."


Nimas memeluk dan mencium pipi wanita yang sudah ia anggap seperti Ibu sendiri. Meskipun pernah bersiteru dan sempat terdzolimi, Nimas menganggap semua itu hanya ujian dan sudah melupakannya.


Bu Marissa sedikit berkaca-kaca mendengar lantunan ucapan yang dilempar oleh menantunya. Hanya ucapan terima kasih yang bisa keluar dari mulut wanita itu.


Dia yang terbaik juga beliau dengar dari suami dan semua teman yang berada di sana. Berbagai hadiah akhirnya tertumpuk di satu meja yang sama. Dan cra pun berlanjut seperti acara ulang tahun pada umumnya. Makan-makan dan bertengkar bersama.


Harapanku hanya satu, aku ingin cucu dari Shaka. Mudah-mudahan Tuhan masih memberikan kesempatan untukku tetap bernafas hingga aku bisa melihat cucu-cucuku hadir dan tumbuh di bawah asuhan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Di tengah keramaian dan juga kehangatan kebersamaan semua orang yang berada di restoran tersebut ada satu doa yang terselip di hati Bu Marissa yang paling dalam.


"Kamu cantik banget hari ini." Shaka berucap dengan berbisik tentu saja.


"Jadi biasanya aku jelek?"


"Nggak gitu maksudnya, cantiknya kamu beda aja. Emang kamu kayak beda aja aku lihat beberapa hari terakhir. Mas cari-cari yang beda apa, tapi kok nggak nemu-nemu."


"Jangan gombal kamu, Mas. Nggak pernah gombal, terus aku yang gini itu rasanya kayak lucu aja."


"Tapi kamu suka."


"Nggak ada yang nggak suka kalau dibilang cantik kecuali laki-laki."


"Papa ke kamar sendiri dulu, ya. Mama kebelet dari tadi di jalan. Mama ke kamar mandi dulu."


Bu Marissa yang sejak di mobil tadi menahan ingin buang air kecil berlari menuju kamar mandi yang tak jauh dari dapur. Saking tak bisa ditahan, beliau sampai berlari-lari kecil seakan beliau melupakan bahwa beliau sedang memakai sepatu yang memiliki hak tinggi.


Nimas yang berjalan belakangan hanya melihat Ibu mertuanya itu berlari. Ia mampir ke dapur untuk mengambil air minum. Sementara Shaka sudah berada di lantai atas menidurkan Bryan yang tertidur di jalan. Sejurus kemudian, Bu Marisa nampak tidak seimbang dengan jalan cepatnya. Hingga kainya pun tak bisa menyeimbangkan tubuhnya.


"Mama."

__ADS_1


Satu-satunya manusia yang berada tak jauh dari Bu Marissa berusaha untuk menangkap tubuh beliau agar tak terjatuh ke lantai. Diusia yang sudah lebih dari lima puluh tahun tidak baik bagi kesehatannya jika sampai terjatuh ke lantai.


Nimas berhasil menggagalkan tubuh Bu Marissa terbentur lantai. Tangkapan kedua tangannya berhasil dengan tepat menangkap tubuh wanita itu, namun sayangnya justru dirinya yang terjatuh ke lantai dengan posisi terduduk yang kemudian disusul jatuhnya Bu Marisa ke tubuhnya.


"Ah. Sakit, Mama sakit!"


Posisi Nimas yang terduduk dengan keras nampaknya membuat wanita itu kesakitan, tapi bukan pada bagian punggungnya. Nimas kesakitan seraya memegang perutnya dan tak lama kemudian keluar darah segar mengalir dari daerah intimnya.


Teriakan Nimas semakin keras ketika melihat cairan merah itu mengalir dari bagian tubuhnya. Bu Marisa pun mendadak linglung, beliau seperti bingung hendak melakukan apa, rasanya berteriak pun tenggorokannya tercekat. Untuk melakukan sesuatu pun rasanya beliau tidak tahu harus melakukan apa saking terkejutnya.


"Ah Mama sakit. Mas Shaka tolong, Mas!"


Kedua pria di rumah itu yang semula sudah berada di kamar sama-sama mencuat ke arah sumber teriakan. Pak Malik dan Shaka tiba di dapur dalam waktu bersamaan.


"Mas perut aku sakit, Mas. Darah Mas darah!" Nimas masih histeris seraya menunjuk darah yang berada di kakinya.


"Ma, Pa. Aku nitip Bryan." Shaka lalu mengangkat tubuh Nimas yang kakinyabisdha berlumuran darah. Sementara Nimas tak henti-hentinya meraug mengeluh sakit pada suaminya.


Hanya perlu satu kali teriakan, supir keluarga yang sudah puluhan tahun bekerja dengan Pak Malik itu seketika melompat dari tempat istirahatnya dan berlari menuju garasi.


"Mas perutku kenapa Mas? Kenapa rasanya sakit sekali?" Nimas bertanya saat kepalanya sudah berada di pangkuan sang suami.

__ADS_1


"Udah jangan banyak bicara dulu, ya. Nggak akan terjadi apa-apa sama kamu. Tahan sebentar, kamu kuat."


Shaka yang sebenarnya juga panik hanya mampu memberikan kalimat penenang. Matanya sejak tadi bergantian menatap wajah dan kaki istrinya yang berlumuran darah. Entah kenapa perasaannya menjadi semakin tak karuan.


__ADS_2