Pesona Istri Titipan

Pesona Istri Titipan
64. Melahirkan


__ADS_3

Di tengah malam, Nimas terbangun karena merasa ingin buang air kecil. Akhir-akhir ini ia memang sering terbangun di tengah malam hanya untuk ke kamar mandi dan itu terjadi beberapa kali. Ia sampai kesal sendiri karena harus berkali-kali bangun di tengah malam.


Saat berada di kamar mandi Nimas merasa ada sesuatu yang keluar begitu saja dari jalan lahirnya. Padahal ia sudah selesai membuang apa yang seharusnya sudah dibuang, namun dressnya kembali basah karena cairan seperti air keluar secara tiba-tiba dan berjumlah banyak.


Nimas meraba kakinya bagian atas lalu mencium cairan yang menempel di tangannya, barangkali berbau atau mungkin tanpa sadar ia kembali buang air kecil.


"Nggak ada baunya, apa dong ini yang keluar?" gumamnya sendirian.


Numas akhirnya berpikir bawah ini lumrah terjadi pada wanita hamil tua. Akhirnya ia kembali ke kamar dan berganti pakaian. Ia santai saja karena ia tidak merasakan apa pun pada perutnya. Entah sakit, mules, kram, nyeri atau apapun. Perutnya terasa biasa saja. Itulah sebabnya ia berpikir bahwa itu memang terjadi pada wanita yang sudah hamil besar. Ia mengganti pakaian dengan pelan agar tidak membangunkan Shaka yang sedang pulas.


Baru saja Nimas meletakkan dirinya di kasur, pakaian yang baru saja ia ganti kembali basah karena cairan tersebut kembali keluar dan kali ini cairan tersebut keluar lebih banyak. Hal tersebut membuat Nimas khawatir pada kandungannya.


"Mas, Mas bangun! Mas Shaka!" Nimas menggoyang-goyangkan tubuh suaminya seraya memanggil dengan sedikit panik.


Shaka yang merasa dibangunkan kalau istrinya seketika duduk. Pasalnya pria itu tidak pernah dibangunkan tengah malam oleh istrinya selama menikah.


"Kenapa, Dek? Kamu butuh sesuatu?" tanya Shaka yang memaksa dirinya untuk fokus dengan keadaan.


"Mas ini ada yang keluar, aku nggak tahu ini cairan apa. Cairannya kayak air, tapi dari tadi keluar terus."


"Cairan?" ulang Shaka yang melihat lantainya sudah basah. "Astaga, Dek. Apa ini air ketuban? Apa perutmu sakit?" Imbuhnya dengan terkejut seraya memegangi perut istrinya karena saking paniknya.


"Enggak.Perut aku nggak sakit, Mas. Cuman dari tadi keluar ini terus, aku nggak tahu ini apa."


"Ya udah kita ke rumah sakit aja, daripada nanti kamu kenapa-napa. Aku siapin mobil dulu kamu ganti baju."

__ADS_1


Shaka berlari keluar kamar, ia dengan tergesa-gesa mengeluarkan mobil dari garasi dan memarkirkannya di depan rumah. Ia kembali masuk setelah itu. Ia melihat Nimas yang berjalan dengan santainya seraya menenteng tas yang sudah ia persiapkan untuk ia bawa ke rumah sakit saat melahirkan.


"Kamu Ngapain, sih? Ngapain angkat beginian. Kamu tahu ini berat, masih diangkat juga," omel Shaka seraya merebut tas dari tangan istrinya. "Duduk diam di sini, aku letak ini di mobil."


"Aku bisa jalan sendiri, Mas. Aku nggak apa-apa perut aku nggak sakit."


"Terus kenapa kamu bawa tas untuk melahirkan? Kita, kan cuman periksa ke dokter. Kita nggak tahu kamu melahirkan sekarang apa enggak. Perkiraan kamu melahirkan, kan masih beberapa minggu lagi, Dek."


"Buat jaga-jaga aja, Mas. Siapa tahu nanti aku disuruh nginep sana atau aku melahirkan sekarang. Kita, kan nggak tahu, kita sama-sama nggak punya pengalaman. Dokter, kan juga pernah bilang kalau melahirkan itu nggak selalu tepat pada tanggalnya. Kadang maju, kadang juga mundur. Daripada nanti kamu bolak-balik kan mending kita bawa aja sekalian. Ya udah ayo kita jalan!" Kata Nimas dengan santainya, sementara yang diajak bicara malah panik setengah mati.


"Siapa yang suruh jalan, duduk!"


"Aku bisa..."


"Duduk!" potong Shaka cepat.


"Berat, kan? Udah dibilang aku bisa jalan sendiri."


"Nggak apa-apa, demi kamu apa sih yang nggak?" Shaka masih Sempat-semapatnya merayu di saat dirinya sendiri sedang merasa panik.


Shaka melesatkan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Saat itu ia hanya berpikir bahwa ia harus segera sampai di rumah sakit. Tanpa tahu bahwa Nimas sedang merasa ketakutan.


Tiba-tiba ingatan Nimas kembali pada beberapa waktu lalu. Ia teringat bahwa Bryan juga mengalami kecelakaan saat berada di jalanan. Rasa takut dan cemasnya tiba-tiba menyeruak ke seluruh sel-sel dalam tubuhnya. Keringat dingin mulai membasahi keningnya.


"Mas aku takut. Aku mohon pelanlah, sungguh aku tidak merasakan sakit di perutku. Justru aku sangat takut kalau kamu ngebut begini."

__ADS_1


Shaka seketika mengurangi kecepatan laju mobilnya. Melihat wajah istrinya yang berkeringat membuat ia merasa bersalah seketika.


"Maaf, aku hanya ingin kita cepat sampai. Aku nggak tahu kalau kamu takut, maaf."


Shaka lalu meraih tangan istrinya, ia bermaksud untuk memberikan sentuhan agar rasa takut istrinya itu sedikit berkurang. Namun, yang ia rasa justru tangan istrinya sangat dingin.


"Kamu kedinginan?"


"Nggak, nggak apa-apa. Aku hanya ketakutan."


Shaka yang juga hanya memakai pakaian tidur, hanya bisa memberikan kehangatan melalui genggaman tangannya. Mengelus-elus tangannya dengan ibu jarinya. Dan tindakan Shaka sukses membuat Nimas merasa nyaman.


Taka berselang lama, mereka sampai di rumah sakit. Nimas segera di bawa ek UGD untuk melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Begiti di periksa oleh suster di sana, rupanya ia sudah akan melahirkan, karena jalan lahir sudah terbuka.


Tentu saja itu membuat keduanya merasa terkejut, terlebih lagi Nimas. Perkiraan lahir yang maju beberapa minggu dari perkiraan dokter. Setelah mendapat pemeriksaaan, Nimas akhirnya dibawa ke ruang bersalin.


"Mas, masih buka dua. Dan aku belum merasakan apa pun. Perut aku nggak sakit, kamu jemput Ayah dan Ibu, Mas."


"Tapi, Dek. Mana mungkin aku tinggalin kamu sendirian? Aku jemput mereka pas anaknya udah lahir aja, ya," tawar Shaka.


"Mas, aku butuh doa Ibu juga buat ini. Setidaknya kalau aku nggak busainya maaf sama Mama, aku mau minta maaf sama kedua orang tuaku. Aku juga mau kelahiran anak ini juga lancar. Biar bagaimanapun anak ini hadir karena salah...."


"Iya, aku jemput mereka. Jangan bicarakan hal yang kamu sendiri sakit jika mendengarnya. Aku akan kembali dengan cepat." Shaka akhirnya mau tak mau mengabulkan keinginan sang istri. Dari pada wanita itu berpikir yang tidak-tidak dan membuat hatinya tak tenang, ia melesatkan dirinya ke rumah kedua mertuanya.


"Sus, saya pergi dulu, ya. Tolong istri saya jangan ditinggal," pesannya pada suster yang jaga di ruangan istrinya.

__ADS_1


"Aku pergi dulu, ya." Shaka mengecup kening sang istri. Kemudian kepalanya turun ke perut istrinya.


"Jagoan Ayah jangan buat Bunda sakit perutnya, ya. Nanti aja lahirnya pas Ayah udah datang, ya. Bunda takut sendirian." Shaka melakukan hal yang sama seperti kening Nimas tadi.


__ADS_2