Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
37. Cemburu


__ADS_3

"Kenapa mendadak sekali, Shaka? Dan lagian Nimas harus bedrest kenapa malah diajak perjalanan jauh?" Bu Marissa yang bertanya.


"Aku udah konsultasi, nggak masalah asal nggak pendarahan setelah dia bedrest. Seminggu ini, kan dia nggak ada pendarahan. Lagian juga aku udah modif jok belakang jadi tempat tidur. Nimas tinggal tidur kalau cape. Perjalanan dari sini ke rumah Nimas juga paling lama sejam setengah." Shaka menjelaskan panjang lebar agar tidak disangkal lagi oleh ibunya.


Bu Marissa diam seketika, beliau berpikir dalam hati. Nimas tidak boleh pergi dari sini sebelum beliau menuntaskan apa yang harus dituntaskan. Tapi bagaimana caranya? Itulah yang jadi pikiran Bu Marissa saat ini.


Tapi tunggu, kalau Nimas dan Shaka berjauhan, aku bisa merusak pernikahan mereka dengan mudah. Ya, lebih baik itu saja yang aku pikirkan. Aku harus mencari cara untuk membuat mereka tidak akur atau saling membenci.


"Ya udah kalau itu mau kalian. Mama bisa apa?"


Selesai mereka semua sarapan, saatnya Shaka membawa semua barang yang akan dibawa ke kampung. Tidak banyak, karena rencananya Shaka hanya akan membiarkan Nimas di sana satu bulan saja. Karena setelah itu Nimas bisa beraktivitas seperti biasa. Jika Nimas sudah bisa memulai kegiatan seperti orang normal, setidaknya ia bisa menjaga dirinya sendiri. Begitu kira-kira pikir Shaka.


"Nimas, saya nggak punya nomer kamu, boleh minta? Biar bisa saling beri kabar."


"Boleh, Ma."


Nimas terlalu polos untuk mencurigai seseorang berniat jahat padanya.


Pukul sepuluh pagi mereka berangkat. Hari yang cerah, Shaka berharap hari-hari berikutnya juga akan cerah untuk dirinya sendiri dan juga Nimas. Rasa lega bersarang di hatinya ketika mobilnya keluar dari pekarangan rumah. Keluar dari rumahnya itu sama saja membawa Nimas pergi ke tempat aman dan keluar dari bahaya.


"Nimas..."


"Kamu kalau mau sesuatu bilang, ya. Kalau cape duduk juga bilang," potong Nimas cepat.


Shaka tertawa mendengar ucapan istrinya. Setiap hari mendengar pesan yang sama sepertinya wanita itu sudah hafal.


"Nggak perlu dibilang setiap hari, Mas. Kayak anak SD aja."


"Iya, iya. Gitu aja ngambek kamu."

__ADS_1


Perjalanan mereka hanya dihiasi dengan keheningan, hanya sesekali saja mereka berbincang karena Nimas yang terbiasa menghabiskan hari dengan tidur membuatnya tertidur di sepanjang perjalanan.


Shaka hanya bisa sesekali memandang mesra pada istrinya, membenarkan letak anak rambut yang menghalangi wajahnya. Shaka seperti dihipnotis oleh istrinya sendiri. Wanita yang dinikahi beberapa minggu yang lalu sepertinya sudah berhasil mencuri hati dan pikirannya. Cepat sekali bukan? Inikah yang dinamakan pesona istri titipan dari sang Kakak? Ah Bryan, laki-laki yang kaku dan dingin itu rupanya meninggalkan seorang wanita yang memiliki pesona luar biasa baginya.


Ah, pintar juga Kak Bryan cari calon istri.


Tinggal beberapa kilometer lagi mereka sudah sampai di rumah. Nimas terbangun karena dirinya merasa lapar. Sudah jam sebelas lebih, akhirnya Shaka memutar setirnya ke rumah makan yang bernuansa kekeluargaan. Karena selain menjual menu makanan, di restoran itu juga tersedia permainan anak-anak, kolam ikan, dan taman kecil yang dihiasi berbagai macam bunga.


"Aku jalan aja, Mas. Kan jaraknya juga dekat, masa pakai kursi roda?"


"Nggak!"


Shaka dengan tegas menolak permintaan Nimas. Dengan telaten pria itu membawa Nimas ke gendongannya dan meletakkannya dengan pelan. Tentu saja apa yang dilakukan oleh pria itu menjadi pusat perhatian oleh pengunjung restoran.


Di tengah jalan, Shaka terpaksa menghentikan jalannya karena ponsel di sakunya bergetar-getar. Pegangan tangannya masih berada pada kursi roda meski fokusnya terbagi menjadi dua.


Selama Shaka fokus dengan teleponnya, ada beberapa pria yang sedang memperhatikan Nimas dengan intens. Wanita itu sadar diperhatikan, ia menjadi tidak nyaman dan beberapa kali menggerakkan tubuhnya. Beberapa kali juga ia mendongak ke arah Shaka, seakan memberikan kode pada suaminya agar segera berjalan.


Entah kenapa hatinya kesal melihat hal itu. Ia segera kembali melanjutkan langkah dan mencari tempat duduk yang jauh dari para laki-laki.


"Siapa yang telepon tadi?" tanya Nimas begitu sudah memilih meja.


"Sekretaris."


Shaka menjawab apa adanya, ia sedang melirik sekeliling yang mengarahkan pandangan pada Nimas. Sebenarnya ada apa dengan wanita ini sampai mendapatkan perhatian dari kaum buaya? Batin Shaka kesal.


"Lepas bandonya!" kata Shaka tiba-tiba.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Lepas aku bilang. Jangan pakai ini kalau lagi keluar. Kamu terlihat kayak anak kecil kalau pakai ini." Shaka melepas bando yang terbuat dari kain itu.


Aksesoris ini terlihat lucu, apalagi jika Nimas yang memakainya. Tinggi badan yang tak seberapa, kulit yang mulus tanpa cacat meski tidak seputih wanita umumnya, pipinya yang gemuk dan bentuk tubuh yang bagus bisa jadi daya tarik tersendiri bagi mereka kaum jelalatan.


Pakai kursi roda saja banyak yang melirik, gimana kalau jalan?


"Kok dilepas, Mas? Jadi berantakan," protes Nimas.


"Nurut sama suami." Shaka sengaja sedikit berteriak saat menyebut suami. Sengaja ia lakukan agar laki-laki yang diam-diam memperhatikan istrinya sadar dan tidak lagi curi-curi pandang.


Nimas yang tak peka hanya diam dengan kebingungan. Merasa tak perlu dipikirkan, Nimas segera makan makanan yang baru saja datang.


Cuaca yang panas membuat Nimas sedikit kegerahan dengan rambut panjangnya. Merasa perlu udara yang harus menghembus bebas ke lehernya, membuat wanita itu menggulung asal rambutnya.


Shaka hanya diam, tapi memperhatikan setiap gerak gerik Nimas. Wanita itu ternyata tambah cantik dan seksi dengan memperlihatkan lehernya yang jenjang. Sadar dengan itu, mata Shaka kembali awas memperhatikan sekitar.


"Lepas rambutnya, leher kamu kelihatan. Diliat banyak orang," ujar Shaka sedikit kesal.


"Aku gerah," keluh Nimas.


"Nanti aja di mobil boleh digituin. Lepas dulu sekarang, kita habiskan ini cepat-cepat." Shaka kembali merusak tatanan rambut yang sudah tergulung asal itu.


Nimas semakin bingung, namun ia lebih memilih untuk diam tanpa banyak bertanya. Ia segera menghabiskan makanan di depannya dan menenggak es buah pesanannya hingga tak bersisa.


Selesai makan, Shaka segera membawa istrinya dari sana. Nimas masih diam, ia tak punya nyali untuk bertanya kenapa suasana hati Shaka berubah menjadi kesal begitu.


"Lain kali jangan pakai bando lagi kalau ke mana-mana. Udah polosan aja rambutnya, jangan diliatin juga lehernya. Nanti banyak yang lihat, kayak gitu di rumah aja. Dan hanya aku yang boleh lihat."


Nimas seperti mengerti apa yang dimaksud Shaka. Namun, logikanya tiba-tiba menyangkal.

__ADS_1


Tidak mungkin dia cemburu, cemburu hanya dirasakan oleh seseorang yang memiliki rasa lebih terhadap seseorang.


__ADS_2